Tampilkan postingan dengan label seni budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

Kendi gayo

KENDI GAYO

Oleh: Ansar Salihin

BAB I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kerajinan merupakan salah satu bagian kebudayaan yang menjadi kebutuhan manusia yang sangat penting dalam kehidupannya. Kehidupan dalam berumah tangga tidak pernah terlepas dari kerajinan, karena kerajinan merupakan bagian dari kehidupan berumah tangga. Pada dasarnya setiap daerah mempunyai kerajinan tersendiri, dimana kerajinan tersebut sudah ada sejak nenek moyang terdahulu dan sebagian masih ada dilestarikan dan dikembangkan sampai sekarang ini. (http://ansar-senibudaya. blogspot.com. Diakses 30 April 2011)
Gayo merupakan salah satu suku yang terdapat di Indonesia yang letaknya di Provinsi Aceh. Terdiri dari beberapa kabupaten, diantaranya Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues, dan ada juga sebagian di Kota Cane. pada dasarnya kerajinan yang terdapat di daerah Gayo sangatlah banyak seperti kerajinan bordir kerawang, kerajinan anyaman tikar, kerajinan kendi, dan kerajinan lainnya ( Hakim, 1998: 4)
Kendi Gayo adalah salah satu peralatan rumah tangga masyarakat Gayo yang terbuat dari campuran tanah liat dan pasir. Kendi ini berfungsi sebagai wadah untuk menampung air minum yang biasa diambil dari sumber mata air di gunung untuk dibawa dan disimpan di rumah.
B. Tujuan dan Manfaat

 Untuk memahai kerajinan Tradisional yang masih berkembang sampai sekarang
 Mengkaji dan Membudayakan kerajinan Gayo
 Dapat menerapkan kerajinan tradidional kepada karya seni kriya yang berkembang

C. Batasan Masalah
Pada dasarnya kerajinan di daerah Gayo sangatlah banyak akan tetapi dalam makalah ini hanya di bahas satu kerajinan saja yaitu kerajinan kendi Gayo
BAB II. PEMBASAN
A. ASAL-USUL KENDI GAYO
Menurut sejarahnya, kendi pertama kali dikenal di India yaitu sejak tahun 2000 SM. Kata kendi berasal dari bahasa Sanskrit India “kundika” yang berarti wadah air minum. Dalam ikonografi Hindu, kundika merupakan atribut dari Dewa Brahma dan Dewa Siwa, sedangkan dalam ajaram Budha kundika merupakan “Awalokisteswara” dan dianggap sebagai salah satu dari delapan belas wadah suci yang dibawa oleh Pendeta Buddha dalam perjalanannya mencari kitab suci (A. Hamid Rasyid, 2001:3).
Di Indonesia, kendi secara khusus sebagai wadah air telah dikenal sejak abad ke-9 M. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya bentuk-bentuk kendi pada relief-relief Candi Borobudur yang dibangun sekitar 824 M., khususnya yang terlihat pada serambi Kamadathu (Waluyono, 2010). Bukti ini diperkuat dengan hasil temuan para arkeolog yaitu beragam kendi di sekitar Candi Borobodur. Menurut para arkeolog, kendi-kendi tersebut digunakan sebagai sarana ibadah oleh umat Budha pada masa lalu. Selain itu, benda gerabah tersebut juga digunakan pada acara Nadran sebagai wadah air untuk menyiram si mayit sebagai simbolisasi penyejuk (Rasyid, 2001:3-4).
Sementara itu, menurut J. Kreemer, seorang peneliti Belanda, sebagaimana dikutip oleh Rasyid, (2001:4), kendi atau yang sekarang dikenal dengan Kendi Gayo baru dikenal oleh masyarakat Gayo pada abad ke-16 M, yaitu ketika Aceh masih merupakan kerajaan Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bentuk dan ragam hias Kendi Gayo banyak dipengaruhi oleh kendi logam dari Timur Tengah. Hal ini dapat dilihat pada bentuknya yaitu hanya mempunyai dua lubang pada bagian atasnya dan cara mengisinya melalui salah satu lubang tersebut. Demikian pula ragam hias yang digunakan yaitu menggunakan desain geometris yang digores halus pada bagian dinding luarnya dengan warna kelabu tua kehitam-hitaman.
Kendi Gayo sebagai hasil kerajinan tangan kaum perempuan masyarakat Gayo dibedakan menjadi empat macam bentuk yang disesuaikan dengan jenis kelamin pemakainya. Masing-masing bentuk memiliki ciri serta fungsi yang berbeda, misalnya Kendi Rawan yang berkaki tinggi dan melebar ke bawah dipakai oleh kaum laki-laki, Kendi Banan yang berbentuk bulat tanpa kaki dipakai kaum perempuan, Kendi Labu yang bentuknya mirip buah labu dipakai oleh sesepuh perempuan, serta Kendi Ganyong yang juga bentuknya mirip buah labu dengan ukuran lebih kecil dipakai oleh anak-anak (Rasyid, 2001:4). Namun secara umum, kegunaan utama kendi bagi masyarakat Gayo adalah sebagai wadah air minum.
B. BAHAN DAN PERALATAN
Bahan baku pembuatan Kendi Gayo terdiri dari dua macam yaitu dah (tanah liat) dan kresik (sejenis pasir yang halus dan berwarna hitam). Pasir ini dipilih karena dapat menimbulkan warna hitam pada kendi yang dihasilkan. Adapun peralatan yang dipergunakan para perajin untuk membuat Kendi Gayo menurut Rasyid, (2001:8-9) adalah sebagai berikut:
• Pelandas, yaitu batu yang permukaannya rata untuk digunakan sebagai landasan adonan tanah liat dan pasir pada proses pembentukan kendi.
• Batu penggilas, yaitu batu berbentuk bulat panjang yang digunakan untuk memipihkan adonan tanah liat dan pasir di atas pelandas.
• Wat atau papan penggebuk, yaitu papan berukuran kecil yang digunakan untuk memukul-mukul bagian luar dinding kendi pada saat pembulatan.
• Atu lenesan atau batu bulat, yaitu digunakan untuk melapisi bagian dalam bakal kendi atau sebagai penahan pada saat kendi tersebut dipukul-pukul.
• Sendok makan, yaitu digunakan untuk mengorek bagian dalam bakal kendi yang menonjol.
• Batu pipih, yaitu batu yang tipis dan licin untuk melincinkan bagian luar bakal kendi.
• Munuk atau pisau, yaitu digunakan untuk meratakan bagian-bagian bakal kendi yang menonjol
• Bulu landak, yaitu digunakan untuk membuat lubang pada bagian-bagian tertentu bakal kendi.
• Mata uang logam, pecahan piring, lidi, dan rader baju, yaitu digunakan untuk membuat ragam hias dengan cara menggoreskannya pada permukaan dinding bakal kendi.
C. BENTUK DAN FUNGSI KENDI GAYO
Pada umumnya kendi yang terdapat di daerah gayo terbagi atas empat macam kendi, dimana keempat kendi tersebut fingsi penggunaannya juga masing-masing. Kendi tersebut diantaranya adalah:
1. Kendi Rawan
Kendi ini berbentuk tinggi langsing, bagian badannya berbentuk seperti labu, dan kakinya berbentuk lingkaran dengan dasar rata. Bagian lehernya yang cukup tinggi dan menyatu dengan penutupnya berfungsi untuk pegangan. Pada bagian penutupnya terdapat beberapa lubang yang berfungsi sebagai jalan untuk memasukkan air ke dalamnya. Sementara pada bagian puncak penutupnya terdapat tonjolan berbentuk kerucut. Kendi ini memiliki corong atau tangkai yang berbentuk silinder dengan ujung mengembung dan bibir corongnya berbentuk melebar. Pada umumnya, hiasan yang digunakan Kendi Rawan adalah motif geometris (garis-garis segitiga dan titik-titik) dengan teknik gores.

