Senin, 20 Juni 2011

Kendi gayo

KENDI GAYO

Oleh: Ansar Salihin

BAB I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kerajinan merupakan salah satu bagian kebudayaan yang menjadi kebutuhan manusia yang sangat penting dalam kehidupannya. Kehidupan dalam berumah tangga tidak pernah terlepas dari kerajinan, karena kerajinan merupakan bagian dari kehidupan berumah tangga. Pada dasarnya setiap daerah mempunyai kerajinan tersendiri, dimana kerajinan tersebut sudah ada sejak nenek moyang terdahulu dan sebagian masih ada dilestarikan dan dikembangkan sampai sekarang ini. (http://ansar-senibudaya. blogspot.com. Diakses 30 April 2011)
Gayo merupakan salah satu suku yang terdapat di Indonesia yang letaknya di Provinsi Aceh. Terdiri dari beberapa kabupaten, diantaranya Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues, dan ada juga sebagian di Kota Cane. pada dasarnya kerajinan yang terdapat di daerah Gayo sangatlah banyak seperti kerajinan bordir kerawang, kerajinan anyaman tikar, kerajinan kendi, dan kerajinan lainnya ( Hakim, 1998: 4)
Kendi Gayo adalah salah satu peralatan rumah tangga masyarakat Gayo yang terbuat dari campuran tanah liat dan pasir. Kendi ini berfungsi sebagai wadah untuk menampung air minum yang biasa diambil dari sumber mata air di gunung untuk dibawa dan disimpan di rumah.
B. Tujuan dan Manfaat

 Untuk memahai kerajinan Tradisional yang masih berkembang sampai sekarang
 Mengkaji dan Membudayakan kerajinan Gayo
 Dapat menerapkan kerajinan tradidional kepada karya seni kriya yang berkembang

C. Batasan Masalah
Pada dasarnya kerajinan di daerah Gayo sangatlah banyak akan tetapi dalam makalah ini hanya di bahas satu kerajinan saja yaitu kerajinan kendi Gayo
BAB II. PEMBASAN
A. ASAL-USUL KENDI GAYO
Menurut sejarahnya, kendi pertama kali dikenal di India yaitu sejak tahun 2000 SM. Kata kendi berasal dari bahasa Sanskrit India “kundika” yang berarti wadah air minum. Dalam ikonografi Hindu, kundika merupakan atribut dari Dewa Brahma dan Dewa Siwa, sedangkan dalam ajaram Budha kundika merupakan “Awalokisteswara” dan dianggap sebagai salah satu dari delapan belas wadah suci yang dibawa oleh Pendeta Buddha dalam perjalanannya mencari kitab suci (A. Hamid Rasyid, 2001:3).
Di Indonesia, kendi secara khusus sebagai wadah air telah dikenal sejak abad ke-9 M. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya bentuk-bentuk kendi pada relief-relief Candi Borobudur yang dibangun sekitar 824 M., khususnya yang terlihat pada serambi Kamadathu (Waluyono, 2010). Bukti ini diperkuat dengan hasil temuan para arkeolog yaitu beragam kendi di sekitar Candi Borobodur. Menurut para arkeolog, kendi-kendi tersebut digunakan sebagai sarana ibadah oleh umat Budha pada masa lalu. Selain itu, benda gerabah tersebut juga digunakan pada acara Nadran sebagai wadah air untuk menyiram si mayit sebagai simbolisasi penyejuk (Rasyid, 2001:3-4).
Sementara itu, menurut J. Kreemer, seorang peneliti Belanda, sebagaimana dikutip oleh Rasyid, (2001:4), kendi atau yang sekarang dikenal dengan Kendi Gayo baru dikenal oleh masyarakat Gayo pada abad ke-16 M, yaitu ketika Aceh masih merupakan kerajaan Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bentuk dan ragam hias Kendi Gayo banyak dipengaruhi oleh kendi logam dari Timur Tengah. Hal ini dapat dilihat pada bentuknya yaitu hanya mempunyai dua lubang pada bagian atasnya dan cara mengisinya melalui salah satu lubang tersebut. Demikian pula ragam hias yang digunakan yaitu menggunakan desain geometris yang digores halus pada bagian dinding luarnya dengan warna kelabu tua kehitam-hitaman.
Kendi Gayo sebagai hasil kerajinan tangan kaum perempuan masyarakat Gayo dibedakan menjadi empat macam bentuk yang disesuaikan dengan jenis kelamin pemakainya. Masing-masing bentuk memiliki ciri serta fungsi yang berbeda, misalnya Kendi Rawan yang berkaki tinggi dan melebar ke bawah dipakai oleh kaum laki-laki, Kendi Banan yang berbentuk bulat tanpa kaki dipakai kaum perempuan, Kendi Labu yang bentuknya mirip buah labu dipakai oleh sesepuh perempuan, serta Kendi Ganyong yang juga bentuknya mirip buah labu dengan ukuran lebih kecil dipakai oleh anak-anak (Rasyid, 2001:4). Namun secara umum, kegunaan utama kendi bagi masyarakat Gayo adalah sebagai wadah air minum.
B. BAHAN DAN PERALATAN
Bahan baku pembuatan Kendi Gayo terdiri dari dua macam yaitu dah (tanah liat) dan kresik (sejenis pasir yang halus dan berwarna hitam). Pasir ini dipilih karena dapat menimbulkan warna hitam pada kendi yang dihasilkan. Adapun peralatan yang dipergunakan para perajin untuk membuat Kendi Gayo menurut Rasyid, (2001:8-9) adalah sebagai berikut:
• Pelandas, yaitu batu yang permukaannya rata untuk digunakan sebagai landasan adonan tanah liat dan pasir pada proses pembentukan kendi.
• Batu penggilas, yaitu batu berbentuk bulat panjang yang digunakan untuk memipihkan adonan tanah liat dan pasir di atas pelandas.
• Wat atau papan penggebuk, yaitu papan berukuran kecil yang digunakan untuk memukul-mukul bagian luar dinding kendi pada saat pembulatan.
• Atu lenesan atau batu bulat, yaitu digunakan untuk melapisi bagian dalam bakal kendi atau sebagai penahan pada saat kendi tersebut dipukul-pukul.
• Sendok makan, yaitu digunakan untuk mengorek bagian dalam bakal kendi yang menonjol.
• Batu pipih, yaitu batu yang tipis dan licin untuk melincinkan bagian luar bakal kendi.
• Munuk atau pisau, yaitu digunakan untuk meratakan bagian-bagian bakal kendi yang menonjol
• Bulu landak, yaitu digunakan untuk membuat lubang pada bagian-bagian tertentu bakal kendi.
• Mata uang logam, pecahan piring, lidi, dan rader baju, yaitu digunakan untuk membuat ragam hias dengan cara menggoreskannya pada permukaan dinding bakal kendi.
C. BENTUK DAN FUNGSI KENDI GAYO
Pada umumnya kendi yang terdapat di daerah gayo terbagi atas empat macam kendi, dimana keempat kendi tersebut fingsi penggunaannya juga masing-masing. Kendi tersebut diantaranya adalah:
1. Kendi Rawan
Kendi ini berbentuk tinggi langsing, bagian badannya berbentuk seperti labu, dan kakinya berbentuk lingkaran dengan dasar rata. Bagian lehernya yang cukup tinggi dan menyatu dengan penutupnya berfungsi untuk pegangan. Pada bagian penutupnya terdapat beberapa lubang yang berfungsi sebagai jalan untuk memasukkan air ke dalamnya. Sementara pada bagian puncak penutupnya terdapat tonjolan berbentuk kerucut. Kendi ini memiliki corong atau tangkai yang berbentuk silinder dengan ujung mengembung dan bibir corongnya berbentuk melebar. Pada umumnya, hiasan yang digunakan Kendi Rawan adalah motif geometris (garis-garis segitiga dan titik-titik) dengan teknik gores.

