Jumat, 14 Januari 2011

tujuh unsur kebudayaan gayo

A. Latar Belakang

Kesenian merupakan produk budaya suatu bangsa, semakin tinggi nilai kesenian satu bangsa maka semakin tinggi nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian tidak pernah lepas dari masyarakat, sebab kesenian juga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan segala bentuk ungkapan cipta, rasa dan karsa manusia.

Kesenian sebagai ungkapan kreativitas manusia akan tumbuh dan hidup apabila masyarakat masih tetap memelihara, memberi peluang bergerak, serta menularkan dan mengembangkan untuk kemudian menciptakan sesuatu kebudayaan baru. Sebagai produk budaya yang melambangkan masyarakatnya maka kesenian akan terus berhadapan dengan masyarakat dalam arti kesenian menawarkan interpretasi tentang kehidupan, kemudian masyarakat menyambutnya dengan berbagai cara (Yandri, 2009:158).
Kehidupan manusia dalam setiap bangsa dan kelompok suatu etnik manapun mempunyai kebudayaan, adat istiadat dan kebiasaan tersendiri serta mempunyai bentuk kesenian berbeda dalam mengungkapan rasa keindahan. Pengungkapan rasa keindahan itu dengan bebagai cara baik mengekpresikan dirinya dengan seni ukir, seni sastra, dan seni suara. Kesenian adalah unsur penyangga kebudayaan, eratnya kaitan dengan kebudayaan suatu masyarakat sehingga sering digunakan sebagai media penyebarluasan ajaran kepercayaan dan disamping sebagai media hiburan (Kayam, 1981:39).
Menurut Williams dalam Mudji, (2005:7) kata kebudayaan “(culture) merupakan salah satu dari tiga kata yang paling komplek penggunaannya dalam bahasa Inggris. Pada awalnya “culture” dekat pengertiannya dengan kata “kultivasi” (cultivation), yaitu pemeliharaan ternak, hasil bumi, dan upacara-upacara religius (yang darinya diturunkan istilah kultus atau “cult”). Sejak abad ke-16 hingga ke-19 istilah ini mulia diterapkan secara luas untuk pengembangan akal budi manusia individu dan sikap-sikap perilaku pribadi lewat pembelajaran.
Kebudayaan, berasal dari terjemahan kata kultur. Kata kultur dalam bahasa latin cultur berarti memelihara, mengolah dan mengerjakan. Dalam kaitan ini, cakupan kebudayaan menjadi sangat luas, seluas hidup manusia. Hidup manusia akan memelihara, mengolah dan mengerjakan berbagai hal-hal yang menghasilkan tindak budaya. Karena itu kebudayaan sangat beragam. Hal ini seperti peryataan Kroeber dan kluckhohn (Alisjahbana, 1986:207-208) dalam Endaswara, 2006:4) menyebutkan definisi kebudayaan dapat digolongkan menjadi tujuh hal, yaitu :
Pertama, kebudayaan sebagai keseluruhan hidup manusia yang komplek, meliputi hukum, seni, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kedua, menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagai warisan tradisi. Ketiga, menekankan kebudayaan yang bersifat normatif, yaitu kebudayaan dianggap sebagai cara dan aturan hidup manusia, seperti cita-cita, nilai dan tingkah laku. Keempat, pendekatan kebudayaan dari aspek psikologis, kebudayaan sebagai langkah penyesuaian diri manusia kepada lingkungan sekitarnya. Kelima kebudayaan dipandang sebagai struktur, yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayaan serta fungsinya. Keenam, kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan. Ketujuh, definisi kebudayaan yang tidak lengkap dan kurang bersistem.
Ditegaskan kembali menurut Marwoto, (2009:73) pada hakekatnya kebudayaan merupakan hasil budi dan daya manusia yaitu mengangkat derajat manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling tinggi di antara makhluk Tuhan yang lain, seperti rumput, hewan. Dengan kebudayaan dapat mengetahui tingkat peradaban manusia. Namun perlu disadari bahwa tingkat kebudayaan banyak ditemukan oleh kemampuan manusia dalam menghadapi tantangan alam sekitar lingkungan dimana mereka tinggal dan hidup.
Kebudayaan sering menjadi kebiasaan yang tidak boleh ditinggalkan dan dihilangkan, karena mempunyai nilai yang begitu tinggi dalam suatu kelompok. Seperti yang disebutkan bahwa dengan kebudayaan kita dapat mengetahui tingkat peradaban manusia.
Begitu juga kebudayaan masyarakat Gayo ditemukan oleh masyarakat Gayo dan dijadikan sebagai kebudayaan. Kebudayaan Gayo timbul sejak orang Gayo bermukim di wilayah ini. Menurut Hakim, (1998:8) Adat istiadat sebagai salah satu unsur Kebudayaan Gayo Menganut Prinsip Keramat Mupakat, Behu Berdedele (Kemulian karena Mufakat, Berani Karena Bersama), Tirus lagu gelas belut lagu umut rempak lagu resi susun lagu belo (Bersatu Teguh) Nyawa sara pelok ratep sara anguk (kontak batin) atau tekad yang melahirkan kesatuan sikap dan perbuatan, banyak lagi kata-kata pelambang yang mengandung kebersamaan dan kekeluargaan serta keterpaduan. Pemerintah dan ulama saling harga menghargai serta menunjang pelaksanaan agama.
Kebudayaan Gayo sangat beragam mulai dari tarian, musik, dan teater. Tarian yang terdapat pada masyarakat Gayo adalah tari Saman, tari guel, Tari bines, tari munalo Didong,Tari Sining, Tari Turun Ku Aih Aunen, Tari Resam Berume, Tuak Kukur, Melengkan dan Dabus. Unsur kebudayaan yang ada di Gayo sangat berkaitan erat dengan Al Qur`an dan Hadist. Kehidupan masyarakat Gayo yang menjadi panutan ataupun pedoman adalah Al Qur`an dan Hadist sehingga diterapkan didalam kebudayaan Gayo, adat istiadat maupun sistem pemerintahannya.
Masyarakat Gayo sangat fanatik terhadap Agama Islam, sehingga semua bersifat Theokrasi (berdasarkan ajaran Islam), baik adat, budaya dan sistem pendidikan semua berlandaskan Agama Islam. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:19), sebelum Agama Islam masuk kedaerah Gayo, masyarakat setempat sebelumnya menganut animisme. Agama Islam masuk ke Perlak Aceh pada abad ke-8 Masehi, suku Gayo yang bermukim disana secara berangsur-angsur mulai memeluk Agama Islam.
Ajaran Islam didakwahkan ke kerajaan Lingga (Lingge) Gayo oleh ulama kerajaan Perlak, pada tahun 181 atau 808 Masehi. Menurut Mahmud Ibrahim, 2007:19), Agama Islam pertama kali dibawa oleh orang-orang Arab, Persia, Gujarat dan India, mereka berdakwah pada masyarakat Gayo sehingga masyarakat Gayo menerima ajaran Agama yang dengan baik.
Setelah kedatangan Agama Islam ke daerah Lingga (Lingge). Raja Lingga (Reje Lingge) beserta masyarakatnya menganut ajaran Islam dengan baik. Tidak lepas pula dalam keluarga raja Lingga, raja Lingga mempunyai enam orang anak, yaitu Tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, Sebayak Lingga, Meurah Johan/ Johansyah, Meurah Silu / Malikussaleh, Meurah Lingga, dam Meurah Mege (Ensiklopedia Aceh, 16 Juni 2009).
Kerajaan Lingga (di Buntul Linge, Tanah Gayo) lebih dulu mengenal Islam daripada kerajaan-kerajaan di Aceh. Disebutkan juga Raja-raja yang memerintah di Aceh merupakan keturunan raja Lingga (Seuramoe Aceh, 24 Januari 2010).
Anak raja Lingga (Lingge) Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri disana dan dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Sedangkan Meurah Lingga tinggal di Lingge Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Lingaa turun termurun.
Muerah Lingga menjabat menjadi raja Lingga ke-2, sampai dengan ke-8. Raja Lingga ke-8 menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor Baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga 8 diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut.
Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasuk (Singapura) dan sedikit wilayah (Malaya) Malaysia (Ensiklopedia Aceh, 16 Juni 2009).
Anak raja Lingga yang lain seperti Meurah Silu / Sultan Malikussaleh (dalam bahasa Arab), dia merupakan orang Gayo yang menyatukan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peureulak, yang akhirnya menjadi Sultan Pertama di Kerajaan Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara.
Sedangkan Meurah Johan atau Johansyah yang kemudian menjadi Sultan Aceh Pertama yang memimpin Kesultanan Kutereje / Kerajaan Aceh Darussalam (Seuramoe Aceh, 24 Januari 2010). Meurah Johan / Johansyah memerintah Kerajaan Aceh Darussalam dari tahun 1205 Masehi / 601 Hijriah sampai tahun 1234 Masehi.
Masyarakat Gayo menempuh kehidupan baru secara tertib dan tentram, karena diikat oleh dasar agama dan adat istiadat secara terpadu. Prinsip itu dituangkan dalam 45 pasal adat masyarakat kerajaan Lingga (Lingge) yang ditetapkan dalam musyawarah merah (reje), ulama, pemimpin adat dan cerdik pandai.
Pada tahun 1115 M Setelah melalui proses panjang selama tiga setengah abad. Prinsip dimaksud dapat dihayati dari ungkapan adat seperti (Agama urum edet, lagu zet urum sifet, agama kin senuwen, edet ken peger) artinya Agama Islam dan adat Gayo seperti zat dan sifat, agama sebagai tanaman, adat sebagai pagarnya. Dari ungkapan tersebut jelas dan tegas, bahwa keterpaduan di antara adat dan syaria`at Islam sangat erat dan saling menunjang. Fungsi adat untuk menunjang pelaksanaan ajaran Agama Islam (Mahmud Ibrahim, 2005: 5).
Agama Islam dalam masyarakat Gayo adalah darah di kehidupan masyarakat sehingga faktor budaya, pendidikan, dan kesenian selalu berkaitan dengan Agama dan norma yang ada. Masyarakat Gayo sangat memperhatikan nilai norma dalam kehidupan sehari hari. Ini dimaksudkan agar agama tetap teguh dan adat bisa berjalan dengan agama, karena ( kuet edet muperala agama, rusak edet rusak agama) kuat adat semakin teguh agama, rusak adat rusak agama dan semua sistem masyarakat.
Masyarakat Gayo tidak hanya mengenal sistem adat, nilai norma tetapi juga mengenal sistem nilai budaya Gayo. Menurut C. Snock, 1996:XII), Sistem nilai ini yang selalu harus dijaga dan direalisasikan dalam masyarakat. Karena faktor ini sangat berpengaruh pada sistem baik secara individu maupun sistem bermasyarakat dalam kehidupan sehari hari. Masyarakat Gayo mempunyai skema sistem nilai budaya Gayo, yaitu :