2. Kendi Banan
Bentuk Kendi Banan lebih mirip dengan Kendi Rawan. Perbedaannya hanya terletak pada bagian dasar dan bentuk corongnya. Pada bagian dasar Kendi Rawan terdapat kaki berbentuk lingkaran, sedangkan pada Kendi Banan bagian dasarnya berbentuk cembung dan agak lebar sekaligus sebagai perut yang berfungsi untuk menampung air. Dari segi bentuk corong, Kendi Banan memiliki corong yang berbentuk silinder. Adapun hiasan yang biasa digunakan pada Kendi Banan adalah motif geometris dan bunga dengan teknik gores.
Kedua kendi tersebut di atas memiliki nilai sakral yang tinggi dalam upacara adat masyarakat Gayo. Keduanya kerap digunakan sebagai salah satu perangkat di antara benda-benda sakral lainnya sebagai barang bawaan dari mempelai perempuan kepada mempelai laki-laki dalam upacara perkawinan maupun upacara tempah, yaitu upacara memisahkan pengantin perempuan dari orang tuanya untuk bergabung dengan keluarga suaminya.
3. Kendi Labu
Dinamakan Kendi Labu karena bentuknya mirip buah labu. Sejak dulu, buah labu sering menjadi inspirasi penciptaan bagi para perajin gerabah. Hal ini dimungkinkan karena buah labu yang sudah dikeringkan merupakan salah satu wadah air yang pertama-tama digunakan sebelum orang memakai gerabah (Waluyono, 2010). Demikian pula perajin gerabah di Gayo diduga meniru bentuk buah labu tersebut untuk menciptakan Kendi Labu sebagai wadah air minum.
Dari segi bentuk, bagian dasar Kendi Labu berbentuk cembung, namun sedikit lebih gepeng daripada Kendi Banan. Bagian leher kendi ini agak tinggi yaitu berfungsi sebagai tempat pegangan. Sementara itu, bagian bawah kendi berbentuk menggembung.
Berbeda dari kedua jenis kendi yang disebutkan di atas, Kendi Labu tidak memiliki corong atau tangkai dan bibirnya berada di ujung atas leher dengan bentuk melebar. Bibir kendi ini berfungsi sebagai jalan untuk memasukkan air ke dalam kendi sekaligus sebagai tempat untuk minum. Ragam hias kendi ini juga mengunakan motif geometris dengan teknik gores. Menurut fungsinya, kendi ini digunakan sebagai tempat air minum bagi sesepuh perempuan pada upacara adat perkawinan masyarakat Gayo.

4. Kendi Ganyong
Kendi ini juga bentuknya mirip buah labu, namun ukurannya lebih kecil daripada Kendi Rawan maupun Kendi Banan. Selain itu, bentuk bibirnya lebih sempit dari bibir Kendi Labu. Kendi ini juga menggunakan ragam hias geometri dan bunga dengan teknik gores. Kendi jenis ini digunakan sebagai tempat air minum bagi golongan anak-anak pada masyarakat Gayo.
Meskipun kerap digunakan dalam upacara adat, menurut Rasyid, et.al, (2001:16), Kendi Gayo memiliki kegunaan utama sebagai wadah air minum. Bagi masyarakat Gayo, meminum air kendi terasa memiliki aroma yang sengam atau enak. Maka sebab itulah, hampir di setiap rumah penduduk Gayo terdapat seperangkat kendi sebagai wadah air untuk konsumsi keluarga.
D. CARA PEMBUATAN
Proses pembuatan Kendi Gayo cukup sederhana. Meski demikian, proses pembentukan dan pembuatan ragam hiasanya tetap mengandalkan keterampilan tangan para perajin. Ada empat tahapan yang harus dilalui dalam proses pembuatan Kendi Gayo, yaitu:
1. Penyiapan dan Pengolahan Bahan
Tahap penyiapan dimulai dari pengambilan tanah liat di perbukitan dan pasir di dasar sungai yang berada di sekitar permukiman penduduk. Selanjutnya, kedua bahan tersebut diolah dengan menggunakan cara tradisional yaitu pengolahan bahan secara kering. Pertama-tama bahan-bahan ditumbuk sampai halus kemudian disaring untuk membersihkan kotoran atau sampah yang terkandung di dalamnya. Setelah bersih, kedua bahan tersebut dicampur dengan perbandingan 1 (satu) bambu tanah liat dan 3 (tiga) mok pasir atau 2 kilogram tanah liat dan ¼ kilogram pasir. Kemudian campuran kedua bahan tersebut ditambahkan air secukupnya lalu diaduk rata hingga adonan tanah dan pasir menjadi seragam. Adonan tersebut kemudian didiamkan selama satu malam. Sebelum dibentuk menjadi bulatan, adonan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan hingga agak mengeras. Tujuannya adalah agar adonan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan.

2. Pembentukan
Teknik pembentukan yang digunakan oleh para perajin Kendi Gayo di Aceh umumnya menggunakan teknik pijit (pinching), yaitu teknik membentuk kendi dengan cara dipijat-pijat atau ditekan-tekan sesuai dengan desain yang diinginkan. Teknik pijat ini merupakan teknik dasar dalam pembuatan gerabah sebelum dikenal teknik pembentukan yang lain seperti teknik putar (wheel/throwing), teknik cetak (casting), teknik lempengan (slab), teknik pilin (coil), dan gabungan dari beberapa teknik tersebut (I Wayan Mudra, 2010 :20).
Langkah pertama dalam tahap pembentukan ini dimulai dari pembentukan badan kendi. Pada proses ini seorang perajin menggunakan tangan untuk memijat-memijat dan kemudian menjepit-jepit adonan sambil menarik-menarik ke arah yang diinginkan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Untuk membentuk badan kendi digunakan alat papan penggembuk untuk memukul-mukul bagian luar dinding kendi pada saat pembulatan dilakukan. Pada bagian dalam bakal kendi dilapisi batu bulat sebagai penahan pada saat dipukul-pukul. Setelah badan kendi mulai terbentuk, bagian dalam bakal kendi yang menonjol dikorek dengan menggunakan sendok makan agar menjadi lebih halus.
Setelah bentuk badan kendi mulai mengering, langkah selanjutnya adalah membentuk leher dan corong kendi. Adonan tanah liat dan pasir yang masih basah diletakkan di atas badan kendi untuk membentuk leher dan corong kendi. Langkah ini menggunakan pisau untuk meratakan bagian-bagian yang menonjol dan batu tipis yang licin untuk melicinkan bagian luar kendi.

3. Pembuatan Ragam Hias
Sebelum dikeringkan melalui proses pembakaran, bakal kendi yang masih lunak terlebih dahulu diberikan ragam hias pada seluruh bagiannya. Caranya adalah menggores atau mengorek permukaan dinding bakal kendi dengan menggunakan beberapa alat-alat tertentu berupa mata uang logam, pecahan piring, lidi, rader baju, atau tanduk hewan. Jenis motif yang paling menonjol pada Kendi Gayo adalah motif geometris dan bunga.
Menurut Melalatoa (1982:136), selain kedua motif tersebut, Kendi Gayo juga menggunakan motif jenis lain seperti kekukut (bentuk kuku), memayang kekuyang (sejenis tumbuhan ilalang), tapak tikus (tapak tikus), dan sebagainya.