2. Kendi Banan
Bentuk Kendi Banan lebih mirip dengan Kendi Rawan. Perbedaannya hanya terletak pada bagian dasar dan bentuk corongnya. Pada bagian dasar Kendi Rawan terdapat kaki berbentuk lingkaran, sedangkan pada Kendi Banan bagian dasarnya berbentuk cembung dan agak lebar sekaligus sebagai perut yang berfungsi untuk menampung air. Dari segi bentuk corong, Kendi Banan memiliki corong yang berbentuk silinder. Adapun hiasan yang biasa digunakan pada Kendi Banan adalah motif geometris dan bunga dengan teknik gores.
Kedua kendi tersebut di atas memiliki nilai sakral yang tinggi dalam upacara adat masyarakat Gayo. Keduanya kerap digunakan sebagai salah satu perangkat di antara benda-benda sakral lainnya sebagai barang bawaan dari mempelai perempuan kepada mempelai laki-laki dalam upacara perkawinan maupun upacara tempah, yaitu upacara memisahkan pengantin perempuan dari orang tuanya untuk bergabung dengan keluarga suaminya.
3. Kendi Labu
Dinamakan Kendi Labu karena bentuknya mirip buah labu. Sejak dulu, buah labu sering menjadi inspirasi penciptaan bagi para perajin gerabah. Hal ini dimungkinkan karena buah labu yang sudah dikeringkan merupakan salah satu wadah air yang pertama-tama digunakan sebelum orang memakai gerabah (Waluyono, 2010). Demikian pula perajin gerabah di Gayo diduga meniru bentuk buah labu tersebut untuk menciptakan Kendi Labu sebagai wadah air minum.
Dari segi bentuk, bagian dasar Kendi Labu berbentuk cembung, namun sedikit lebih gepeng daripada Kendi Banan. Bagian leher kendi ini agak tinggi yaitu berfungsi sebagai tempat pegangan. Sementara itu, bagian bawah kendi berbentuk menggembung.
Berbeda dari kedua jenis kendi yang disebutkan di atas, Kendi Labu tidak memiliki corong atau tangkai dan bibirnya berada di ujung atas leher dengan bentuk melebar. Bibir kendi ini berfungsi sebagai jalan untuk memasukkan air ke dalam kendi sekaligus sebagai tempat untuk minum. Ragam hias kendi ini juga mengunakan motif geometris dengan teknik gores. Menurut fungsinya, kendi ini digunakan sebagai tempat air minum bagi sesepuh perempuan pada upacara adat perkawinan masyarakat Gayo.