Keterangan :
M : Mukemel (Harga diri)
Tp : Tertip (Tertib)
St : Setie (Setia)
Sg : Semayang-Gemasih (kasih sayang)
Mt : Mutentu ( Kerja keras)
An : Amanah (Amanah)
Gm : Genap Mufakat (Musyawarah)
At : Alang Tulung (Tolong menolong)
Bs : Bersikemelen (Kompetitif)
Skema tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Sistem nilai budaya Gayo terbagi menjadi sebuah nilai ”utama” yang disebut ”harga diri” (mukemel = M). Untuk mencapai harga diri itu, seseorang harus mengamalkan atau mengacu pada sejumlah nilai lain, yang disebut nilai penunjang. Nilai-nilai penunjang itu adalah ”tertib” (Tp), ”setia”.

B. Pembahasan
Etnik Gayo merupakan satu suku tang terdapat didataran tinggi Gayo, yaitu berada di jantung Provinsi Aceh. Masyarkat Gayo merupakan bagian dari melayu tua, menelusuri asal usul orang Gayo, tidak banyak sumber atau artefak, yang ada hanya cerita atau yang dikenal dengan istilah Kekeberen atau cerita turun temurun dari keturunan Raja Lingga (Reje Lingge). Asal suku Gayo adalah dari negeri ROM (Romawi). Masyarakat Gayo istilah Romawi sangat sulit disebut jadi disingkat dengan istilah ROM. Raja permata kerajaan Lingga adalah anak dari raja Romawi kuno, bertempat dikota Istambul Turki. Begitu juga dengan asal kata Lingge yang artinya adalah suara. Karena menurut pendapat masyarakat tersebut, Reje Lingge (Raja Lingga) mendengar suara tetapi tidak ditemukan dari mana arah suara tersebut. Sehingga raja Lingga (Reje Lingge) memberi nama kerajaannya dengan nama Lingge (suara). Raja Lingga (Reje Lingge) bernama Adi Genali (Mahmud Ibrahim 2007:14).