4. Pembakaran
Sebelum dibakar, kendi yang masih lunak terlebih dahulu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan tanpa panas matahari selama 10 hari. Proses pengeringan ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air yang terkandung di dalam bahan dasar kendi yang berasal dari tanah liat. Adapun tujuan dari menghilangkan kadar air tersebut yaitu agar kendi tidak retak atau pecah pada saat pembakaran berlangsung.

Setelah kendi benar-benar kering, barulah dilakukan pembakaran dengan cara tradisional dengan suhu pembakaran 900° C, yaitu kendi-kendi diletakkan di atas tumpukan sampah sebagai bahan pembakaran pada permukaan atau di dalam lubang yang dangkal dan kemudian menyangganya dengan pecahan-pecahan gerabah agar tidak bergerak ketika proses pembakaran berlangsung. Kemudian di antara kendi-kendi tersebut diletakkan daun-daun kering, jerami, tempurung kelapa, dan kulit pinus yang asapnya berfungsi untuk memperkuat struktur kendi dan mengkilapkan warnanya.
Selanjutnya, pembakaran dilakukan selama lebih kurang delapan jam hingga kendi-kendi terlihat menyala bagaikan bara api. Setelah masak, kendi-kendi tersebut didinginkan dan kemudian disimpan di atas para-para atau dapur agar terkena asap setiap saat sehingga warnanya berubah menjadi hitam mengkilap. Setelah itu, kendi siap untuk digunakan sebagai wadah air minum.
E. ARTI DAN MAKNA RAGAM HIAS KENDI GAYO
Bagi masyarakat Gayo, kegunaan kendi lebih penting daripada bentuk ataupun ragam hiasnya. Oleh karena itulah, menurut Melalatoa (1982:134), Kendi Gayo tidak demikian kaya dengan variasi ragam hias. Jika pun hasil kerajinan tangan masyarakat Gayo ini mempunyai ragam hias, umumnya tidak mempunyai arti atau makna tertentu. Para perajin hanya menuangkan ragam hias pada kendi-kendi tersebut dengan meniru ragam hias yang telah digunakan pada benda-benda gerabah sebelumnya yaitu gerabah atau kendi yang di buat oleh nenek moyang orang Gayo terdahulu tanpa mempertimbangkan arti dan maknanya.
Meski demikian, ada beberapa jenis ragam hias pada Kendi Gayo yang memiliki arti dan makna, salah satunya yang paling terkenal adalah ragam hias tapak rama yang mengandung makna kesaktian (Rasyid, 2001:22). .
F. NILAI-NILAI
Kendi bukan sekadar peralatan rumah tangga yang berfungsi untuk menyimpan air minum, tetapi ia merupakan warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo yang sarat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut di antaranya nilai budaya, kreativitas, ekonomi, seni, pemberdayaan perempuan, dan identitas budaya.
1. Nilai Budaya.
Secara fungsional, Kendi Gayo merupakan salah satu perlengkapan baik dalam upacara perkawinan maupun upacara adat tempah masyarakat Gayo. Hal ini menunjukkan bahwa kendi ini memiliki peranan penting dalam upacara adat tersebut. Oleh karena itu, keberadaan Kendi Gayo merupakan ekspresi dari keyakinan masyarakat Gayo dalam menunjukkan eksistensi kebudayaan mereka
(M.J., Melalatoa. 1982: 12)

2. Nilai Kreativitas.
Nilai kreativitas masyarakat Gayo dapat terlihat dari bahan baku yang digunakan membuat kendi. Melalui tanah liat dan pasir mereka mampu menciptakan beragam bentuk kendi yang memiliki fungsi dan nilai-nilai estetis tinggi dalam kehidupan mereka. Dari sini dapat dipahami bahwa masyarakat Gayo juga memiliki pemahaman dan penghayatan yang tinggi terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka (A. Hamid Rasyid, 2001:20).

3. Nilai Ekonomi
Meskipun pada awalnya hanya sebagai wadah air minum untuk keperluan sehari-hari, Kendi Gayo pada perkembangannya mampu mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat Gayo, khususnya para perajin yang tinggal di Kecamatan Blangkejeren. Mereka berkeyakinan bahwa kerajinan membuat gerabah kendi ini merupakan warisan leluhur yang patut dipertahankan karena dapat memberikan kesejahteraan. (A. Hamid Rasyid, 2001:20).



4. Nilai Pemberdayaan Perempuan
Proses pembuatan Kendi Gayo di Kecamatan Blangkejeren umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Hal ini dimungkinkan karena proses pembuatan Kendi Gayo memerlukan ketekunan, kecermatan, dan ketelitian yang tinggi dan hanya merekalah yang dianggap mampu untuk melakukannya. Dengan didukung oleh sumber daya alam yang tersedia kaum perempuan masyarakat Gayo mampu menghasilkan kreasi berupa kendi yang bernilai tinggi (A. Hamid Rasyid, 2001:20).

5. Nilai Identitas
Kendi Gayo memiliki bentuk dan ragam hias yang khas dan unik. Dengan menyebut kata Kendi Gayo sudah tentu akan memberikan identitas budaya bagi masyarakat Gayo di Blangkejeren, Nanggroe Aceh Darussalam. (M.J., Melalatoa. 1982: 12)










BAB III. PENUTUP
A. PENUTUP
Kesenian dan kerajinan merupakan produk budaya suatu bangsa, semakin tinggi nilai kesenian dan kerajinan satu bangsa maka semakin tinggi nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian dan kerajinan tidak pernah lepas dari masyarakat, sebab kesenian juga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan segala bentuk ungkapan cipta, rasa dan karsa manusia.
Kendi Gayo adalah salah satu warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo di Nanggroe Aceh Darussalam yang perlu dilestarikan dan dikembangkan mengingat begitu pentingnya fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pengembangan terhadap hasil kerajinan tangan masyarakat Gayo ini tidak sekadar menggali nilai-nilai budayanya, tetapi juga pada pengembangan nilai ekomonisnya sehingga mampu memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat Gayo.









DAFTAR PUSTAKA
A. Hamid Rasyid, 2001, “ Kendi Gayo dan Masyarakat Gayo”, Balai Pustaka: Jakarta
Hakim, AR. 1998 “Hakikat nilai-nilai budaya Gayo”, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah: Takengon.
Hasan, M. Affan. 1980 “ Kesenian Gayo dan Perkembangannya”, Balai Pustaka: Jakarta.

Hurgronje, C. Snouck, Hasan, Hatta. 1996, “Gayo Maysarakat Dan Kebudayaan” Balai Pustaka: Jakarta.