4. Kendi Ganyong
Kendi ini juga bentuknya mirip buah labu, namun ukurannya lebih kecil daripada Kendi Rawan maupun Kendi Banan. Selain itu, bentuk bibirnya lebih sempit dari bibir Kendi Labu. Kendi ini juga menggunakan ragam hias geometri dan bunga dengan teknik gores. Kendi jenis ini digunakan sebagai tempat air minum bagi golongan anak-anak pada masyarakat Gayo.
Meskipun kerap digunakan dalam upacara adat, menurut Rasyid, et.al, (2001:16), Kendi Gayo memiliki kegunaan utama sebagai wadah air minum. Bagi masyarakat Gayo, meminum air kendi terasa memiliki aroma yang sengam atau enak. Maka sebab itulah, hampir di setiap rumah penduduk Gayo terdapat seperangkat kendi sebagai wadah air untuk konsumsi keluarga.
D. CARA PEMBUATAN
Proses pembuatan Kendi Gayo cukup sederhana. Meski demikian, proses pembentukan dan pembuatan ragam hiasanya tetap mengandalkan keterampilan tangan para perajin. Ada empat tahapan yang harus dilalui dalam proses pembuatan Kendi Gayo, yaitu:
1. Penyiapan dan Pengolahan Bahan
Tahap penyiapan dimulai dari pengambilan tanah liat di perbukitan dan pasir di dasar sungai yang berada di sekitar permukiman penduduk. Selanjutnya, kedua bahan tersebut diolah dengan menggunakan cara tradisional yaitu pengolahan bahan secara kering. Pertama-tama bahan-bahan ditumbuk sampai halus kemudian disaring untuk membersihkan kotoran atau sampah yang terkandung di dalamnya. Setelah bersih, kedua bahan tersebut dicampur dengan perbandingan 1 (satu) bambu tanah liat dan 3 (tiga) mok pasir atau 2 kilogram tanah liat dan ¼ kilogram pasir. Kemudian campuran kedua bahan tersebut ditambahkan air secukupnya lalu diaduk rata hingga adonan tanah dan pasir menjadi seragam. Adonan tersebut kemudian didiamkan selama satu malam. Sebelum dibentuk menjadi bulatan, adonan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan hingga agak mengeras. Tujuannya adalah agar adonan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan.

2. Pembentukan
Teknik pembentukan yang digunakan oleh para perajin Kendi Gayo di Aceh umumnya menggunakan teknik pijit (pinching), yaitu teknik membentuk kendi dengan cara dipijat-pijat atau ditekan-tekan sesuai dengan desain yang diinginkan. Teknik pijat ini merupakan teknik dasar dalam pembuatan gerabah sebelum dikenal teknik pembentukan yang lain seperti teknik putar (wheel/throwing), teknik cetak (casting), teknik lempengan (slab), teknik pilin (coil), dan gabungan dari beberapa teknik tersebut (I Wayan Mudra, 2010 :20).
Langkah pertama dalam tahap pembentukan ini dimulai dari pembentukan badan kendi. Pada proses ini seorang perajin menggunakan tangan untuk memijat-memijat dan kemudian menjepit-jepit adonan sambil menarik-menarik ke arah yang diinginkan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Untuk membentuk badan kendi digunakan alat papan penggembuk untuk memukul-mukul bagian luar dinding kendi pada saat pembulatan dilakukan. Pada bagian dalam bakal kendi dilapisi batu bulat sebagai penahan pada saat dipukul-pukul. Setelah badan kendi mulai terbentuk, bagian dalam bakal kendi yang menonjol dikorek dengan menggunakan sendok makan agar menjadi lebih halus.
Setelah bentuk badan kendi mulai mengering, langkah selanjutnya adalah membentuk leher dan corong kendi. Adonan tanah liat dan pasir yang masih basah diletakkan di atas badan kendi untuk membentuk leher dan corong kendi. Langkah ini menggunakan pisau untuk meratakan bagian-bagian yang menonjol dan batu tipis yang licin untuk melicinkan bagian luar kendi.

3. Pembuatan Ragam Hias
Sebelum dikeringkan melalui proses pembakaran, bakal kendi yang masih lunak terlebih dahulu diberikan ragam hias pada seluruh bagiannya. Caranya adalah menggores atau mengorek permukaan dinding bakal kendi dengan menggunakan beberapa alat-alat tertentu berupa mata uang logam, pecahan piring, lidi, rader baju, atau tanduk hewan. Jenis motif yang paling menonjol pada Kendi Gayo adalah motif geometris dan bunga.
Menurut Melalatoa (1982:136), selain kedua motif tersebut, Kendi Gayo juga menggunakan motif jenis lain seperti kekukut (bentuk kuku), memayang kekuyang (sejenis tumbuhan ilalang), tapak tikus (tapak tikus), dan sebagainya.

4. Pembakaran
Sebelum dibakar, kendi yang masih lunak terlebih dahulu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan tanpa panas matahari selama 10 hari. Proses pengeringan ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air yang terkandung di dalam bahan dasar kendi yang berasal dari tanah liat. Adapun tujuan dari menghilangkan kadar air tersebut yaitu agar kendi tidak retak atau pecah pada saat pembakaran berlangsung.

