Kamis, 21 April 2011

sejarah seni rupa indonesia

PERKEMBANGAN SENI RUPA INDONESIA

A. Sifat – Sifat Umum Seni Rupa Indonesia
1. Bersifat tradisional/statis
Dengan adanya kebudayaan agraris mengarah pada bentuk kesenian yang berpegang pada suatu kaidah yang turun temurun
2. Bersifat Progresif
Dengan adanya kebudayaan maritim. Kesenian Indonesia sering dipengaruhi kebudayaan luar yang kemudian di padukan dan dikembangkan sehingga menjadi milik bangsa Indonesia sendiri
3. Bersifat Kebinekaan
Indonesia terdiri dari beberapa daerah dengan keadaan lingkungan dan alam yang berbeda, sehingga melahirkan bentuk ungkapan seni yang beraneka ragam
4. Bersifat Seni Kerajinan
Dengan kekayaan alam Indonesia yang menghasilkan bermacam – macam bahan untuk membuat kerajinan
5. Bersifat Non Realis
Dengan latar belakang agama asli yang primitif berpengaruh pada ungkapan seni yang selalu bersifat perlambangan / simbolisme


B. Seni Rupa Prasejarah Indonesia
Jaman prasejarah (Prehistory) adalah jaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme)
Jaman prasejarah Indonesia terbagi atas: Jaman Batu dan Jaman Logam

1. Seni Rupa Jaman Batu
Jaman batu terbagi lagi menjadi: jaman batu tua (Palaeolithikum), jaman batu menengah (Mesolithikum), Jaman batu muda (Neolithikum), kemudian berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman megalithikum (Batu Besar)
Peninggalan – peninggalannya yaitu:
a. Seni Bangunan
Manusia phaleolithikum belum meiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda – tanda adanya karya seni rupa dimulai dari jaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan
Kemudian jaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu / bambu
Pada jaman megalithikum banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofaq, meja batu dll
b. Seni Patung
Seni patung berkembang pada jaman Neolithikum, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian jaman megalithikum banyak itemukan patung – patung berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural
c. Seni Lukis
Dari jaman Mesolithikum ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegang perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada jaman neolithikum dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan – bangunan dan benda – benda kerajinan sebagai hiasan ornamentik (motif geometris atau motif perlambang)

2. Seni Rupa Jaman Logam
Jaman logam di Indonesia dikenal sebagai jaman perunggu, Karena banyak ditemukan benda – benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:
1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang
2) Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hany satu kali pakai (tidak bisa diulang)

C. Seni Rupa Indonesia Hindu
Kebudayaan Hindu berasal dari India yang menyebar di Indonesia sekitar abad pertama Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama dan politik. Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan istana dan feodal). Prose akulturasi kebudayan India dan Indonesia berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan proses:
a. Proses peniruan (imitasi)
b. Proses Penyesuaian (adaptasi)
c. Proses Penguasaan (kreasi)

1. Ciri – Ciri Seni rupa Indonesia Hindu
a. Bersifat Peodal, yaitu kesenian berpusat di istana sebagai medi pengabdian Raja (kultus Raja)
b. Bersifat Sakral, yaitu kesenian sebagai media upacara agama
c. Bersifat Konvensional, yaitu kesenian yang bertolak pada suatu pedoman pada sumber hukum agama (Silfasastra)
d. Hasil akulturasi kebudayaan India dengan indonesia