1. Sistem kepercayaan
Latar belakang sejarah Gayo, semua suku Gayo yang ada sekarang berasal dari satu kerajaan, yaitu kerajaan Lingga (Lingge) yang berpusat di Nenggeri Antara yaitu Lingga (Lingge), sekarang berada di kecamatan Isak Takengon Aceh Tengah. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:12) Kerajaan Lingga (Lingge) dahulu menganut sistem kepercayaan yaitu animisme, sedangkan raja (reje) menganut Agama Budha. Pada abad ke-8 Islam baru masuk ke dataran tinggi Gayo yaitu dibawa oleh para pedagang melalui Perlak, sehingga sampai di Kerajaan Lingga (Lingge). Agama Islam di bawa kekerajaan Lingga (Lingge) adalah Syech Abdul Khadir dan pedagang lainnya. Islam berkembang pesat sampai sekarang di dataran tinggi Gayo.
2. Sistem mata pencaharian
Topografi alam yang berlembah lembah, berbukit-bukit dengan hamparan kopi. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani kopi, peternak, palawija, home industri, nelayan dan pedagang. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:60) Yang menonjol di dataran tinggi Gayo adalah perkebunan kopi yang sangat bagus, juga didukung dengan tanah yang subur dan udara yang sejuk. Dataran tinggi Gayo merupakan penghasil kopi terbesar diprovinsi Aceh, rata-rata kopi yang dihasilkan diekspor keluar negeri seperti Jepang, Jerman, singapura, Malaysia, Amerika, dan Belanda
Dataran tinggi Gayo juga terkenal dengan hasil palawijanya yang mengisi semua sektor pasar di provinsi Aceh, rata-rata hasil palawija yang dihasilkan dikirim ke ibukota provinsi untuk menunjang kebutuhan masyarakat perkotaan.
Dataran tinggi Gayo memiliki berbagai potensi yang dikembangkan masyarakat, ini tergantung pada tempat dan kondisinya, karena tidak semua lahan yang ada dataran tinggi Gayo dapat ditanam perkebunan kopi, ada beberapa sektor yang dipakai sebagai tempat untuk berternak, seperti daerah Isak, Lingge, dan Lumut di kecamatan Isak, mayoritas penduduk disini mengembala ternak, seperti, kerbau, sapi, domba, biri-biri, dan kambing.
Sektor pariwisata, di dataran tinggi Gayo mempunyai danau laut tawar, pantai menye, goa putri pukes, legenda loyang Datu, makam Reje Lingge, home industri, air terjun, pantan terong, kuliner belum lagi di daerah kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues dan lainnya. Objek wisata ini juga merupakan penunjang mata pencaharian masyarakat sekitar (Wikipedia, 15 September 2010).
3. Bahasa
Suku yang mengunakan bahasa Gayo tergolong sebagai suku bangsa asal yang mendiami dataran tinggi Gayo, yaitu wilayah bagian tengah provinsi Aceh. Wilayah pemukiman mereka terbagi kedalam tiga kelompok. Pertama kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah yang disebut Gayo Lut atau Gayo deret, kedua kabupaten Gayo Lues atau Gayo Belang, dan yang ketiga adalah kabupaten Aceh Timur disebut dengan Gayo Kalul atau Gayo Serbejadi.
Terjadinya pengelompokan ini karena letak geogerafisnya yang relatif jauh terpisah serta tidak tersedianya sarana tranportasi penghubung antar ketiga kelompok tersebut pada zaman dahulu. Keadaan ini menimbulkan anggapan seolah-olah etnik Gayo itu terpisah satu sama lainnya. Sarana penghubung yang tidak tersedia dalam jangka waktu yang panjang telah menyebabkan masing-masing kelompok tersebut mengembangkan variasi-variasi kebudayaannya (Melalatoa : 1982). Variasi ini muncul sesuai dengan fisik dan lingkungan sosial yang berbeda. Hal ini terlihat adanya perbedaan kecil antar ketiga kelompok tersebut, misalnya dalam bentuk kesenian dan dialek lingguistik.
4. Kesenian
Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari saman dan seni bertutur yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian Seperti: Tari bines, Tari Guel, Tari munalu, sebuku (pepongoten), dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa, Karena orang Gayo kaya akan seni budaya.
5. Adat Istiadat
Setiap daerah yang ada di Indonesia mempunyai sistem adat, begitu juga di dataran tinggi Gayo mempunyai adat sesuai dengan kepercayaan yang di anutnya. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:5) pada sekitar tahun 1115 M, raja (reje) Islam kerajaan Lingga yang oleh penduduk Negeri Lingga (Negeri Lingge) disebut “petu Merhum Mahkota Alam” untuk pertama kalinya merumuskan norma adat bersama para ulama dan pemimpin masyarakat lainnya. Isi rumusan adat yang disusun di istana raja Lingga (reje Lingge) Umah Adat Pitu Ruang Nenggeri Lingge oleh raja Petu Merhum Mahkota Alam. Semua adat terdiri dari 45 pasal berbahasa Gayo dan tulisan Jawi. Semua dibukukan sebagai lembaran aturan adat istiadat dari zaman dahulu hingga sekarang tetap dilakasanakan pasal demi pasal dalam semua keadaan mengenai keadatan.
Empat puluh lima pasal adat negeri Lingga (edet Nenggeri Lingge), munatur murip sibueten sarak opat, kin penguet ni akhlak menegah buet, menyoki belide remet, melumpeti junger, mubantah hakim, menumpang bele,, munyugang edet i engon ku bekase (tata krama dalam sistem bermasyarakat, untuk menjaga ahlakulkarimah, tidak membuat kekerasan atau pemerasan, tidak mengganggu masyarakat, tidak melawan hakim untuk menutupi kesalahan, supaya adat berjalan sesuai dengan harapan (Mahmud Ibrahim, 2007:6).
Kata kiasan adat berbicara tidak mutlak-mutlakan, berjalan memakai tongkat, hakikat sesuatu disimpan dengan baik, syariat dilaksanakan dengan tepat, karena hukum Islam mengenal mana yang hak mana yang batil sementara adat membedakannya. Sesuatu yang wajib harus dilaksanakan pada tempat dan waktunya, sebaliknya yang bukan wajib dapat dilakukan kapan dan dimana saja.
Adat istiadat masyarakat Gayo semua unsur, mulai dari hal yang terkecil sampai yang terbesar mempunyai aturan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Menurut Hakim, (1998:12-13) fungsi dari adat dan makna adat adalah:
1. Adat berasal dari bahasa arab, dengan pengertian melakukan berbagai kebiasan-kebiasaan. Adanya adat dikarenakan manusia hidup berkelompok-kelompok, lalu membuat berbagai keputusan disebut peraturan, untuk mengatasi kepentingan mereka dan dipandang sebagai undang-undang tanpa tertulis.
2. Adat Gayo bernilai spiritual dan beriorientasi kepada ahlakulkarimah, membentuk pergaulan yang berlandaskan agama, adat melaksanakan amar makruf nahi mungkar (salah bertegah benar berpapah). Adat Gayo, jelas menunjang agama (pengertian agama). Perlu disimak adat adalah habluminannas.
3. Adat adalah etos (pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial) masyarakat, terikat dengan : “murip ikanung edet, mate ikanung bumi, murip benar matee suci” (hidup selalu dikandung adat, mati dikandung bumi / tanah, hidup harus benar, mati harus suci).
4. Adat adalah aturan ciri khas dari berbagi suku, tata kelakuan dan kebiasaan. Bagi suku Gayo adat itu: “nge mucap ku atu mulabang ke papan” (sudah melembaga).
5. Adat adalah aturan yang berlaku di daerah tritorial masing-masing, berfungsi laksana undang-undang.
6. Adat adalah pegangan hidup serta pedoman dalam melaksanakan sesuatu perbuatan.
7. Adat Istiadat adalah kata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi ke generasi sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.
Seperti kata pepatah, bahwa agama dengan adat seperti zat dengan sifat. Dalam bahasa berbunyi sebagai berikut:
“Edet mugenal hukum mubeza
Kuet edet muperala agama
Rengang edet benasa nama
Edet menukum musifet ujud
Ukum munukum musifet kalam
Edet sifetni resam, resam itinyo edet
Edet atan astana, hukum atan agama
Dewe hadis ulaken ku firman
Dewe edet ulaken ku empuwe
Edet turah berujud
Fiil turah berupe
Semi turah bertubuh”
“(Adat mencari hukum dijadikan neraca
Bila kuat adat terpeiharalah agama agama
Renggang adat rusaklah nama
Adat menghukum bersifat wujud
hukum menghukum bersifat pasti
Adat sifatnya resam, resam ditinjau adat
Sumber adat dari istana, hukum dalam agama
Berselisih pendapat tentang hadist kembalikan ke firman
Berselisih pendapat tentang adat kembalikan kepada empunya (yang membuatnya Reje, petue, ulama dan masyarakat)
Adat harus dibuktikan
Fiil harus mempunyai rupa
Semi harus bertubuh (Hakim, (1998:14)
Dari pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa adat didalam masyarakat Gayo sangat kuat dan harus direalisasikan, jika suatu adat menjadi keliru maka akan dikembalikan kepada Al Qur`an dan yang membuat adat tersebut.
6. Sistem kemasyarakatan
Sistem yang ada didataran tinggi Gayo dahulu dikenal dengan sistem kerajaan, yang dikenal dengan dinasti Lingga. Sistem pemerintahan kerajaan / tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat (empat unsur dalam satu ikatan terpadu), terdiri dari: raja (Reje),Orang yang dituakan (Petue), Imam (Imem), dan rakyat (Rayat). Mahmud Ibrahim, (2007:63) menyatakan adapun sarak opat tersebut adalah:
1. Raja (Reje:kepala pemerintahan), musuket sifet (berfungsi memelihara keadilan di kalangan rakyatnya).
2. Ulama (Imem), muperlu sunet (berkewajiban membimbing dan melaksanakan ajaran Agama Islam terutama yang fardhu dan sunat yang baik).
3. Petue (orang yang dituakan dan dipandang berilmu), musidik sasat (meneliti dan mengevaluasi keadaan rakyat / masyarakat).
4. rakyat (Rakyat), genap mufakat (bermusyawarah dan mufakat bagi kepentingan negeri atau seluruh masyarakat).
Reje (raja) dan Imem (ulama) memiliki fungsi dan berperan sangat penting dalam pemerintahan, karena raja (Reje) melaksanakan prinsip : edet mu nukum bersifet wujud (adat menjatuhkan hukuman karena ada bukti yang jelas). Imem (ulama) melaksanakan prinsip : ukum mu nukum bersifet kalam (hukum Islam menetapkan hukum berdasarkan firman Allah dan Sunnah Rasulullah).
Keduanya harus serasi dan terpadu dalam rangka mewujudkan : Agama iberet empus, edet ibarat peger (Agama seperti kebun / tanaman, edet seperti pagar tanaman. Menurut Melalatoa dalam Zainal Abidin, (2002:27) masyarakat Gayo sebagai mana masyarakat Aceh lainnya adalah masyarakat yang tergolong taat menjalankan ajaran Agama Islam. Hal ini karena adanya pemahaman ditengah-tengah masyarakat bahwa sistem budaya mereka berasal dari dua sumber, Pertama sumber leluhur yang bermuatan pengetahuan, keyakinan nilai, norma-norma yang kesemuanya dinyatakan edet (adat) serta kebiasaan yang tidak mengikat yang disebut resam, Kedua sumber Agama Islam berupa Akidah, sistem keyakinan, nilai-nilai dan kiadah-kaidah agama disebut dengan hukum.
Di samping itu suku Gayo juga mengenal prinsip-prinsip adat yang mereka anut. Hal ini untuk meluruskan prinsip-prinsip adat yang ada, Zainal Abidin (2002:28) menyatakan bahwa prinsip-prinsip adat tersebut meliputi empat hal yaitu:
1. Dunie terpancang adalah harga diri yang menyangkut hak atas wilayah
2. Nahma teraku adalah harga diri yang menyangkut kedudukan yang sah
3. Bela mutan adalah harga diri yang terusik karena ada anggota kelompoknya yang disakiti atau di ganggu
4. Malu tertawan adalah harga diri yang terusik karena kaum wanita atau kelompoknya diganggu atau difitnah orang lain.

Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim.).
Pada masa sekarang sistem pemerintahan mengikuti sistem pemerintahan nasional. Yang membedakan dengan daerah lain yang ada di Indonesia yaitu terdapat beberapa buah mukim. mukim merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat. Pada pemerintahan yang ada di dataran tinggi Gayo tidak mengenal dengan sistem RT / RW yang ada hanya satu bagian yang disebut sebagai Dusun, dipimpin kepala Dusun dan perangkatnya.
7. Ilmu pengetahuan
Sistem dalam masyakat Gayo dahulu mengenal beberapa teknologi yang manual, seperti dalam bertani, masyarakat mengunakan tenaga kuda, kerbau dalam mengarap sawah. Begitu juga dengan yang lain seperti kerajinan, yaitu seni arsitektur, seni ukir, sulaman, anyaman, dan seni keramik. Dahulu masyarakat selalu mengunakan peralatan tradisonal.
Perkembangan zaman yang semakin canggih tidak mengurangi keinginan untuk mengikuti tantangan zaman. Yaitu masyarakat sudah beralih mengunakan alat yang lebih modern untuk mengembangkan penghidupan dan kesejahteraan.
Para petani yang dahulu mengunakan tenaga kuda / kerbau beralih mengunakan mesin traktor untuk mengarap sawah, para pengrajin dari alat manual beralih ke alat modern.
C. Penutup
a. kesimpulan
Masyarakat tidak pernah lepas dari lingkungan budaya, karena masyarakat Gayo selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya. Sistem dalam masyarakat Gayo mengenal sistem pemerintahan, adat istiadat, teknologi, budaya, bahasa dan religiusitas. Semua itu merupakan sistem yang ada di dataran tinggi Gayo.
Pemerintahan masyarakat Gayo zaman dahulu dikenal dengan Sarak Opat (empat unsur dalam satu ikatan terpadu). Adapaun perangkatnya yaitu; raja, imam, petue dan masyarakat. Lembaga ini yang selalu mengurus dan membina masyarakat demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat dataran tinggi Gayo.
Peralihan dari sistem kerajaan merupakan sebuah revolusi yang terjadi di dataran tinggi Gayo, walaupun perubahan yang terjadi tetapi nilai adat dan nilai budaya tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat dataran tinggi Gayo. Nilai adat, budaya selalu menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Abidin, Zainal. 2002. Makna Simbolik Warna dan Motif Kerawang Gayo pada Pakaian Adat Masyarakat Gayo. Yogyakarta. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodelogi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Hakim, AR. 1998. Hakikat nilai-nilai budaya Gayo. Takengon : Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah
Herum Marwoto, Otok. 2009. Mitos Wayang Kulit Keramat Dilereng Gunung Merbabu. Yogyakarta : Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebuah Makalah.
Ibrahim, Mahmud.2007. Mujahid Dataran Tinggi Gayo. Takengon: Yayasan Maqamamahmuda Takengon.
Tamraj, Mahmud, dkk. 1998. Senirupa Aceh. Aceh.
Yandri. 2009. Pengaruh Budaya Global dalam Lokalitas Budaya Tradisi. Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebuah makalah
www.google.Ensiklopedia Aceh, 16 Juni 2009), diakses 13 Januari 2011
http://athawilaga Grafis.blogspot.com

Kamis, 13 Januari 2011

PERAN SENI RUPA DALAM PERTUNJUKAN TEATER

PERAN SENI RUPA DALAM PERTUNJUKAN TEATER
Oleh: Ansar Salihin
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk yang mengenal keindahan (animal a esthetikum). Manusia dalam usaha menuju ke arah penyempurnaan hidupnya memiliki dorongan dan keiinginan untuk memperbaikai diri. jadi manusia dalam Kesenian merupakan salah satu unsur dari kebudayaan manusia, setiap manusia memiliki nilai seni dalam dirinya. Hal ini terungkap dalam nilai seni atau keindahan tersebut manusia berekpresi menghasilkan karya-karya seni yang didalamnya terdapat nilai-nilai estetika.
Seni adalah sesuatu yang bersifat indah atau keindahan, baik itu berupa bentuk, suara atau vokal, gerak maupun pengabungan antara ketiganya yang masuk dan melekat nilai keindahanya didalam diri manusia. Pada dasarnya seni di bentuk oleh tiga elemen utama, yaitu: suara atau vokal yang erat hubunganya dengan seni musik dan seni vokal, kemudian gerak yang erat hubungannya dengan seni tari dan sejenisnya, kemudian bentuk yang berhubungan langsung dengan seni rupa.
Perkembangan seni, dari ketiga ini digabungkan antara gerak, suara dan bentuk terbentuklah seni teater, penggabungan keempatnya yang dibantu oleh peralatan lain terbentuklah seni perfilman dan perkembangan seni lainya. Sehingga para seniman-seniman membagi seni itu kepada dua kelompok yaitu seni seni rupa dan seni pertunjukan. Seni rupa dibagi kedalam tiga bagian yaitu Seni Kriya, Seni Murni, dan Desain. Sedangkan seni pertunjukan dibagi kedalam tiga kelompok juga yaitu Seni Tari, Seni Teater, dan Seni Musik.
Antara seni rupa dengan seni pertunjukan selalu berhubungan, berkaitan dan saling mendukung antara satu dengan cabang seni lainya. Sehingga setiap seniman harus mengusai setiap cabang seni itu walaupun tidak sepenuhnya. Misalnya seniman lukis harus mengerti tentang teater untuk mengambil ide dalam karyanya begitu juga dengan seniman pertunjukan harus mengetahui tentang seni rupa untuk menata artistiknya. Karena penataan artistik dalam pertunjukan sangat erat hubungannya dengan unsur seni rupa.
Seni rupa adalah salah satu cabang dari seni yang mempunyai bentuk dan rupa baik dua dimensi, tiga dimensi, maupun empat dimensi yang dapat dilihat dan diraba, dan di dalamnya memiliki nilai estetika. Seni rupa sudah lahir sejak adanya manusia dipermukaan bumi ini dan manusia sudah mengenal seni rupa sejak manusia sudah mempunyai kemampuan untuk melihat. Kemampuan manusia untuk melihat adalah bagian dari seni rupa.
Karya seni yang di ciptakan oleh manusia ada yang berbentuk realis dan ada yang berbentuk surealis. Bentuk realis adalah karya seni yang dibuat berdasarkan bentuk aslinya dengan kata lain karya seni yang meniru alam dan hasil karya persis seperti alam. Contohnya seperti karya seni lukisan alam yang sesuai dengan bentuk aslinya. Kemudian bentuk surealis yaitu bentuk karya seni yang dibuat diatas kenyataan atau sebagai simbolis dari suatu banda maupun suatu kejadian. Bahkan hasil dari karyanya membentuk suatu rupa atau benda yang tidak mungkin ataupun yang tidak ada pada kenyataanya. Seperti karya seni lukisan binatang berkepala manusia.
Semua unsur seni rupa diatas sangat berperan dalam seni pertunjukan. Terutama dalam penataaan artistik seperti warna lampu, garis pada peñata rias, tekstur dalam alat pendukung pertunjukan baik itu tekstur semi maupun tekstur bentuk. serta bentuk dan ruang dari pertunjukan. Kemudian penataan panggung dan sudut pandang serta pusat perhatian para penonton terhadap pertunjukan yang ditampilkan.
Teater adalah salah satu cabang seni yang karyanya dipertunjukan dan diperlihatkan kepada kepada orang lain yang didalamya terdapat suatu gerakan, suara, dan bentuk. Teater nilai keindahanya hanya dapat dinikmati waktu pertunjukan saja, setelah selesai pertunjukan kita hanya dapat mengambil pesan dan kesanya saja karena seni teater adalah seni yang dipertunjukan yang tidak mempunyai wujud benda dan cara menikmatinya dengan melihat dan mendengarkan pertujukanya.
Komponen ataupun unsur yang terpenting dalam pertujukan teater adalah Sutradara, Aktor, dan Artistik. Sutradara dalam teater adalah orang yang mengatur prose dalam pertunjukan teater, yang harus dikuasai oleh sutradara adalah naskah pertunjukan, aktor, dan artistik. Aktor adalah orang yang melakukan laku dalam pertujukan dan harus menguasai naskah, naskah, panggung dan artistik. Kemudian Artistik adalah rasa akan keindahan yang mendukung pertunjukan. Penataan artistik adalah penataan atau susunan sesuatu dalam pertujukan agar lebih indah dan menarik.
Antara satu seni dengan seni lainnya saling berkaitan, sehingga para seniman harus menguasai setiap cabang seni tersebut walaupun tidak sepenuhnya. Seni merupakan suatu latihan atau pengolahan didalam diri manusia, yang di latih adalah kepekaan terhadap lingkungan disekeliling kita. Kepekaan yang berhubungan dengan rasa, olah diri terhadap lingkungan sekitar dalam kehidupan kita sehari-hari, ini merupakan bagian dari seni teater. Sedangkan kepekaan yang berhubungan dengan bentuk, rupa, dan sebagainya terhadap lingkungan alam dan sekitarnya di dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari seni rupa.
Antara seni rupa dengan seni teater selalu berhubungan, berkaitan dan saling mendukung antara satu dengan cabang seni lainya. Semua unsur seni rupa sangat berperan dalam dalam seni pertunjukan. Terutama dalam penataaan artistik seperti panataan cahaya atau warna lampu, warna tata busana dan waran pada make up, garis pada peñata rias, tekstur dalam alat pendukung pertunjukan baik itu tekstur semi maupun tekstur bentuk. serta bentuk dan ruang dari pertunjukan. Kemudian penataan panggung dan sudut pandang serta pusat perhatian para penonton terhadap pertunjukan yang ditampilkan.
Seni merupakan suatu latihan atau pengolahan didalam diri manusia, yang di latih adalah kepekaan terhadap lingkungan di sekitar kita. Kepekaan yang berhubungan dengan rasa merupakan bagian dari seni teater. Sedangkan kepekaan yang berhubungan dengan bentuk, dan rupa merupakan bagian dari seni rupa. Disni nampak jelas bahwa antara seni rupa dan seni teater adalah sama-sama melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar di dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis adalah mahasiswa jurusan Seni Kriya Institut Seni Indonesia Padangpanjang dan penggiat seni di Komunitas Seni Kuflet Padangpanajng