Setelah kendi benar-benar kering, barulah dilakukan pembakaran dengan cara tradisional dengan suhu pembakaran 900° C, yaitu kendi-kendi diletakkan di atas tumpukan sampah sebagai bahan pembakaran pada permukaan atau di dalam lubang yang dangkal dan kemudian menyangganya dengan pecahan-pecahan gerabah agar tidak bergerak ketika proses pembakaran berlangsung. Kemudian di antara kendi-kendi tersebut diletakkan daun-daun kering, jerami, tempurung kelapa, dan kulit pinus yang asapnya berfungsi untuk memperkuat struktur kendi dan mengkilapkan warnanya.
Selanjutnya, pembakaran dilakukan selama lebih kurang delapan jam hingga kendi-kendi terlihat menyala bagaikan bara api. Setelah masak, kendi-kendi tersebut didinginkan dan kemudian disimpan di atas para-para atau dapur agar terkena asap setiap saat sehingga warnanya berubah menjadi hitam mengkilap. Setelah itu, kendi siap untuk digunakan sebagai wadah air minum.
E. ARTI DAN MAKNA RAGAM HIAS KENDI GAYO
Bagi masyarakat Gayo, kegunaan kendi lebih penting daripada bentuk ataupun ragam hiasnya. Oleh karena itulah, menurut Melalatoa (1982:134), Kendi Gayo tidak demikian kaya dengan variasi ragam hias. Jika pun hasil kerajinan tangan masyarakat Gayo ini mempunyai ragam hias, umumnya tidak mempunyai arti atau makna tertentu. Para perajin hanya menuangkan ragam hias pada kendi-kendi tersebut dengan meniru ragam hias yang telah digunakan pada benda-benda gerabah sebelumnya yaitu gerabah atau kendi yang di buat oleh nenek moyang orang Gayo terdahulu tanpa mempertimbangkan arti dan maknanya.
Meski demikian, ada beberapa jenis ragam hias pada Kendi Gayo yang memiliki arti dan makna, salah satunya yang paling terkenal adalah ragam hias tapak rama yang mengandung makna kesaktian (Rasyid, 2001:22). .
F. NILAI-NILAI
Kendi bukan sekadar peralatan rumah tangga yang berfungsi untuk menyimpan air minum, tetapi ia merupakan warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo yang sarat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut di antaranya nilai budaya, kreativitas, ekonomi, seni, pemberdayaan perempuan, dan identitas budaya.
1. Nilai Budaya.
Secara fungsional, Kendi Gayo merupakan salah satu perlengkapan baik dalam upacara perkawinan maupun upacara adat tempah masyarakat Gayo. Hal ini menunjukkan bahwa kendi ini memiliki peranan penting dalam upacara adat tersebut. Oleh karena itu, keberadaan Kendi Gayo merupakan ekspresi dari keyakinan masyarakat Gayo dalam menunjukkan eksistensi kebudayaan mereka
(M.J., Melalatoa. 1982: 12)

2. Nilai Kreativitas.
Nilai kreativitas masyarakat Gayo dapat terlihat dari bahan baku yang digunakan membuat kendi. Melalui tanah liat dan pasir mereka mampu menciptakan beragam bentuk kendi yang memiliki fungsi dan nilai-nilai estetis tinggi dalam kehidupan mereka. Dari sini dapat dipahami bahwa masyarakat Gayo juga memiliki pemahaman dan penghayatan yang tinggi terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka (A. Hamid Rasyid, 2001:20).

3. Nilai Ekonomi
Meskipun pada awalnya hanya sebagai wadah air minum untuk keperluan sehari-hari, Kendi Gayo pada perkembangannya mampu mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat Gayo, khususnya para perajin yang tinggal di Kecamatan Blangkejeren. Mereka berkeyakinan bahwa kerajinan membuat gerabah kendi ini merupakan warisan leluhur yang patut dipertahankan karena dapat memberikan kesejahteraan. (A. Hamid Rasyid, 2001:20).



4. Nilai Pemberdayaan Perempuan
Proses pembuatan Kendi Gayo di Kecamatan Blangkejeren umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Hal ini dimungkinkan karena proses pembuatan Kendi Gayo memerlukan ketekunan, kecermatan, dan ketelitian yang tinggi dan hanya merekalah yang dianggap mampu untuk melakukannya. Dengan didukung oleh sumber daya alam yang tersedia kaum perempuan masyarakat Gayo mampu menghasilkan kreasi berupa kendi yang bernilai tinggi (A. Hamid Rasyid, 2001:20).