Anonim. “Blangkejeren, Gayo Lues”, [Online], tersedia di (http://id.wikipedia.org).
I Wayan Mudra. “Proses Pembuatan Gerabah”, [Online], tersedia di (http://jurnal.isi-dps.ac.id),
M.J., Melalatoa. 1982, “Kebudayaan Gayo”, Jakarta: P.N. Balai Pustaka.
Waluyono. “Kendi”, [Online], tersedia di (http://www.pelita.or.id),
www.google.Ensiklopedia Aceh, ( 16 Juni 2009),
http://athawilaga Grafis.blogspot.com,
http://ansar-senibudaya.blogspot.com. s












Lampiran










Gambar 1. Kendi Rawan Gambar 2. Kendi Banan Gambar.3 Kendi sebagai
simbol dan lambang organisasi













Gambar 4. Kendi Ganjong Gambar 5. Kendi Labu Gambar 6. Kendi Ganjong & Banan












Gambar 7. Kendi Rawan & Gambar 8. Motif kendi Rawan Gambar 9. Motif Kendi Banan
Banan

Kamis, 21 April 2011

sejarah seni rupa indonesia

PERKEMBANGAN SENI RUPA INDONESIA

A. Sifat – Sifat Umum Seni Rupa Indonesia
1. Bersifat tradisional/statis
Dengan adanya kebudayaan agraris mengarah pada bentuk kesenian yang berpegang pada suatu kaidah yang turun temurun
2. Bersifat Progresif
Dengan adanya kebudayaan maritim. Kesenian Indonesia sering dipengaruhi kebudayaan luar yang kemudian di padukan dan dikembangkan sehingga menjadi milik bangsa Indonesia sendiri
3. Bersifat Kebinekaan
Indonesia terdiri dari beberapa daerah dengan keadaan lingkungan dan alam yang berbeda, sehingga melahirkan bentuk ungkapan seni yang beraneka ragam
4. Bersifat Seni Kerajinan
Dengan kekayaan alam Indonesia yang menghasilkan bermacam – macam bahan untuk membuat kerajinan
5. Bersifat Non Realis
Dengan latar belakang agama asli yang primitif berpengaruh pada ungkapan seni yang selalu bersifat perlambangan / simbolisme


B. Seni Rupa Prasejarah Indonesia
Jaman prasejarah (Prehistory) adalah jaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme)
Jaman prasejarah Indonesia terbagi atas: Jaman Batu dan Jaman Logam

1. Seni Rupa Jaman Batu
Jaman batu terbagi lagi menjadi: jaman batu tua (Palaeolithikum), jaman batu menengah (Mesolithikum), Jaman batu muda (Neolithikum), kemudian berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman megalithikum (Batu Besar)
Peninggalan – peninggalannya yaitu:
a. Seni Bangunan
Manusia phaleolithikum belum meiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda – tanda adanya karya seni rupa dimulai dari jaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan
Kemudian jaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu / bambu
Pada jaman megalithikum banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofaq, meja batu dll
b. Seni Patung
Seni patung berkembang pada jaman Neolithikum, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian jaman megalithikum banyak itemukan patung – patung berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural
c. Seni Lukis
Dari jaman Mesolithikum ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegang perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada jaman neolithikum dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan – bangunan dan benda – benda kerajinan sebagai hiasan ornamentik (motif geometris atau motif perlambang)

2. Seni Rupa Jaman Logam
Jaman logam di Indonesia dikenal sebagai jaman perunggu, Karena banyak ditemukan benda – benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:
1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang
2) Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hany satu kali pakai (tidak bisa diulang)

C. Seni Rupa Indonesia Hindu
Kebudayaan Hindu berasal dari India yang menyebar di Indonesia sekitar abad pertama Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama dan politik. Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan istana dan feodal). Prose akulturasi kebudayan India dan Indonesia berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan proses:
a. Proses peniruan (imitasi)
b. Proses Penyesuaian (adaptasi)
c. Proses Penguasaan (kreasi)

1. Ciri – Ciri Seni rupa Indonesia Hindu
a. Bersifat Peodal, yaitu kesenian berpusat di istana sebagai medi pengabdian Raja (kultus Raja)
b. Bersifat Sakral, yaitu kesenian sebagai media upacara agama
c. Bersifat Konvensional, yaitu kesenian yang bertolak pada suatu pedoman pada sumber hukum agama (Silfasastra)
d. Hasil akulturasi kebudayaan India dengan indonesia

2. Karya Seni Rupa Indonesia Hindu
a. Seni Bangunan:
1) Bangunan Candi
Candi berasala dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Dugra). Karenanya candi selalu dihubungkan dengan mnumen untuk memuliakan Raja yang meninggal contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati, selain itu candi pula berfungsi sebagai:
- Candi Stupa: didirikan sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur
- Candi Pintu Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contohnya candi Bajang Ratu
- Candi Balai Kambang / Tirta: didirikan didekat / ditengah kolam, contoh candi Belahan
- Candi Pertapaan: didirikan di lereng – lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda
- Candi Vihara: didirikan untuk tempat para pendeta bersemedhi contohnya candi Sari
Struktur bangunan candi terdiri dari 3 bagian
- Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk denahnya (berbentuk segi empat, ujur sangkar atau segi 20)
- Tubuh candi. Terdapat kamar – kamar tempat arca atau patung
- Atap candi: berbentuk limas an, bermahkota stupa, lingga, ratna atau amalaka
Bangunan candi ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok. Ada dua system dalam pengelempokan candi, yaitu:
- Sistem Konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi berada di tengah – tengah anak – anak candi, contohnya kelompok candi lorojongrang dan prambanan
- System membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia )yaitu induk candi berada di belakang anak – anak candi, contohnya candi penataran
2) Bangunan pura
Pura adalah bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur yang banyak didirikan di Bali. Pura merupakan komplek bangunan yang disusun terdiri dari tiga halaman pengaruh dari candi penataran yaitu:
- Halaman depan terdapat balai pertemuan
- Halaman tengah terdapat balai saji
- Halaman belakang terdapat; meru, padmasana, dan rumah Dewa
Seluruh bangunan dikelilingi dinding keliling dengan pintu gerbangnya ada yang berpintu / bertutup (kori agung) ada yang terbuka ( candi bentar)
- Pura agung, didirikan di komplek istana
- Pura gunung, didirikan di lereng gunung tempat bersemedhi
- Pura subak, didirikan di daerah pesawahan
- Pura laut, didirikan di tepi pantai
3) Bangunan Puri
Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusat keagamaan. Bangunan – bangunan yang terdapat di komplek puri antara lain: Tempat kepala keluarga (Semanggen), tempat upacara meratakan gigi (Balain Munde) dsb
b. Seni patung Hindu Budha
Patung dalam agama Hindu merupakan hasil perwujudan dari Raja dengan Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti: Dewa Brahma Wisnu dan Siwa. Untuk membedakan mereka setiap patung diberi atribut keDewaan (laksana/ciri), misalnya patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan kendaraanhya (wahana) hangsa). Sedangkan pada patung wisnu laksananya adalah para mahkotanya terdapat bulan sabit, dan tengkorak, kendaraannya lembu, (nadi) dsb
Dalam agama Budha bisaa dipatungkan adalah sang Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa dan Dewi Tara. Setiap patung Budha memiliki tanda – tanda kesucian, yaitu:
- Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha)
- Diantara keningnya terdapat titik (urna)
- Telinganya panjang (lamba-karnapasa)
- Terdapat juga kerutan di leher
- Memakai jubah sanghati
c. Seni hias Hindu Budha
Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa
Oleh sebab itu Candi selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu dengan motif flora dan fauna serta mahluk azaib. Bentuk hiasan candi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1) Hiasan Arsitektural ialah hiasan bersifat 3 dimensional yang membentuk struktur bangunan candi, contohnya:
- Hiasan mahkota pada atap candi
- Hisana menara sudut pada setiap candi
- Hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu
- Hiasan makara, simbar filaster,dll
1) Hiasan bidang ialah hiasan bersifat dua dimensional yang terdapat pada dinding / bidang candi, contohnya
- Hiasan dengan cerita, candi Hindu ialah Mahabarata dan Ramayana: sedangkan pada candi Budha adalah Jataka, Lalitapistara
- Hiasan flora dan fauna
- Hiasan pola geometris
- Hiasan makhluk khayangan