Senin, 27 Desember 2010

LAPORAN KEGITAN PRAKTEK LAPANGAN JURUSAN SENI KRIYA


LAPORAN KEGITAN

PRAKTEK LAPANGAN JURUSAN SENI KRIYA
PENGETAHUAN KEBUDAYAAN MELAYU


Oleh:
ANSAR SALIHIN
                                                NIM : 04122010



Dosen pembimbing
Dra. Yuniarti Munaf, M.Pd
Dini Yanuarmi, S.Sn



KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
INSTITUT SENI INDONESIA
PADANGPANJANG
2010/2011

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapakan rasa syukur kepada Allah SWT. Atas rahmat dan ridha Allah SWT sehingga saya dapat menysun laporan kegitan ini dengan tiada rintangan dan halangan apapun, dengan judul “laporan kegitan praktek lapangan jurusan seni kriya”

Laporan kegitan ini dibuat untuk melaporkan kegitan yang dilakukan oleh mahasiswa selama melaksanakan kegitan praktek lapangan pada hari kamis, 23 desember 2010,  di batusangkar dan sawahlunto.

Semoga laporan kegitan ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis kemudian kepada seluruh umat manuasia.  Kemudian  apabila ada kesalahan di laporan kegitan ini kepada pembimbing, tolong diperbaiki baik dari tulisan, makna, maupun yang lainnya.
Wassalam

Padang panjang , 27 desember 2010


Penulis












DAFTAR  ISI

  1. Halaman judul……………………………………………………………..
  2. Kata pengantar…………………………………………………………………1
  3. Daftar isi…………………………………………………………………. 2
  4. Pendahuluan……………………………………………………………… 3
    1. Latar belaakng…………………………………………………….. 3
    2. Manfaat dan tujuan………………………………………………. 4
  5. Pembahasan kagitan……………………………………………………… 6
    1. Nama kegiatan……………………………………………………. 6
    2. Tempat dan waktu………………………………………………… 6
    3. Tempat yang di kunjuangi………………………………………… 6
  6. Penutup………………………………………………………………….. 10
    1. Kesimpulan……………………………………………………..  10
    2. Saran……………………………………………………….…… 10
11. Lampiran ………………….…………………………………… 11











BAB I PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Jurusan Seni Kriya adalah salah satu jurusan yang terdapat di kampus  Institut Seni Indonesia (ISI) Panjangpanjang,  setiap jurusan yang terdapat di ISI Padangpanjang mempunyai anggaran biaya yang dipergunakan untuk peraktek lapangan mahasiswa setiap jurusan yang didampingi oleh para dosen.

Pada tanggal 23 desember 2010 jurusan seni kriya ISI Panjangpanjang mengadakan peraktek lapangan (PL). dimana kegiatan ini setiap tahunnya dilakukan oleh jurusan kriya, baik itu di sekitar sumatera barat maupun di luar sumatera barat. Pad tahun lalu mahasasiswa  mangadakan praktek lapangan atau study tour ke pulau jawa, yaitu Bali, Yogyo, dan tempat lainya. Pada tahun 2010 ini mahasiswa yang didampingi oleh dosen peraktek lapangan  hanya disekitar sumayera barat saja.

Peraktek lapangan yang dilaksanakan oleh jurusan kriya sangat besar manfaatnya bagi mahasiswa dan para dosen serta pihak lembaga dan juga bagi masyarakat umum. Kegiata ini bukan hanya berjalan-jalan menghilangkan kebosanan belajar di ruangan tertutup, tetapi kegiatan menjadi sebuah pelajaran yang sangat baik bagi semua orang kususnya mahasiswa. Dimana mahasiswa, dosen dan pihak lembaga kampus langsung menghadapi masyarakat luas, mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah, dan mengunjungi industri-industri kerajinan yang terdapat di sum atera barat.

Selain itu, mahasiswa juga bisa langsung berkomunikasi dengan masyarakat umum. Gimana caranya mendirikan sebuah industri kerajinan, gimana pengolahannya, gimana pemasaranya, dan sebagainya. Dengan  demikian  keluarga besar jurusan kriya selalu menjalin hubungan silaturrahmi dengan masyarakat luar, kususnya pihak industri. Begitu juga didalam  jurusan menjalin kebersamaan antara mahasiswa dengan mahasiswa dan mahasiswa dengan dosen.


2.      Tujuan dan Manpaat

a.       Tujuan Kegiatan

·        Sebagai ekspresing menghilangkan kejenuhan dan kebosan mahasiswa belajar dan peraktek di ruangan tertutup
·        Menjalin silaturrahmi antara jurusan kriya dengan  masyarakat umum
·        Terbinanya persatuan dan kesatuan di lembaga kususnya jurusan kriya, antara mahasiswa dengan mahasiswa dan antara mahasiswa dengan dosen.
·        Menjalin kebersamaan antar sesame di jurusan kriya
·        Untuk menambah pengalaman mahasiswa
·        Memberi pembelajaran bagi mahasiswa melalui alam dan lingkungan
·        Memberi pembelajaran bagi mahasiswa untuk berhubungan langsung dengan masyarakat umum

b.      Tujuan Penulis.

·        Tujuan pembuatan laporan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
·         Menghasilkan ilmu teori yang didapat di kampus dengan langsung turun ke lapangan, yaitu behadapan dengan masyarakat umum
·         Untuk mendapatkan pengalaman sebagai bahan perbandingan antara teori yang didapat di kampus dengan Praktek lapangan  yang sesungguhnya
·         Meningkatkan  kreativitas mahasiswa dalam penulisan yang bersifat Objektif dan ilmiah


c.       Manpaat Kegiatan

·        Memperoleh informasi dan gambaran umum yang lebih jelas mengenai bagaimana mengelola industri kerajinan, dan mengelola pariwisata yagn bersejarah.
·        Menambah pengalam dan ilmu pengetahuan di luar kampus
·        Memberi motivasi kepada mahasiswa untuk lebih giat belajar
·        Memberi motivasi kepada mahasiswa untuk menggali sejarah secara langsung
·        Dapat melihat dan menilai sendiri bagaimana dampak negatif dan positif dari kerajinan dan tempat wisata yang bersejarah secara langsung, baik itu dari masyarakat, lingkungan dan lain-lain.