5. Nilai Identitas
Kendi Gayo memiliki bentuk dan ragam hias yang khas dan unik. Dengan menyebut kata Kendi Gayo sudah tentu akan memberikan identitas budaya bagi masyarakat Gayo di Blangkejeren, Nanggroe Aceh Darussalam. (M.J., Melalatoa. 1982: 12)










BAB III. PENUTUP
A. PENUTUP
Kesenian dan kerajinan merupakan produk budaya suatu bangsa, semakin tinggi nilai kesenian dan kerajinan satu bangsa maka semakin tinggi nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian dan kerajinan tidak pernah lepas dari masyarakat, sebab kesenian juga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan segala bentuk ungkapan cipta, rasa dan karsa manusia.
Kendi Gayo adalah salah satu warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo di Nanggroe Aceh Darussalam yang perlu dilestarikan dan dikembangkan mengingat begitu pentingnya fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pengembangan terhadap hasil kerajinan tangan masyarakat Gayo ini tidak sekadar menggali nilai-nilai budayanya, tetapi juga pada pengembangan nilai ekomonisnya sehingga mampu memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat Gayo.









DAFTAR PUSTAKA
A. Hamid Rasyid, 2001, “ Kendi Gayo dan Masyarakat Gayo”, Balai Pustaka: Jakarta
Hakim, AR. 1998 “Hakikat nilai-nilai budaya Gayo”, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah: Takengon.
Hasan, M. Affan. 1980 “ Kesenian Gayo dan Perkembangannya”, Balai Pustaka: Jakarta.

Hurgronje, C. Snouck, Hasan, Hatta. 1996, “Gayo Maysarakat Dan Kebudayaan” Balai Pustaka: Jakarta.

Anonim. “Blangkejeren, Gayo Lues”, [Online], tersedia di (http://id.wikipedia.org).
I Wayan Mudra. “Proses Pembuatan Gerabah”, [Online], tersedia di (http://jurnal.isi-dps.ac.id),
M.J., Melalatoa. 1982, “Kebudayaan Gayo”, Jakarta: P.N. Balai Pustaka.
Waluyono. “Kendi”, [Online], tersedia di (http://www.pelita.or.id),
www.google.Ensiklopedia Aceh, ( 16 Juni 2009),
http://athawilaga Grafis.blogspot.com,
http://ansar-senibudaya.blogspot.com. s












Lampiran










Gambar 1. Kendi Rawan Gambar 2. Kendi Banan Gambar.3 Kendi sebagai
simbol dan lambang organisasi













Gambar 4. Kendi Ganjong Gambar 5. Kendi Labu Gambar 6. Kendi Ganjong & Banan












Gambar 7. Kendi Rawan & Gambar 8. Motif kendi Rawan Gambar 9. Motif Kendi Banan
Banan

Sabtu, 18 Juni 2011

Urang Gayo Harus Cepat Bertindak , Bila Tidak Tahun 2010 Bahasa Gayo Diperkirakan Punah

Urang Gayo Harus Cepat Bertindak , Bila Tidak Tahun 2010
Bahasa Gayo Diperkirakan Punah