3. Kronologis Sejarah Seni rupa Hindu Budha
a. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Tengah, terbagi atas:
1) Jaman Wangsa Sanjaya
Candi – candi hanya didirikan di daerah pegunungan. Seni patungnya merupakan perwujudan antara manusia dengan binatang (lembu atau garuda)
2) Jaman Wangsa Syailendra
Peninggalan candinya : kelompok Candi Prambanan, Kelompok Candi Sewu, Candi Borobudurm, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Mendut Dan Kelompok Candi Plaosan
Seni patungnya bersifat Budhis, contohnya patung Budha dan Budhisatwa di Candi Borobudur
b. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Timur, terbagi atas:
1) Jaman Peralihan
Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda – tanda gaya seni jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga
2) Jaman Singasari
Pada seni bangunannya sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi singosari, candi kidal, dan candi jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung Prajnaparamita, Bhairawa dan Ganesha.
3) Jaman Majapahit
Candi – candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali / andhesit peninggalan candinya: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dll
Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan gaya klasik Jawa Tengah, melainkan gaya magis monumental yang lebih menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian batik dan perhiasan khas Indonesia. Selain patung dari batu juga dikelan patung realistic dari Terakotta (tanah liat) hasil pengaruh darin Campa dan China, contohnya patung wajah Gajah Mada
c. Seni Rupa Bali Hindu
Di Bali jarang ditemukan candi sebab masyarakatnya tidak mengenal Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah Pura dan Puri. Pura sebagai bangunan suci tetapi di dalamnya tidak terdapat patung perwujudan Dewa karena masyarakat Bali tidak mengenal an-Iconis yaitu tidak mengebal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung hanya sebagai hiasan saja

4. Perbedaan Gaya Seni Jawa Tengah Dengan Jawa Timur
a. Perbedaan struktur bangunan candi
- Candi Jateng terbuat dari batu adhesit, sedangkan di Jatim terbuat dari batu bata
- Candi Jateng bentuknya tambun, sedangkan di Jatim bentuknya ramping
- Kaki candi Jateng tidak berundak sedangkan di Jatim berundak
- Atap candi Jateng pendek, sedangkan di Jatim lebih tinggi
- Kumpulan candi di Jateng dengan system konsentris, sedangkan di Jatim dengan system membelakangi
b. Perbedaan pada seni patungnya
- Patung – patung di Jateng hanya sebagai perwujudan Dewa/Raja sedangkan di Jatim ada pula perwujudan manusia bisaa
- Seni patung Jateng bergaya simbolis realistis, sedangkan di Jatim jaman Singasari bergaya klasisitis dan jaman Majapahit bergaya magis monumental
- Prambandala (lingkaran kesaktian) pada patung Jateng terdapat pada bagian belakang kepala, sedangkan di Jatim terdapat di bagian belakang seluruh tubuh menyerupai lidah api
- Pakaian Raja / Dewa pada seni patung Jateng masih dipengaruhi tradisi India, sedangkan di Jatim khas Indonesia seperti pakaian batik, selendang dan ikat kepala
c. Perbedaan hiasan candi
- Hiasan adegan cerita pada candi Jateng bergala realis, sedangkan di Jatim bergaya Wayang (distorsi)
- Adegan cerita pada candi Jateng hanya tentang Mahabarata dan Ramayana, sedangkan di Jatim ada pula adegan cerita asli Indonesia, misalnya cerita Panji
- Motif hias pada candi di Jateng bersifat Hindu dan Budha sedangkan di Jatim ada pula hias asli Indonesia sperti motif penawakan dan gunungan serta perlambangan
- Hiasan pada candi di Jatim lebih padat dan dipusatkan pada seni Cina seperti motif awan dan batu karang

D. Seni Rupa Indonesia Islam
Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M oleh para pedagang dari India, Persia dan Cina. Mereka menyebarkan ajaran Islam sekligus memperkenalkan kebudayaannya masing – masing, maka timbul akulturasi kebudayaan
Seni rupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di istana – istana sebagai media pengabdian kepada para penguasa (Raja/Sultan) kemudian dalam kaitannya dengan penyebaran agama Islam, para walipun berperan dalam mengembangkan seni di masyarakat pedesaan, misalnya da’wah Islam disampaikan dengan media seni wayang

1. Ciri – Ciri Seni Rupa Indonesia Islam
a. Bersifat feodal, yaitu kesenian yang bersifat di istana sebagai media pengabdian kepada Raja / sultan
b. Bersumber dari kesenian pra Islam (seni prasejarah dan seni Hindu Budha)
c. Berperan
2. Karya Seni Rupa Indonesia Islam
a. Seni Bangunan
1. Mesjid
Pengaruh hindu tampak pada bagian atas mesjid yang berbentuk limas bersusun ganjil (seperti atap Balai Pertemuan Hindu Bali), contohnya atap mesjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten
2. Istana
Istana / keraton berfungsi sebagai tempat tinggal Raja, pusat pemerintahan. Pusat kegiatan agama dan budaya. Komplek istana bisaanya didirikan di pusat kota yang dikelilingi oleh dinding keliling dan parit pertahanan.
3. Makam
Arsitektur makam orang muslimin di Indonesia merupakan hasil pengaruh dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah tampak pada bentuk makam seperti punden berundak. Sedangkan pengaruh hindu tampak pada nisannya yang diberi hiasan motif gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat India yaitu pada makam yang beratap sungkup
b. Seni Kaligrafi
Seni kaligrafi atau seni khat adalah seni tulisan indah. Dalam kesenian Islam menggunakan bahasa arab. Sebagai bentuk simbolis dari rangkaian ayat – ayat suci Al – Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi, yaitu:
1) Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan
2) Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar
3) Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan seperti kaligrafi karya AD. Pireus dan Ahmad Sadeli
c. Seni Hias
Seni hias islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup secara realis, maka untuk penyamarannya dibuatkan stilasinya (digayakan) atau diformasi (disederhanakan) dengan bentuk tumbuh – tumbuhan

E. Seni Rupa Indonesi Modern
Istilah “modern” dalam seni rupa Indonesia yaitu betuk dan perwujudan seni yang terjadi akibat dari pengaruh kaidah seni Barat / Eropa. Dalam perkembangannya sejalan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan
1. Masa Perintis
Dimulai dari prestasi Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), seorang seniman Indonesia yang belajar kesenian di eropa dan sekembalinya di Indonesia ia menyebarkan hasil pendidikannya. Kemudian Raden Saleh dikukuhkan sebagai bapak perintis seni lukisan modern
2. Masa seni lukis Indonesia jelita / moek (1920 – 1938)
Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis barat yaitu Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smite, R. Locatelli dan lain – lain. Ada beberapa pelukis Indonesia yang mengikuti kaidah / teknik ini antara lain: Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi dan Wahid Somantri
3. Masa PERSAGI (1938 – 1942)
PERSAGI (Peraturan Ahli Gambar Indonesia) didirikan tahun 1938 di Jakarta yang diketuai oleh Agus Jaya Suminta dan sekreTarisnya S. Sujoyono, seangkan anggotanya Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, Emira Sunarsa (pelukis wanita pertama Indonesia) PERSAGI bertujuan agar para seniman Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif dan berkepribadan Indonesia
4. Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945)
Pada jaman Jepang para seniman Indonesia disediakan wadah pada balai kebudayaan Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif ialah: Agus Jaya, Otto Jaya, Zaini, Kusnadi dll. Kemudian pada tahun 1945 berdiri lembaga kesenian dibawah naungan POETRA (Pusat tenaga Rakyat) oleh empat sekawan: Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mansur
5. Masa Sesudah Kemerdekaan (1945 – 1950)
Pada masa ini seniman banyak teroragisir dalam kelompok – kelompok diantaranya:
Sanggar seni rupa masyarakat di Yogyakarta oleh Affandi, Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun, oleh S. Sujiono, Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Djajengasmoro, Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dll
6. Masa Pendidikan Seni Rupa Melalui Pendidikan Formal
Pada tahun 1950 di Yogyakarta berdiri ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang sekarang namanya menjadi STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) yang dipelopori oleh RJ. Katamsi, kemudian di Bandung berdiri Perguruan Tinggi Guru Gambar (sekarang menjadi Jurusan Seni Rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof. Syafe Sumarja. Selanjutnya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) disusul dengan jurusan – jurusan di setiap IKIP Negeri bahkan sekarag pada tingat SLTA
7. Masa Seni Rupa Baru Indonesia
Pada tahun 1974 muncul para seniman Muda baik yang berpendidikan formal maupun otodidak, seperti Jim Supangkat, S. Priaka, Harsono, Dede Eri Supria, Munni Ardhi, Nyoman Nuarta, dll