BAB II  PEMBAHASAN KEGIATAN
1.      Nama Kegiatan
kegiatan  yang dilaksanakan oleh jurusan seni kriya bernama “Praktek Lapangan Jurusan Seni Kriya” pesertanya adalah seluruh mahasiswa/mahasiswi jurusan seni kriya yang didampingi oleh para pembimbing yaitu para dosen jurusan seni kriya ISI Padangpanjang dan dipimpin oleh ketua jurusan seni kriya Purwo Prihatin., S.Sn, M.Sn.
2.      Tempat dan Waktu
praktek lapangan yang dilaksnakan oleh Jurusan Seni Kriya di Sumatera Barat yaitu berkeliling mulai dari Padangpanjang, Batusangkar, Sawahlunto, Solok, Singkarak dan Kembali ke Padangpanjang, selama satu hari. Pada hari Kamis, 23 Desember 2010, Pukul 08.00 s.d 20.00
3.      Tempat Yang Di Kunjungi
  1. Istano Baso Pagaruyung
Istano Baso Pagaruyung adalah salah satu istana kerajaan yang terdapat di minangkabau yang letaknya di batusangkar. Kerajaan Pagaruyung didirikan seorang peranakan Minagkabau – Majapahit bernama Adityawarman pada 1347. Ia putra Mahesa Anabrang, panglima perang Kerajaan Sriwijaya dan Dara Jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya. Ia juga pernah bersama Mahapatih Gajah Mada menaklukkan Bali dan Palembang. Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira abad ke-16 melalui musafir dan guru agama yang singgah dari Aceh dan Malaka.
Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, sosok yang dianggap pertama kali menyebarkan agama Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi Kesultanan Islam. Raja Islam pertama bernama Sultan Alif.
Kini, Istano Basa, Lebih dari sekadar area wisata. keberadaan Istano Basa menjadi simbol pemersatu, sejarah, dan kejayaan sebuah negeri. Minagkabau bagian penting dari budaya bangsa Indonesia sekaligus sebagai salah satu warisan dunia
Istano Basa Pagaruyung adalah Bangunan Rumah Gadang Minangkabau yang merupakan duplikat aslinya, terbuat dari bahan ijuk sebagai atapnya dan kayu yang mudah terbakar, yang dibangun kembali pada tanggal 27 Desember 1976. Sebelumnya Istano ini adalah merupakan bangunan Rajo Alam yang telah dibakar oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada Tahun 1804. Istano Basa Pagaruyung terdiri dari 11 Gonjong, 72 buah tonggak dan 3 lantai. Bangunan ini dilengkapi dengan surau, tabuah dan rangkiang patah sembilan. Bangunan Istano Pagaruyung terletak pada areal seluas lebih kurang 3,5 ( tiga setengah ) hektar.
Istano Basa Pagaruyung merupakan icon Pariwisata Sumatera Barat yang merupakan kekayaan Sumatera Barat dan melambangkan adat serta budaya Minangkabau terbakar pada hari selasa tanggal 27 Februari 2007 sekitar pukul 19.10 WIB malam. Menurut saksi mata kebakaran disebabkan oleh sambaran petir pada gonjong paling barat yang merupakan salah satu dari dua gonjong yang paling tinggi, lebih kurang 60 meter. Dan menurut informasi dari masyarakat juga cukup banyak alat elektronik milik masyarakat dirumah-rumah yang rusak akibat sambaran petir tersebut.
Kemudian istana tersebut dibangun kembali, dan sampai sekarang sudah hamper siap, tapi pagar tanda pembangunan belum di buka karma ada bangunan yang belum siap.
Kegiatan mahasiswa selama di istana pagaruyung adalah poto bersama kemudian meneliti dan melihat motif-motof ukirang yang terdapat di dinding rumah gadang tersebut, dan membuat sketsa bangunan pagaruyung tersebut.
  1. Kerajian Batu Bara Cendra Lestari
kerajian batu bara cendra lestari  adalah salah satu kerajinan yang terdapat di tanah lapang, kec. Lembah segar, kota sawahlunto. Kerajinan ini berjeniskan aneka souvenir batu bara, bahan pokoknya adalah batu bara. Peralatan yang digunakan untuk mengolah souvenir batu bara adalah pahat ukir lurus ada beberapa jenis, pahat miring, pahat tusuk, dan alat pembantu lainnya seperti ampalas batu asah dan sebagainya. .
Kerajinan batu bara ini dipergunakan untuk hiasan atau cendara mata yang berbentuk karya seni tiga dimensi. Karya kerajinannya antara lain adalah piala, asbak rokok, miniature rumah gadang, tempat tisu, kris, tempat nama, dan souvenir lain yang sifatnya cendra mata.
Tehnik pembutan souvernir antara lain: tehnik ukir, tehnik bubut, tehnik cor, tehnik poles, tehnik raut, dan tehnik lainnya. Agar karya kerajinan ini lebih bagus dan indah pengrajian memberi pewarna dan pinishing anti gores kapada karya yaitu finishing clear pilok.
kerajian batu bara cendra lestari  didirikan oleh Esmanto kelahiran di jawa. Kerajanan ini telah didirikan sepuluh tahun yang lalu, dan beliau sekaligus menjadi pimpinan produksi dan juga pekerja ditempat tesebut. Kebutuhan sehari-harinya di dapatka dari kerajinan tersebut. Karya seni yang terdapat di kerajian batu bara cendra lestari  mempunyai harga yang berpariasi yaitu mulai dari Rp 30. 000 sampai dengan Rp 500. 000 per karya.
  1. Songkek Arena INJ
songkek arena INJ adalah industri kerajinan tenun kain songkek, alamat tempatnya terletak di jalan lintas sumatera, limau purut, silungkaktigo, kec. Silungkok kota sawahlunto. songkek arena INJ didirikan oleh Rita Amril sekaligus sebagai pimpinan produksi, brdiri sekitar dua tahun yang lalu, tetapi kerajian tenunnya sudah lama berdiri seblum berdirninya songkek arena INJ ini.
songkek arena INJ bukan hanya menjual pakaina songkek saja, tapi proses mehani yaiti penggulungan benang ke roda pemutar tenun, proses pembuatan kain, proses menjahit songkek, dan sampai kepada penjualan pakaian songkek. Barang-barang yang dijuala disana antara lain: kopiah, kain jadi, baji jadi, baju adapt minangkabau, selendang, tas, dompet, dan pakaian lainya. Kesemua pakaia tesebbut berjenikan pakaian songkek motif minangkabau.
  1. Seni Anyaman Yakin
seni anyaman yakin terletak di jl lintas sumatera sawahlunto, di tempat ini kusus tempat penjualan barang-barang kerajinn anyaman bambu, anyaman rotan, anyaman rotan, anyaman bengkuang, anyaman serabut, dan lainnya.
Barang-barang kerajianan yang terdapat disana antara lain: sangkar burung, tutup sajian, kaligrafi kayu, tempat ayuanan, miniatur minang tikar bambu dan rotan, tas bengkuang, sandal kayu, dan sebagainya. Semua barang tersebut terbuat dari kayu, rotan, bambu, dan serabut.





BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan
Jurusan sini kriya stiap tahuanya mengadakan perkatek lapangan, dengan tujuan untuk menjalin kerjasa, kebersamaan persatuan di dalam jurusan, selain itu PL sangat besar manpaatnya bagi mahasiswa karana mahasiswa dapat langsung terjun kemasyarkat untuk berkomunikasi langsung dan menunutt ilmu dari alam.
Tempat yang di tuju antara lain adalah
a.       Istano baso pagaruyung di batusangkar
b.      Kerajian batu bara cendra lestari di Sawahlunto
c.       Songkek arena inj di Sawahlunto
d.      Seni anyaman yakin di Sawahlunto
Tempat-tempat tersebut merupakann yang nomor a tempat pariwisata yang bersejarah, sedangkan nomor b-d merupakan sebagian kecil industri kerajinan yang terdapat di sumatera barat. Peraktek lapangan yang dilaksankan oleh jurusan ada melibatka beberapa mata kulyah diantaranya adalah: sejarah kebudayaan Indonesia, pengetahuan kebudayaan melayu, ilmu bahan, das sketsa.
Semoga laporan ini dapat bermanfaan, amin……
3.      saran-saran
·        semoga kegitan ini dapat dilakukan diwaktu yang akan dating
·        kegiatan praktek lapangan ini supaya di lakukan lebih baik lagi untuk yang akan datang daripada sekarang.


LAMPIRAN






















Kerajinan batu bara

 






 


Rabu, 15 Desember 2010

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR


MATA KULYAH  : ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR
DOSEN PEMBIMBING    : Dra. Yuniarty Munaf MPd
                                                  Dra. Mega Kencana M.sn
NAMA                                 : ANSAR SALIHIN
NIM                                       : 04122010
SEMESTER                           : 1 (SATU)
Pokok materi
1.       Manusia dan kebudayaan
2.       Manusia dan peradaban
3.       Manusia sebagai individu dan mahkluk sosial
4.       Manusia, nilai, moral dan hukum




