Takengon- Bahasa Gayo merupakan salah satu bahasa yang dipakai di Aceh. Meski merupakan bagian dari Aceh, namun bahasa gayo berbeda dengan bahasa Aceh. Bahasa gayo dipakai oleh minoritas penduduk Gayo yang tinggal di pedalaman Aceh, khususnya kawasan pegunungan .
Seperti gayo Lut (Takengon-Bener Meriah), Gayo Deret (Lukup Serbejadi –Aceh Timur), Gayo Lues (Blang Kejeren) serta di beberapa lokasi lainnya di Aceh yang tersebar. Diantaranya, Lhok Gayo di Aceh Selatan dan sejumlah daerah lainnya.
“Bahasa Gayo pada tahun 2016 diperkirakan akan hilang”, tegas M.Jihad, seorang warga Kecamatan Bintang, dalam acara sharing dengan penulis tata bahasa Gayo, ( A grammar of Gayo, a language of Aceh, Sumatera) yang dikarang Dr.Domenyk Eades.BA (Hons) Ph D (Melb) , Asistent Professor, Lecturer in Linguitic and Translation Studies. College of Arts and Social Sciences, Sultan Qaboss University, Jum’at malam (11/7) di Gedung Bale Pendari yang digagas Teater reje Linge. Dihadiri oleh seniman, budayawan, mahasiswa dan tokoh masyarakat
Alasan M.Jihad dilatari beberapa alasan. Diantaranya , tidak konsistennya mayarakat suku Gayo memakai bahasa Gayo dalam komunikasi sehari-hari dan lebih suka memakai bahasa Nasional Indonesia dan terlalu toleran. Selain itu , peran Pemerintah seperti Pemkab dan DPRK juga tidak ada dalam melestarikan bahasa Gayo, yang ditandai dengan kebijakan atau qanun.
Itupula yang menjadikan Domenyk Eades yang kini namanya sudah berganti dengan Yusuf setelah mengucapkan duakalimah syahadat. Diterangkan Domenyk, bapak tiga anak yang kini menjadi Asisten Profesor di Universitas Sultan Qaboos Oman, awalnya Yusuf datang ke Aceh mengajar bahasa Inggris dan mengambil S-1 nya tentang bahasa Aceh dan S-3, tentang bahasa Gayo.
“Minimnya literature tentang Gayo membuat saya tertarik mempelajari bahasa Gayo”, ujar Yusuf dihadapan puluhan peserta tidak resmi malam itu. Guna melestarikan bahasa Gayo, menurut Yusuf, saat ini perlu ditulis buku dalam bahasa Gayo dan kembali menuliskan dongeng, sejarah dan budaya dari nara sumber yang masih hidup, bila tidak ingin bahasa Gayo hilang.
“Begitu banyak sudah bahasa hilang di dunia. Akankah bahasa Gayo juga demikian”, Tanya Yusuf pada Zulfikar Ahmad ST , staf Bappeda yang mendampingi Yusuf dalam bahasa Inggris.
Kembali ke M.Jihad yang mengkuatirkan hilangnya bahasa Gayo dari bahasa di dunia. Menurut Jihad, bahasa Gayo adalah asset atau harta yang kaya akan kosa kata. “Bahasa Gayo kaya nama”, ujar Jihad sambil mencontohkan, satu kata bahasa Indonesia untuk duduk saja, dalam bahasa Gayo ada tiga padanan. Yaitu, kunul, tempoh,semile.
Menurut M.Jihad meski tidak diundang dalam acara tersebut, namun dia sengaja hadir setelah mengetahui acara tersebut dari orang lain karena dianggapnya penting. Bahkan lebih esktrim, dikatakan Jihad, sebelum Rasulullah SAW lahir, tutur bahasa Gayo yang lebih dikenal dengan sebutan “peri berabun”, sudah ada.
Meski sudah 10 tahun lalu Domenyk melakukan penelitian tentang bahasa Gayo, namun dalam acara tidak resmi membahas buku tata bahasa Gayo karya Domenyk alias Yusuf, disepakati dengan bahasa Gayo.
Dalam diskusi berbahasa Gayo tersebut, tenyata banyak kalangan mahasiswa dan para hadirin yang justru kesulitan berbahasa Gayo secara penuh dan masih mencampurnya dengan bahasa Indonesia . “Ini suatu bukti dan argument, sudah banyak kosa kata bahasa Gayo yang tidak lagi digunakan dan cenderung hilang”, papar M.Jihad.
Menurut Domernyk, sejak melakukan penelitian sepuluh tahun silam, sudah ada masyarakat Gayo yang tidak lagi peduli akan budaya , bahasa dan sejarah Gayo karena dianggap tidak berfaedah.
“Kalau bahasa Gayo hilang, maka identitas Gayo juga akan hilang.Masyarakat Gayo akan kehilangan identitas”, tegas Domenyk. Untuk itu, karena bahasa adalah identitas, mulai sekarang, lanjut Domenyk orang Gayo mulai sekarang harus ajarkan anak-anak generasi Gayo berbahasa Gayo dan mulai mengajarkan budaya Gayo.
“Buku dalam bahasa Gayo bisa mendidik anak-anak Gayo untuk tidak kehilangan jatidirinya”, papar Domenyk. Kini, dengan bukunya Yusuf, A grammar of Gayo, a language of Aceh, Sumatera, bahasa Gayo sudah dipelajari di sebuah universitas di Jerman dalam program Linguistic.
Yusradi Algayoni, salah seorang mahasiswa terbaik USU versi Sampoerna yang kini sudah menyelesaikan Biografi seniman terkenal Gayo, Drs.AR Moese, menjelaskan dia pernah mengumpulkan 60 koleksi buku tentang Gayo dan sekarang sedang membuat kamus bahasa Gayo yang dikumpulkannya berjumlah 6670 kata.
Yusradi meminta agar buku Domenyk tentang tata bahasa Gayo diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia . Namun menurut Domenyk, hal itu harus diminta ijinnya dengan penerbit yang menangani bukunya.
Kebanyakan para mahasiswa dan peserta yang hadir merasa malu karena bahasa Gayo diteliti bukan oleh masyarakat Gayo, tapi justru diteliti oleh orang luar seperti Domenyk.
Zamzam Mubarak, seorang mahasiswa Gayo di Jakarta , mempertanyakan asal muasal bahasa Gayo karena Gayo dianggap mempunyai sebuah peradaban yang besar. Menurut Domenyk, bahasa Gayo masuk dalam kelompok Austronesia . Bahasa Gayo berhubungan dengan bahasa Nias, Mentawai dan Bahasa Batak.
Iwan Bahgie, penyelenggara acara sharing dengan Domenyk menyatakan bahwa acara digelar demi melestarikan bahasa Gayo. “Setelah mendapat informasi dari Zulfikar Ahmad tentang kehadiran Domenyk bersama keluarganya di Takengon dalam rangka liburan, kami ditawari menjadi pasilitator”, ungkap Iwan.
Di tempat terpisah, Yuhdi Saffuan, alumni Universitas Indonesia yang kini menetap di Takengon, menyatakan, Almarhum, Prof. Yunus Melalatoa, pernah menyatakan dalam sebuah forum mahasiswa Gayo se Indonesia di Yogyakarta tahun 2002 bahwa bahasa Gayo termasuk salah satu bahasa yang akan hilang karena dipengaruhi budaya dan bahasa luar.
“Menurut Prof. Yunus Melalatoa, diperkirakan tahun 2010 keatas bahasa Gayo telah sampai pada titik kritis. Salah satu contohnya jika bertanya pada anak-anak masyarakat Gayo yang berada di perkampungan, sebutan Ama untuk panggilan Bapak, sudah tidak lagi diketahui anak-anak lagi”, ungkap Yuhdi menirukan kekuatiran Prof. Yunus Melalatoa, seorang Antropolog UI.
Dikatakan Yuhdi Saffuan, apa yang diramalkan Prof. Melalatoa kini sudah terbukti. Hal ini didasarkan pada fakta saat ini, lanjut Yuhdi, anak-anak sekolah dasar di Takengon sudah tidak bisa berbahasa Gayo bahkan orang tuanya menyarankan anak-anak mereka berbahasa Indonesia sehari-hari agar tidak malu bergaul bersama temannya di sekolah.
“Bisa dibayangkan beberapa tahun kedepan, bahasa Gayo sudah tidak lagi popular dan tidak lagi digunakan di Takengon dan akan dilupakan sejarah”, tegas Yuhdi. Setelah pembahasan buku tata bahasa Gayo digelar. Para mahasiswa dan masyarakat yang hadir sepakat untuk mulai membahas dan mewacanakan upaya pelestarian bahasa Gayo dengan apa yang disebut semacam “Balai Bahasa Gayo” dan rutin melakukan diskusi tentang bahasa. Diperlukan peran Pemerintah Daerah saat ini untuk melestarikan bahasa Gayo dengan lebih menguatkan bahasa Gayo dalam pendidikan, muatan local (www.rakyataceh,com/ashaf)