F. Aliran – Aliran Seni Lukis
Aliran seni lukis muncul di eropa pada abd ke 19 yang dipengaruhi oleh pesatya perkembangan di bidang ilmu dan teknologi. Penemuan teori – teori baru itu kemudian dijadikan kaidah seni yang berlaku dalam ikatan kelompok pendukungnya, maka lahirlah suatu aliran atau faham dalam seni:
1. Kalsisisme, cirinya: Objek lukisan seperti dibuat – buat dekoratif, berkesan indah dan elok. Tokohnya: Watteau, Ringaud, Viee Lebrun, Fragnorad dan Marisot Boucher
2. Neoklasisisme, cirinya objek lukisan sekitar lingungan istana dan tokoh agama, bersifat intelektual dan akademis. Semua bentuk dibatasi dengan garis nyata, berkesan tenang dan agung. Pelopornya Louis Davis kemudian dilanjutkan oleh Ingres
3. Romantisme, cirinya: bertemakan tentang cerita yang dahsyat atau kegemilangan sejarah dan peristiwa yang menggugah perasaan, emosional kaya dengan warna dan kontras cahaya, kesan gerak lebih menonjol bahkan melebihi kejadian sebenarnya. Tokohnya: Teodore Gericault, Delaxroix, Cemille Corot, Rouseau. Millet dll
4. Realisme, cirinya: mengungkapkan kejadian yang sebenarnya dengan objek lukisan tentang rakyat jelata, kemiskinan atau kepahitan hidup, penderitaan dan kesibukan – kesibukan, tokohnya Gustave Courbet dan George Hendrik Breitner
5. Naturalisme, cirinya: melukis objek alam / pemandangan secara visual (forografis) tanpa ada penafsiran lain. Pelukisnya; Rudolf Bonnet, Le Mayeur, R. Locatelli dab Albercth Durer
6. Improsionisme, cirinya: melukis kesan alam secara langsung dan cepat berdasarkan kaidah hukum cahaya, garis kontur / blabar dan kaya dengan warna, pelukisnya : Claude Monet, Degas, Pisarro dll
7. Pointilisme, cirinya: melukis dengan teknik bintik – bintik kecil untuk menampilkan efek cahaya dan warna, pelukisnya Seurat
8. Ekspresionisme, cirinya : hasil ungkapan emosi dan perasaan objeknya menyimpang dari bentuk alam, spontanitas dan kecepatan dalam melukis dana menggunakan warna secara murni. Pelopornya ialah Vincent, Van Gogh dan para pengikutnya: Emil Nolde, Karl Scmidt dan Mondesohn
9. Kubisme, ada dua jenis yaitu Kubisme Analitis cirinya objek lukisan menyerupai susunan balok / kubus yang berkesan 3 dimensi, dan kubisme sintesis cirinya objek lukisan menyerupai susunan bidang trasparan yang berkesan 2 dimensi. Pelukisnya Pablo Picasso, George Braque, Jan Gris, dan Fernand Leger
10. Futurisme, cirinya: menampilkan kesan gerak pada objek dengan cara pengulangan bentuk yang berubah - rubah arah. Pelukisnya: G. Balla, Severini, dan Carlo Carra
11. Abstrak, cirinya melukis hasil ungkapan batin yang tidak ada identifikasinya di dunia nyata dengan mempergunakan kesatuan garis, bidang, warna dan unsur seni rupa lainnya. Pelukisnya : Wassily Kadinsky, Piet Mondrin dan Malevich
12. Dadaisme, cirinya: lukisan seperti kekanak – kekanakan, nihilistic, naïf, lucu, menolak hukum seni dan keindahan. Pelopornya Paul Klee
13. Surrealisme, cirinya: objek lukisan tampak aneh dan asing seolah – olah hanya terdapat di alam impian , pelukisnya Salvador dali, Marc Ghagall Joan Miro dll.
14. Pop Art, cirinya: berkesan seolah – olah sindiran, karikatur, humor dan apa adanya dari objek aa saja dapat ditampilkan walaupun tidak lajim dalam karya seni, senimannya Tom Waselman, Cristo dan lain – lain
15. Optical Art, cirinya: termasuk seni non objektif dengan menampilkan bentuk – bentuk geometris atau garis – garis yang diulang secara teratur rapih dan terperinci dengan warna – warna cemerlang pelukisnya: Jackson Pollok, William de Kooning dan Andy Warhol

Minggu, 28 November 2010

KERAJAAN HINDU BUDHA DI INDONESIA

Bab I PENDAHULUAN
sekitar tahun 2000 SM di sungai Indus (india) masyarakat telah mengenal dan berkembang suatu peradaban yang sangat pesat. Sungai Indus adalah salah satu peradaban yang pertama berkembang di dunia dari lima peradaban lainnya yang tercatat didalam sejarah.
Kepercayaan hindu budha adalah salah satu peradaban yang berasal dari Indus (india) kemudian berkembang keseluruh dunia, termasuk ke nusantara Indonesia. Masuk dan berkembanganya kepercayaan hindu budha di Indonesia menurut ilmu sejarah ada beberapa cara yaitu ada melalui perdagangan, melalui berahmana, satria, dan sudra. Sehingga sampai di Indonesia kepercayaan hindu budha tersebut berkembang yang sangat pesat dan membentuk sebuah kerajaan-kerajaan yang terkenal sampai saat sekarang ini.
Kepercayaan hinda budha masuk ke Indonesia pada awal abad masehi, namun pada abad ke 4 atau tahun 400 M baru mulai tercatat dalam sejarah yang bukti peninggalannya berupa yufa di kerajaan kerajaan.
Sesetelah beberapa abad lamanya pengaruh hindu budha berkembang di Indonesia sehingga terbentuklah kerajaan-kerajaan yang berpengaruh dari hindu budha. Diantaranya adalah kerajaan kutai di sungai Mahakam Kalimantan Timur, karajaan Tarumanegara di jawa barat, kerajaan mataram lama di jawa tengah, karajaan medang kamulan di jawa tengah, kerajaan kadiri, Kerajaan Kaling, Kerajaan Sriwijaya disumatera Selatan Kerajaan Singasari di Tawa Timur, dan Kerajaan Majapahit di Mojokerto.