BAB 1. MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

a.       PENGERTIAN
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa dan rasa. Kata budaya berasal dari bahasa sangsekerta yaitu budhayah-buddhi (budi/akal). Dalam bahasa inggris culture, belanda cultuur, bahasa latin colera(mengolah,mengerjakan, mengembangkan tanah)
Menurut E.B. tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat-istiadat dan kemampuan yang dimiliki oleh anggota masyarakat.
Menurut koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan , milik diri manusia dengan belajar
Manusia adalah individu yang terdiri dari jasad dan roh, yang memili daya cipta, rasa,dan kasra, dan makhluk yang paling sempurna dari makhluk lainnya.
b.      PERWUJUDAN KEBUDAYAAN
Menurut Talcott person (sosiologi), dan Al Kroeber (antropologi) wujud kebudayaan itu adalah sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola.
Menurut koentjaningrat ada 3 wujud kebudayaan
1.       Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma,dan peraturan.
2.       Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.       Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Menurut J.J. Honigmann(1959) ada 3 wujud kebudayaan
1.       Ideas             : ide/ pemikiran
2.       Activities      : aktivitas/ kegiatan
3.       Artifact         : hasil budaya

c.       SUBTASI (ISI) UTAMA BUDAYA

1.       Sistem pengetahuan: akumulasi perjalananan hidup manusia.
2.       Nilai : sesuatu yang baik dan selalu yang di inginkan, di cita-citakan& dianggap penting
3.       Pandangan hidup: pedoman bagi suatu bangsa/masyarakat dalam mengatasi masalah
4.       Kepercayaan
5.       Persepsi : susut pandang, suatu titik tolak pemikiran yang tersusun
6.       Etos kebudayaan: jiwa kebudayaan

d.      SIFAT-SIFAT BUDAYA

1.       Budaya terwujud dan tersalurkan
2.       Budaya telah ada terlebih dahulu dari pada lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3.       Budaya diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya
4.       Budaya mencakup aturan aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan di tiolak, dilarang, dan diijinkan.

e.      SISTEM BUDAYA
Sistem budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri dari fikiran-fikiran , gagasan, konsep serta keyakinan.
Unsur kebudayaan menurut koentjaraningrat.
1.       Sistem pengetahuan
2.       Sistem dan organisasi kemasyarakatan
3.       Kesenian
4.       Bahasa
5.       Sistem mata pencaharian
6.       Sistem teknologi dan peralatan
7.       Sistem religi
Unsur kebudayaan menurut E.B. tylor
1.       Pengetahuan
2.       Kepercayaan
3.       Kesenian
4.       Hukum
5.       Moral
6.       Kebiasaan
7.       Kecakapan
Jenis kebudayaan ada 2
1.       Kebudayaan material (hasil cipta, karsa, yang berwujud benda, alat pengolahan alam, seperti gedung, pabrik, jalan,rumah)
2.       Kebudayaan nonmaterial (hasil cipta, karsa yang berwujud kebiasaan,adat-istiadat,ilmu pengetahuan, seperti norma kelaziman, norma kesusilaan, norma hokum & fashion)

f.        MANUSIA SEBAGAI DAN PENGGUNA KEBUDAYAAN
Tercipta atau terwujudnya suatu kebudayaan adalah sebagai hasil intraksi antara manusia dengan segala isi alam raya ini. Kebudayaan memiliki peran sebahai berikut
1.       Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompok
2.       Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan- kemampuan lain
3.       Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia
4.       Pembeda manusia dengan binatang
5.       Petunjuk bagi manusai bagaimana ia bertindak dan berperilaku dalam pergaulan
6.       Pengaturan agar manusia dapat mengerti bagaimana bertindak dan berbuat
7.       Sebagai modal dasar pembangunan

g.       PENGARUH BUDAYA TERHADAP LINGKUNGAN

Beberapa variable yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan
1.       Physical Environment (lingkungan natural)
2.       Cultural social Environment (aspek kebudayaan beserta proses sosialisasi)
3.       Environment orientation and representation (persepsi dan kepercayaan)
4.       Environment behavior  dan process (bagaimana manusia menggunakan lingkungan)
5.       Out carrist product (hasil tindakan manusia membnagun)

h.      PROBLIMATIKA KEBUDAYAAN

1.       Hambatan budaya berkaitan dengan pandangan hidup dan kepercayaan
2.       Hambatan budaya berkaitan dengan perbedaan persepsi dan sudut pandang
3.       Hambatan budaya berkaitan dengan faktor psikologo dan kejiwaan
4.       Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar
5.       Sikap tradisionalisme yang berperasangka buruk terhadap hal-hal baru
6.       Sikap etnosentrisme(mengagungkan budaya suku bangsanya)
7.       Perkembangan iptek sebagai hasil dari kebudayaan

i.         PERUBAHAN BUDAYA

1.       Perubahan lingkungan alam
2.       Adanya kontak dengan kelompok lain
3.       Karena adanya penemuan
4.       Masyarakat mangadopsi kebudayaan lain
5.       Suatu bangsa memodifikasi cara hidup dengan mengadopsi suatu pengetahuan dan kepercayaan baru.

BAB II. MANUSIA DAN PERADABAN
a.       PENGERTIAN
Menurut Bierens De Hann. Peradaban adalah seluruh kehidupan sosial , politik, ekonomi, dan teknik. Jadi peradapan adalah bidang kehidupan untuk kegunaan yang peraktis. Sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih dan murni berada diatas tujuan yang perraktis hubungan kemasyarakatan
Menurut Oswald spengl (1880-1936) kebudayaan adalah wujud dari seluruh kehidupan adat, industarial filsapat dan sebagainya. Peradapan adalah kebudayaan yang sudah tidak tumbuh lagi sudah  mati
Menurut koentjaraningrat peradapan adalah bagian-bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kebuddayaan.
Dengan demikian peradaban adalah tahap tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang telah dicirikan oleh tingkat ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang telah maju.
b.      HAKIKAT HIDUP MANUSIA
Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga fungsi sebagai mahkluk tuhan, individu dan social budaya. Dimana ketiganya selalu saling berhubungan. Sebagai mahkluk individu harus mengabdi kepada tuhan dan saling berhubungan dengan mahkluk lainnya, dengan adanya hubungan sosial maka terbentuklah sebuah kebudayaan.
Hakikat kebudayaan bagi kehidupan manusia:
1.       Terwujud dan tersalurnyalewat prilaku manusia,
2.       Sudah ada sejak lahirnya generasi dan tetap ada setelah pengganti mati,
3.       Diperlukan manusia yang diwujudkan melalui tingkah laku,
4.       Berisi aturan yang berisi kewajiban, tindakan, larangan dan pantangan
Peradapan pertama yang telah maju menurut v. goldyn chillde. Adalah sbb:
1.       Mesopotamia (8000-4000 sm)
2.       Daerah mesir (5000-3000 SM)
3.       Lembah sungai Indus (2600-2400sm)
4.       Cina utara (2500-300 Sm)
5.       Mesopotamia (3000-500 sm)
6.       Amerika latin (2500-500 sm)

c.       PERADABAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
Menurut selo soemarjan, perubahan soisal adalah perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang mengaruhinsistem sosial, termasuk didalamnya nilain-nilai, sikap-sikap, dan pola perilaku diantara kelompok dalam masyarakat.
Perubahan yang terjadi didalam masyarakat adalah:
·         Kearah mana perubahan dalam masyarakat bergerak bahwa perubahan tersebut meninggalkan faktor yang diubah.
·         Bagaimana bentuk dari perubahan –perubahan  sosial dan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat

Teori dan bentuk perubahan asocial

1.       Teori sebab akibat(causation problem)
Ø  Analisis dialektis
Perubahan sosial yang menelaah syarat-syarat dan keadaan yang mengakibat-kan terjadinya perubahan dalam suatu sistem masyarakat
Ø  Teori tunggal mengenai perubahan sosial
Pola kebudayaan dengan menunjukan kepada satu faktor penyebab.

2.       Teori proses atau arah perubahan
Ø  Teori evolusi unilinier (garis lurus tunggal) perkembangan masyarakat sesuai dengan tahapan tertentu.
Ø  Teori multilinier (menyatakan suatu meteologi didasarkan pada susatu asumsi didapatkan gejala keterturan yang nyata dan signifikan)

d.      TEORI MANGENAI PEMBANGUNAN, KETERBELAKANGAN DAN KETERGANTUNGAN

1.       Teori dependensi (ketergantungan)
Memberikan gambaran melalui melalui analisis dialektesis yaitu gejala-gejala perubajan yang terjadi sehari-hari. Bentuk perubahan menurut soerjono suekanto adalah:
Ø  Perubahaan yang terjadi secara lambat(evolusi) dan secara cepat (revolusi)
Ø  Perubahan pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar.
Ø  Perubahan yang dikehendaki dari perubahan yang tak diinginkan

2.       Penyebab perubahan
Ø  Faktor intern
ü  Bertambahnya dan berkurangnya penduduk
ü  Adanya penemuan baru
ü  Konflik dalam masyarakat
ü  Pemberontakan dalam tubuh masyarakat
Ø  Faktor ekstern
ü  Faktor alam sekitar masyarakat
ü  Adanya kontak antar dua masyarakat yang berbeda budaya