Kamis, 16 Juni 2011

arsitektur Rumah Adat Melayu Riau






Rumah Melayu Riau

Oleh: Rahmat (ISI Padangpanjang)

Bagian-Bagian Rumah Melayu
A.  Atap
Bahan utama atap adalah daun nipah dan dau rumbia, tetapi pada perkembangannya sering dipergunakan atap seng. Dilihat dari bentuknya, bubugan rumah Melayu dapat dibedakan menjadi :
1.    Bubungan panjang sederhana
2.    Bubungan Lima
3.    Bubungan Perak
4.    Bubungan Kombinasi
5.    Bubungan Limas
6.    Bubungan Panjang Berjungkit
7.    Bubungan Gajah Minum

a.    Lambang Pada Atap
1.    Atap Kajang
Bentuk atap ini dikaitnya dengan fungsinya, yaitu tempat berteduh dari hujan dan panas. Yang memiliki makna, hendaknya sikap hidup orang Melayu dapat pula menjadi naungan bagi keluarga dan masyarakat.

2.    Atap Layar
Bentuk atap yang bertingkat disebut Atap layar, Ampar labu, Atap bersayap, atau Atap bertinggam.
3.    Atap Lontik
Atap yang kedua ujung perabungnya melentik ke atas melambangkan bahwa pada awal dan akhir hidup manusia akan kembali kepada penciptanya. Sedangkan, lekukan pada pertengahan perabungnya melambangkan Lembah keidupan yang kadang kala penuh dengan cobaan.
4.    Atap Limas
Hingga saat ini belum diketahui apa makna lambang pada bentuk atap limas. Kemungkinan dahulu orang melayu mengenal lambang pada bentuk ini, terutama yang berkaitan dengan kepercayaan dalam agama Hindu dan Budha, atau terpengaruh atap banggunan Eropa. Namun demikian, bentuk limas ini sudah menjadi salah satu bntuk banggunan tradisional Melayu Riau.

b.    Selembayung
Selembayung juga disebut juga Sulo Bayung dan Tanduk Buang, adalah hiasan yang terletak bersilang pada kedua ujung perabung bangunan belah bubung dan rumah lontik. Pada bagian bawah adakalanya diberi pula hiasan tambahan seperti tombak terhunus, menyambung kedua ujung perabung (tombak-tombak) Selembayung memiliki beberapa makna, antara lain :
1.      Tajuk Rumah : selembayung membangitkan seri dan cahaya rumah.
2.      Pekasih Rumah : lambang keserasian dalam kehidupan rumah tangga.
3.      Pasak Atap : lambang sikap hidup yang tahu diri.
4.      Tangga Dewa : lambang tempat turun para dewa, mambang, akuan, soko, keramat, dan sisi yang membawa keselamatan bagi manusia.
5.      Rumah Beradat : tanda bahwa bangunan itu adalah tempat kediaman orang berbangsa, balai atau kediaman orang patut-patut.
6.      Tuah Rumah : lambang bahwa bangunan itu mendatangkan tuah kepada pemiliknya.
7.      Lambang Keperkasaan dan Wibawa : selembayung yang dilengkapi dengan tombak-tombak melambangkan keturunan dalam rumah tangga, sekaligus sebagai lambang keperkasaan dan wibawa pemliknya.
8.      Lambang Kasih Sayang : motif ukiran selembayung (daun-daun dan bunga) melambangkan perwujudan, tahu adat dan tahu diri, berlanjutnya keturunan serta serasi dalam keluarga.