BAB II. PEMBAHASAN
KERAJAAN-KERAJAAN HINDU BUDHA DI INDONESIA
A. KERAJAAN KUTAI
Kutai adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, kerajaan tersebut terletak di tepi sungai Mahakam, Kalimantan timur, penentuan sebagai kerajaan tertua sebagai kerajaan tertua berdasarkan umur peninggalan raja tersebut.
. Terletak di Tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di Kutai ditemukan prasasti berupa "yupa" yaitu tugu batu yang digunakan dalam upacara kurban. Yupa ini bertuliskan huruf Pallawa dan Bahasa Sankserta, diperkirakan berasal dari tahun 400 M. Dalam Yupa diterangkan mengenai silsilah raja-raja Kutai. Raja Kutai yang pertama adalah Kudungga(nama ini diperkirakan asli orang Indonesia). Kudungga mempunyai putra yang bernama Aswawarman, nama ini diperkirakan berasal dari India sehingga Aswawarman dianggap sebagai "wangsakarta" atau pembentuk keluarga/dinasti. Selain itu ia juga dijuluki "Ansuman" atau dewa matahari. Aswawarman mempunyai putra bernama Mulawarman. Mulawarman adalah raja yang besar yang sangat mulia dan baik budinya. Kebaikan raja itu diwujudkan pemberian hadiah atau sedekah yang berlimpah. Untuk memperingati kemurahan raja itulah para brahmana mendirikan yupa. Seperti yang dijelaskan dalam prasasti Yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Waprakeswara adalah tempat suci untuk memuja dewa Syiwa.

Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam Agama Hindu. Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, ia yang menurunkan raja-raja Kutai.
B. KERAJAAN TARUMANEGARA
Kerajaan Hindu ini terletak di dekat sungai Citarum, Jawa Barat. Kerajaan ini di perkirakan berdiri tahun 450 M. Raja yang paling terkenal adalah Purnawarman. Ia adalah raja yang sangat baik terhadap rakyat, hal ini dibuktikan dengan pembuatan irigasi atau sungai untuk mengairi sawah dan mencegah banjir, sungai ini diberi nama sungai "Gomati". Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara antara lain:
1. Prasasti ciareteun ditemukan didekat muara cisadane. Prasasti itu ditulis pada satu batu besar disertai cap sepasang telapak kaki,
2. Prasasti kebun kopi di cibungbulang, bogor. Dalam prasasti terdaoat dua telapak gajah yang disamakan dengan telapak gajah airawata (gajah kendaraan dewa wisnu)
3. Prasasti Jambu, ini ditemukan di bukit koelangkak, termasuk perkebunan jambu 30 KM dari Bogor, prasasti ini berisi sanjungan, kegagahan, dan keberanian raja purnawarman
4. Prasasti tugu di temukan di ciliching Jakarta utara. Isinya antara lain tentang penggalian sebuah saluran sepanjang 6112 tumbak yang bernama gomati, penggalian dilakukan pada tahun 22 pemerintah raja purnawarman
5. Prasasti lebak ditemukan pada tahun 1947 yang terdiri atas dua baris kalimat. Isinya memuji kebesaran dan keaguangan raja purnawarman.
C. KERAJAAN KALING
Keterangan mengenai kerajaan ini diperoleh dari prasasti Tuk mas. Berdasarkan prasasti ini diperkirakan Kerajaan Kaling berada di sekitar Purwodadi dan Blora. Raja yang terkenal adalah Ratu Sima. Ia dikenal sebagai Ratu yang tegas, jujur, dan bijaksana.

D. KERAJAAN SRIWIJAYA
1. sumber sejarah

Keterangan mengenai kerajaan sriwijaya diperoleh dari berita perjalanan Tsing, seorang pendeta Budha dari Cina. Sriwijaya merupakan kerajaan Budha yang berada di Sumatra Selatan.
Selain dari I-Tsing.keterangan mengenai Sriwijaya juga diperoleh dari Prasasti-prasasti antara lain : Prasasti kedukan bukit yang berisi tentang perjalanan suci Sang Dapunta Hyang, Prasasti Kota Kapur yang berisi permintaan kepada para dewa untuk menjaga kesatuan Sriwijaya, Prasasti Telaga Batu yang berisi kutukan terhadap mereka yang berbuat kejahatan, prasasti Talang tuo dan prasasti Karang Berahi. Raja yang pernah berkuasa adalah Sri Jayanaga, Balaputradewa (raja yang paling terkenal), dan Sri Sanggramawijayatunggawarman. Kerajaan Sriwijaya runtuh akibat serangan Raja Colamanda dari India dan Ekspedisi Pamalayu dari Singosari.

2. kejayaan kerajaan sriwijaya

Kerajaan sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada abad ke-8 dan 9 M. semasa pemerintahan raja balapurtadewa dari dinasti syailendra. Ia merupakn raja yang besar. Demi kemajuan dan kejayaan, ia banyak mengirim para rahib muda untuk belajar diindia, terutama di sekolah nalada. Untuk tinggal para pelajar, balaputradewa menyediakan asrama. Tindakan raja itu diberitakan oleh prasasti yang nalanda di India
3. keruntuhan sriwijaya

Pada abad 11 M sriwijaya mengalami kemunduran, penyebabnya adalah sebagai berikut
• Serangan kerajaan Cholamandala dari india selatan pada tahun 1024 M dan 1040 M. raja sriwijaya bernama sri sanggramawijaya ditawan oleh musuh dan kapal sriwijaya banyak tenggelam dan hancur
• Kekuatan armada laut laut sriwijaya semakin lemah
• Merosotnya aktivitas perdagangan di sriwijaya yang disebabkan oleh keamanan yan kacau
• Berdirinya kerajaan mahapahit pada abad 13 M membuat hilagnya sriwijaya dari kanca sejarah.

4. bukti peninggalan
• Prasasti keukan bukit
• Prasasti talang tuwo
• Prasasti telaga batu
• Prasasti berahi
• Prasasti kota kapur

E. KERAJAAN MATARAM KUNO

Keterangan mengenai kerajaan ini diperoleh berdasarkan prasasti Gunung Wukir, Magelang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Sanjaya dan Raja Sanna (Sanjaya adalah keponakan Sanna. Kerajaan Mataram diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Sanjaya (yang menganut agama Hindu ) dan raja-raja dari Dinasti Syailendra (yang menganut Agama Budha). Setelah Raja Sanjaya meninggal,
Mataram diperintah oleh Rakai Panangkaran. Setelah Panangkaran yang berkuasa adalah Samaratungga, pada masa kekuasaan Samaratungga dibangun Candi Borobudur. Pengganti Samaratungga adalah menantunya yaitu Rakai Pikatan (suami dari Pramodhawardani). Kerajaan Mataram mencapai Puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Raja Balitung.
Pada tahun 929 M, pusat kerajaan Mataram dipindahkan ke Watugaluh (JawaTimur) oleh Empu Sindok. Hal ini dilakukan untuk menghindari ancaman bahaya letusan gunung berapi. Pengganti Empu Sindok adalah Dharmawangsa. Ketika kepemimpinannya terjadi peristiwa "Pralaya Medang" yaitu penyerbuan Mataram oleh Wura Wari (bawahan Darmawangsa yang dihasut oleh Sriwijaya). Pengganti Dharmawangsa sekaligus raja terakhir Mataram adalah Airlangga. Airlangga adalah menantu Dharmawangsa.
Berakhirnya kerajaan mataram karena Airlangga membagi kerajaan menjadi dua untuk menghindari perebutan kekuasaan antara putra Darmawangsa dan putra Airlangga, Mapanji Garasakan. Mataram dibagi menjadi dua yaitu Jenggala atau singosari yang beribu kota di kahuripan dan Panjalu atau Kediri yang beribu kota di Daha.