3.       Keseimbangan

Keseimbangan masyarakat adalah syarat yang harus dipenuhi agar masyarakat berfungsi sebagaimana mestinya.keseimbangan sosial merupakan situasi dimana segenap lembaga masyarakat sosial berfungsi dan saling menunjang.
e.      MODERNISASI

1.       Konsep modernisasi
Menurut Cyril Adwin Balck modernisasi adalah rangkaian perubhan hidup manusia yang kompleks yang saling berhubungan, merupakan bagian pengalaman yang universal harapan kebahagian bagi masyarakat.
Menurut koentjaraningrat, modernisasi merupakan usaha penyesuian hidup dengan kontelasi dunia sekarang ini.
2.       Syarat-syarat modernisasi
ü  Cara berfikir ilmiah
ü  Sistem administrasi Negara yang baik
ü  Adanya sistem pengummpulan data yang baik dan teratur
ü  Penciptaan iklim yang baik dari masyarakat
ü  Tingkat organisasi yang tinggi

3.       Cirri-ciri modernisasi
ü  Kebutuhan materi dan ajang persaingan kebutuhan manusia
ü  Kemajuan teknologi, individualisasi, sekularisasi, defernisasi, dan akulturasi.
ü  Modernisasi banyak memberikan kemajuan bagi manusia
ü  Berkat jasanya, hamper semua keinginan manusia tercapai
ü  Melahirkan teori baru
ü  Kehidupan seseorang perhatian relegius.
ü   
BAB III. MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL
a.       INDIVIDU DAN MASYARAKAT

1.       Mnusia sebagai mahkluk individu
Individu berasal dari bahasa latin individuum (tidak terbagi) jadi individu adalah suatu kesatuan lengkap dan tidak terbagi. Manusia sebagai individu adalah memiliki unsur jasmani dan rohani, unsure fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa, dan kemua unsurnya tidak terbagi atau masih menyatu dalam diri manusia.
2.       Manusia sebagai makhluk sosial
Manusia dikatakan sebagai mahkluk sosial karena manusia tidak akan bias hidup sebagai manusia kalau tidak hidup ditengah-tengah manusia. Selain itu yang dikatakan makhluk sosial adalah pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain 
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena:
Ø  Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
Ø  Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
Ø  Manusia memilikikebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Ø  Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

3.       Manusia sebagai makhluk yang berhubungan dengan lingkungan hidup
Hubungan manusia dengan alam ada tiga paham, yaitu:
Ø  Determinisme, menempatkan manusia yang tunduk pada alam, seperti evolusi Darwin(perkembangan dan manusia ditentukan oleh alam), Ratzel (perubhan kebudayaan ditentukan oleh alam), dan hungtington (iklim mempengaruhi kehidupan manusia).
Ø  Posibilisme, perkembangan dan kemajuan IPTEK kemampuan manusia memanfaat-kan alam lingkungan,
Ø  Optimisme teknologi, kemajuan teknologi telah membawa kemajuan pemampaatan sumber daya alam bagi kehidupan manusia, sehingga manusia menganggap dengan teknologi segala Sesuatu bisa dilakukan.

b.      MASYARAKAT

1.       Pengertian
Menurut Fairchild, et al. adalah adanya sekelompok manusia yang menunjukan perhati-an bersama secara mendasar, memilihara kekalaan bersama, perwakilan manusia menurut sejenisnya yang berhubungan satu sama lain secara berkesinambungan.
Masyarakat adalah kumpulan orang yang di dalamnya hidup bersama dalam waktu yang cukup lama.
2.       Unsur dan Ciri-ciri masyarakat
Ø  Kelompok orang/manusia
Ø  Sudah terbentuk dengan lama
Ø  Sudah memiliki sistem dan struktur sosial tersendiri
Ø  Memiliki kepercayaan (nilai), sikap, dan perilaku yang dimilki bersama
Ø  Adanaya kesinambungan dan pertahanan diri
Ø  Memiliki kebudayaan.

3.       Masyarakat setempat (community/komunitas)
Menurut Fairchild, et al. Masyarakat setempat adalah bagian kelompok dari masyarakat dalam lingkup yang lebih kecil, serta mereka lebih terikat oleh tempat. Sedangkan menurut soejono sukanto masyarakat setempat adalah istilah mana menunjukan pada warga-warga sebuah desa, kota, suku atau suatu bangsa.
Jadi komunitas adalah bagian masyarakat yang bertempat tinggal  di wilayah dengan batas-batas tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi lebih besar diantara anggota-anggota.
Unsur dan cirri
Ø  Adanya wilayah atau lokasinya
Ø  Perasaan saling ketergantungan atau saling membutuhkan
Ø  Seperasaan
Ø  Sepenanggungan
Ø  Saling memerlukan

c.       INTERAKSI SOSIAL DAN PELAPISAN SOSIAL

1.       Interaksi sosial
Intetaksi adalah hubungan timbale balik antara satu dengan yang lain, jadi interaksi sosial adalah hubungan individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, dan individu dengan kelompok.
2.       Faktor-faktor Interaksi sosial
Ø  Faktor imitasi, (mamatuhi kaidah-kaedah yang berlaku)
Ø  Faktor sugesti, (seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain diluarnya)
Ø  Faktor indentifikasi (dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain)
Ø  Faktor simpati ( perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain)

3.       Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial
Ø  Adanya kontak sosial ( social contact)
Ø  Adanaya komunikasi
Selain itu inteeraksi sosial dapat terjadi dalam 3 bentuk
ü  Antara orang perorangan
ü  Antara orang perorangan dengan kelompok
ü  Antara kelomok dengan kelompok

4.       Bentuk-bentuk Interaksi sosial
Ø  Interaksi asosiatif
ü  Kerja sama (bargaining/pelaksanaan,cooperation/proses,coalition/ kombinasi)
ü  Akomodasi (keseimbangan)
Ø  Bentuk interaksi disosiatif
ü  Persaingan
ü  Kontravensi
ü  Pertentangan

d.      STRAFIKASI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
Stafikasi merupakan penempatan seseorang dalam lapisan sosial ekonomi tertentu. Strafikasi ada 3 dimensi yaitu:
ü  Dimensi kekayaan
ü  Dimensi kekayaan
ü  Dimensi prestise



BAB IV. MANUSIA, NILAI, MORAL DAN HUKUM

1.       PENGERTIAN
Manusia adalah individu yang terdiri dari jasad dan roh dan mahkluk yang paling sempurna , paling tinggi derajatnya, dan menjadi khalifah di permukaan bumi.
Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat.
Nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek menyangkut segala sesuatu yang baik atau buruk sebagai abtraksi pandangan atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi yang ketat. Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat.

tujuan hukum adalah untuk kepastian hukum semata.Kelompok anti positivisme hukum berpendapat bahwa hukum ditujukan untuk keadilan disamping untuk memberikan kepastian hukum. Kelompok ini lebih mengedepankan keadilan dibandingkan untuk memberikan kepastian hukum (penegakan peraturan perundang-undangan)
2.       HAKIKAT NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
a.       Nilai Dan Moral Sebagai Materi Pendidikan
b.      Nilai moral di Antara Pandangan Objektif dan Subjektif Manusia
c.       Nilai di Antara Kualitas Primer dan Kualitas sekunder

3.       PROBLEMATIKA PEMBINAAN NILAI MORAL
a.       Pengaruh Kehidupan Keluarga Dalam Pembinaan Nilai Moral
b.      Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Pembinaan Nilai Moral
c.       Pengaruh Figur Otoritas Terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu
d.      Pengaruh Media Komunikasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
e.      Pengaruh Otak Atau Berfikir Terhadap Perkembangan Nilai Moral
f.        Pengaruh Informasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
4.       MANUSIA DAN HUKUM
Hukum sebagai kaidah sosial, tidak lepas dari nilai (values) yang berlaku pada masyarakat. Bahkan dapat dikatakan bahwa hukum itu merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Selanjutnya mochtar kusumaatmadja mengatakan “hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai pula atau merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
5.       HUBUNGAN HUKUM DAN MORAL
Antar manusia yang relevan. Antara hukum dan moral terdapat hubungan yang erat sekali, ada pepatah roma yang mengatakan “quid leges sine moribus?” apa artinya undang-undang kalau tidak disertai moralitas? Dengan demikian hukum tidak akan berarti tanpa dijiwai moralitas. Oleh karena itu kualitas hukum harus selalu diukur dengan norma moral, perundang-undangan yang immoral harus diganti. Dengan demikian hukum bisa meningkatkan dampak sosial dari moralitas. Meskipun tidak semua harus diwijudkan dalam bentuk hukum, karena hal itu mustahil. Hukum hanya membatasi diri dengan mengatur hungan