c.    Sayap Layang-layang atau Sayap Layangan
Hiasan ini terdapat pada keempat sudut cucuran atap. Bentuknya hampir sama dengan selembayung. Setiap bangunan yang berselmbayung haruslah memakai sayap layangan sebagai padanannya. Letak sayap layang-layang pada empat sudut cucuran atap merupakan lambang sari empat pintu hakiki, yaitu pintu rizki, pintu hati, pintu budi, dan pintu Illahi. Sayap layang-layang juga merupakan lambang kebebasan, yaitu kebebasan yang tahu batas dan tahu diri.
d.   Lebah Bergantung
Hiasan yang terletak di bawah cucuran atap (lispang) dan kadang-kadang di bagian bawah anak tangga. Hiasan ini melambangkan manisnya kehidupan rumah tangga, rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri.
e.    Perabung
Hiasan yang terdapat pada perabung rumah /terletak sepanjang perabung disebut  Kuda Berlari. Hiasan ini amat jarang digunakan, lazimnya hanya dipergunakan untuk perabung istana atau balai tertentu. Hiasan ini mengandung beberapa lambang, yaitu:

1.      Lambang Kekuasaan : yakni pemilik banguna itu adalah penguasa tertinggidi wilayahnya.
2.      Lambang lainnya terdapat pada bentuk dan nama ukirannya.

f.     Singap/Bidai
Bagian ini biasanya dibuat bertingkat dan diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai ventilas. Pada bagian menjorok keluar  di beri lantai yang disebut teban layar atau lantai alang buang atau disebu juga  Undan- undan.

B.  Tiang
Bangunan Tradisional Melayu adalah bangunan bertiang. Tiang dapat berbentuk bulat atau persegi. Jumlah tiang rumah induk paling banyak 24 buah, sedangkan tiang untuk bagian bangunan lainnya tidak ditentukan jumlahnya. Pada rumah bertiang 24, tiang-tiang itu didirikan dalam 6 baris, masing-masing 4 buah tiang termasuk tiang seri.


Lambang-lambang pada tiang :
1.      Tiang tua : tiang utama yang terletak disebelah kanan dan kiri pintu tengah, atau tiang yang terletak ditengah bangunan yang pertama kali ditegakkan. Tiang tua melambangkan tua rumah, yaitu pimpinan di dalam banguna itu, pimpinan di dalam keluarga dan masyarakat.
2.      Tiang seri : tiang yang terletak di keempat sudut bangunan induk, dan tidah boleh dari tanah terus ke atas. Tiang seri melambangkan Datuk Berempat atau induk berempat, serta melambangkan empat penjuru mata angin.
3.      Tiang penghulu : tiang yang terletak di antara pintu muka denhan tiang seri disudut kanan muka bangunan. Tiang ini melambangkan bahwa rumah itu didirikan menurut ketentuan adat istiadat, dan sekaligus melambangkan bahwa kehidupan didalam keluarga wajib disokongoleh anggota keluarga lainnya.
4.      Tiang tengah : tiang yang terletak di antara tiang-tiang lainnya, terdapat diantara tiang tua dan tiang seri.
5.      Tiang bujang : tiang yang dibuat khusus di bagian tengah bangunan induk, tidak bersambung dari lantai sampai ke loteng atau alangnya. Tiang ini melambangkan kaum kerabat dan anak istri.
6.      Tiang dua belas : tiang gabungan dari 4 buah tiang seri, 4 buah tiang tengah, 2 buah tiang tua, 1 buah tiang penghulu, dan 1 buah tiang bujang.

C.     Pintu
Disebut juga Ambang atau  Lawang. Pintu masuk bagian muka disebut pintu muka, sedangkan pintu di bagian belakang di sebut pintu dapur. Pintu berbentuk persegi empat panjang. Ukuran pitu lebar antara 60 s/d 100 cm, tinggi 1,50 s/d 2 meter.

D.    Jendela
Jendela lazim disebut tingkap atau pelinguk. Bentuknya sama seperti bentuk pintu, tetapi ukurannya lebih kecil atau lebih rendah. Daun jendela dapat terdiri atas dua atau satu lembar daun jendela. Ketinggian letak jendela di dalam sebuah rumah tidak selalu sama. Perbedaan ketinggian ini adakalanya disebabkan oleh perbedaan ketinggian lantai, ada pula yang berkaitan dengan adat istiadat. Umumnya jendela tengah di rumah induk lebih tinggi dari jendela lainnya.
Jendela mengandung makna tertentu pula. Jendela yang sengaja dibuat setinggi orang dewasa berdiri dari lantai, melambangkan bahwa pemilik bangunan adalah orang baik-baik dan patut-patut dan tahu adat dan tradisinya.  Sedangkan yang letaknya rendah melambangkan pemilik bangunan adalah orang yang ramah tamah, selalu menerima tamu dengan ikhlas dan terbuka.

E.     Tangga
Tangga naik ke rumah pada umumnya menghadap ke jalan umum. Tiang tangga berbentuk segi empat atau bulat. Bagian atas disandarkan miring ke ambang pintu dan terletak di atas bendul. Anak tangga dapat di bentuk bulat atau pipih.


F.      Loteng
Dalam bahasa Melayu disebut langa.
G.    Lantai
Lantai rumah induk pada umumnya diketam rapi dengan ukuran lebar antara 20 s/d 30 cm.
H.    Dinding
Papan dinding dipasang vertikal. Kalau ada yang dipasang miring atau bersilang, pemasangan tersebut hanya untuk variasi. Untuk variasi sering pula dipasang miring searah atau miring berlawanan, dengan kemiringan rata-rara 45 derajat.