F. KERAJAAN SINGASARI

Pusat Kerajaan Singosari terletak di Malang, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M, setelah berhasil membunuh Bupati tumapel Tunggul Ametung.
Ken Arok menjadi raja pertama Singasari selama lima tahun dan berhasil memperistri Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi.
Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh Anusapati (anak dari Tunggul Ametung). Pemerintahan Anusapati tidak berjalan lama karena ia dibunuh oleh Tohjaya (anak dari Ken Arok). Tidak lama kemudian Ranggawuni (anak dari Anusapati menuntut kekuasaan dari Tohjaya, tetapi Tohjaya menolak dan mengirimkan pasukan melawan Ranggawuni, dalam pertempuran tersebut Tohjaya melarikan diri dan akhirnya meninggal di daerah Katang Lumbung.
Ranggawuni naik tahta dengan gelar Sri Jaya Wisnu Wardana. Setelah meninggal ia digantikan putranya yaitu Kertanegara. Keruntuhan kerajaan Singasari adalah karena mendapat serangan Jayakatwang dari Kediri.
Bukti peninggalan bercorak hindu budha
• Candi kidal pada masa anusapati
• Patung wisnuwardana raja keempat kerajaan singosari
• Candi jawi.

Penyebab Runtuhnya singasari
• Pemberontakan jayakatwang, raja Kediri yang merupakan raja bawahan kerta Negara
• Dalam pemberontakan itu pasukan militer singosari lemah disebababkan oleh banyaknya pasukan dilibatkan dalam ekspedensi kesumatera, bali, dan daerah lainya.
• Akibat serangan dari Kediri, kertanegara gugur, dan panglima singasari raden wijaya berhasil menylamatkan diri.
• Sehingga pada tahun 1292 M. berakhir sudah kerajaan singasari

G. KERAJAAN MAJAPAHIT

Kerajaan majapahit berdiri pada tahun 1293 M. munculnya kerajaan majapahit erat hubungannya dengan keruntuhan kerajaan singasari. Tokoh yang berperan merintis majapahit adalah raden widjaya, cucu dari mahesa cempaka. Atas anjuran arya wiraraja, rden widjaya menyerahkan diri kepada jayakatwang. Tindakan itu merupakan strategi untuk mencari saat yang tepat melakukan serangan balasan. Berkat jaminan bupati sumenep, raden wijaya dan kawan-kawan diterima di kadiri, bahkanselanjutnya ia diperbolehkan membuka hutan Tarik (sekarang Trowulan) untuk dijadikan desa. Didesa inilah persiapan untuk menggulingkan jayakatwang dilakukan, desa itu pula yang mengawali berdirinya Majapahiit. Raden wijaya berhasil mengaajak pasukan mongol untuk menyerang Kadiri, kedatangan pasukan mongol mula-mula adalah ingin menghancurkan kerajaan Singasari. Namun, saat pasukan mendarat di Turban, singasari telah hancur. Pasukan raden wijaya berthasil merebut kadiri. Kemudian dengan tipu muslihat, pasukan raden wijaya berhsil mengusir pasukan mongol, saat berpesta pora, pasukan raden wijaya melakukan serangan mendadak.
Dengan Kehancuran Kadiri dan kepergian Pasukan mongol, terjadilah kekosongan kekuasaan di Jawa Timur. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh raden wijaya untuk mendirikan sebuah kerajaan baru yang akan disegani di kemudian hari: kerajaan Majapahit.
Kerajaan Majapahit berada di sekitar Delta sungai Brantas, Mojokerto. Raja Majapahit yang pertama adalah Raden Wijaya dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Setelah Raden Wijaya meninggal, Majapahit diperintah oleh Jayanegara.Dalam masa pemerintahannya timbul beberapa pemberontakan antara lain, pemberontakan Nambi, Semi, Ranggalawe, Lembu Sora dan Kuti. Pemberontakan Kuti adalah yang dianggap paling berbahaya karena berhasil menduduki ibukota Majapahit dan Jayanegara terpaksa mengungsi ke daerah Badander. Akhirnya pemberontakan Kuti berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada, dan berkat jasanya ia di angkat menjadi patih Kahuripan. Pengganti Jayanegara adalah Tribuwanatunggadewi. Ketika pemerintahannya timbul pemberontakan Sadeng, pemberontakan ini juga berhasil ditumpas oleh Gajah Mada sehingga ia di angkat menjadi Mahapatih Majapahit. Pada waktu pelantikan ia mengucapkan sumpah yang dikenal dengan "Sumpah Palapa". Isi sumpahnya adalah tidak akan merasakan palapa (istirahat) sebelum menyatukan nusantara di bawah Majapahit. Setelah Tribuwanatunggadewi meninggal ia digantikan putranya yaitu Hayam Wuruk. Majapahit mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di dampingi mahapatih Gadjah Mada.

Keruntuhan kerajaan Majapahit

Sejak abad ke-14 M, Majapahit mengalami kemunduran. Penyebabnya antara lain sebagai berikut:
• Keruntuhan Majapahit antara lain akibat tidak ada tokoh yang cakap dan berwibawa sesudah wafatnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Terjadi Perang paregrek (perang saudara) antara Bhre Wirabumi dan Wikramawardhana, Banyak negeri bawahan Majapahit yang berusaha melepaskan diri, dan Berkembangnya agama Islam di pesisir Pantai Utara Jawa.
• Persengketaan berwal dengan meletusnya perang saudara yang disebut perang paregreg yang berlangsung selama 5 tahun. Walaupun akhirnya dimenangkan oleh Majapahit, persengketaan tidak kunjung selesai. Setelah Suhita wafat,tahta Majapahit direbut oleh adiknya, Bhre Tumapel. Kemudian ibu kota Majapahit terpaksa dipindahkan ke Kahirupan, semasa pemerintahan Rajasawardhana.
• Terjadi kekosongan kekuasaan, sepeninggal Rajasawardhana. Akibatnya, Majapahit tidak mampu mengendalikan wilayah bawahan.
• Munculnya kerajaan islam Demak dan Malaka yang mengambil alih pusat perdagangan di Nusantara.

Peristiwa runtuhnya Majapahit ditandai oleh serangan pasukan Ranawijaya ke Majapahit yang ketika itu dikuasai oleh Bhre Kathabumi, Majapahit dapat direbut. Peristiwa itu diperingati dalam suatu Cendrasengkala (semacam kalimat candi): sirnaila-kertaning-bhumi, yang berarti 1400 saka (sama dengan 1478 M). berarti, pada tahun itulah runtuhnya Majapahit.
Sebetulnya masih ada penguasa di Majapahit sampai abad ke16 M. Namun kerajaan itu tidak memiliki pengaruh lagi. Barulah pada abad ke-16 M itu, Majapahit sama sekali hancur oleh serangan pasukan Demak dibawah pimpinan Adipati Unus.

Buku smp kelas VII, erlangga. Jakarta
http://www.facebook.com/note.php?note_id=384103840654
by Maha Patih Gajah Mada on Sunday, January 3, 2010 at 6:44pm

http://ansar-senibudaya.blogspot.com/2010/11/kerajaan-kerajaan-hindu-budha-di.html