2. Karya Seni Rupa Indonesia Hindu
a. Seni Bangunan:
1) Bangunan Candi
Candi berasala dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Dugra). Karenanya candi selalu dihubungkan dengan mnumen untuk memuliakan Raja yang meninggal contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati, selain itu candi pula berfungsi sebagai:
- Candi Stupa: didirikan sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur
- Candi Pintu Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contohnya candi Bajang Ratu
- Candi Balai Kambang / Tirta: didirikan didekat / ditengah kolam, contoh candi Belahan
- Candi Pertapaan: didirikan di lereng – lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda
- Candi Vihara: didirikan untuk tempat para pendeta bersemedhi contohnya candi Sari
Struktur bangunan candi terdiri dari 3 bagian
- Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk denahnya (berbentuk segi empat, ujur sangkar atau segi 20)
- Tubuh candi. Terdapat kamar – kamar tempat arca atau patung
- Atap candi: berbentuk limas an, bermahkota stupa, lingga, ratna atau amalaka
Bangunan candi ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok. Ada dua system dalam pengelempokan candi, yaitu:
- Sistem Konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi berada di tengah – tengah anak – anak candi, contohnya kelompok candi lorojongrang dan prambanan
- System membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia )yaitu induk candi berada di belakang anak – anak candi, contohnya candi penataran
2) Bangunan pura
Pura adalah bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur yang banyak didirikan di Bali. Pura merupakan komplek bangunan yang disusun terdiri dari tiga halaman pengaruh dari candi penataran yaitu:
- Halaman depan terdapat balai pertemuan
- Halaman tengah terdapat balai saji
- Halaman belakang terdapat; meru, padmasana, dan rumah Dewa
Seluruh bangunan dikelilingi dinding keliling dengan pintu gerbangnya ada yang berpintu / bertutup (kori agung) ada yang terbuka ( candi bentar)
- Pura agung, didirikan di komplek istana
- Pura gunung, didirikan di lereng gunung tempat bersemedhi
- Pura subak, didirikan di daerah pesawahan
- Pura laut, didirikan di tepi pantai
3) Bangunan Puri
Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusat keagamaan. Bangunan – bangunan yang terdapat di komplek puri antara lain: Tempat kepala keluarga (Semanggen), tempat upacara meratakan gigi (Balain Munde) dsb
b. Seni patung Hindu Budha
Patung dalam agama Hindu merupakan hasil perwujudan dari Raja dengan Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti: Dewa Brahma Wisnu dan Siwa. Untuk membedakan mereka setiap patung diberi atribut keDewaan (laksana/ciri), misalnya patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan kendaraanhya (wahana) hangsa). Sedangkan pada patung wisnu laksananya adalah para mahkotanya terdapat bulan sabit, dan tengkorak, kendaraannya lembu, (nadi) dsb
Dalam agama Budha bisaa dipatungkan adalah sang Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa dan Dewi Tara. Setiap patung Budha memiliki tanda – tanda kesucian, yaitu:
- Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha)
- Diantara keningnya terdapat titik (urna)
- Telinganya panjang (lamba-karnapasa)
- Terdapat juga kerutan di leher
- Memakai jubah sanghati
c. Seni hias Hindu Budha
Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa
Oleh sebab itu Candi selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu dengan motif flora dan fauna serta mahluk azaib. Bentuk hiasan candi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1) Hiasan Arsitektural ialah hiasan bersifat 3 dimensional yang membentuk struktur bangunan candi, contohnya:
- Hiasan mahkota pada atap candi
- Hisana menara sudut pada setiap candi
- Hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu
- Hiasan makara, simbar filaster,dll
1) Hiasan bidang ialah hiasan bersifat dua dimensional yang terdapat pada dinding / bidang candi, contohnya
- Hiasan dengan cerita, candi Hindu ialah Mahabarata dan Ramayana: sedangkan pada candi Budha adalah Jataka, Lalitapistara
- Hiasan flora dan fauna
- Hiasan pola geometris
- Hiasan makhluk khayangan

3. Kronologis Sejarah Seni rupa Hindu Budha
a. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Tengah, terbagi atas:
1) Jaman Wangsa Sanjaya
Candi – candi hanya didirikan di daerah pegunungan. Seni patungnya merupakan perwujudan antara manusia dengan binatang (lembu atau garuda)
2) Jaman Wangsa Syailendra
Peninggalan candinya : kelompok Candi Prambanan, Kelompok Candi Sewu, Candi Borobudurm, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Mendut Dan Kelompok Candi Plaosan
Seni patungnya bersifat Budhis, contohnya patung Budha dan Budhisatwa di Candi Borobudur
b. Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Timur, terbagi atas:
1) Jaman Peralihan
Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda – tanda gaya seni jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga
2) Jaman Singasari
Pada seni bangunannya sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi singosari, candi kidal, dan candi jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung Prajnaparamita, Bhairawa dan Ganesha.
3) Jaman Majapahit
Candi – candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali / andhesit peninggalan candinya: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dll
Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan gaya klasik Jawa Tengah, melainkan gaya magis monumental yang lebih menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian batik dan perhiasan khas Indonesia. Selain patung dari batu juga dikelan patung realistic dari Terakotta (tanah liat) hasil pengaruh darin Campa dan China, contohnya patung wajah Gajah Mada
c. Seni Rupa Bali Hindu
Di Bali jarang ditemukan candi sebab masyarakatnya tidak mengenal Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah Pura dan Puri. Pura sebagai bangunan suci tetapi di dalamnya tidak terdapat patung perwujudan Dewa karena masyarakat Bali tidak mengenal an-Iconis yaitu tidak mengebal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung hanya sebagai hiasan saja

4. Perbedaan Gaya Seni Jawa Tengah Dengan Jawa Timur
a. Perbedaan struktur bangunan candi
- Candi Jateng terbuat dari batu adhesit, sedangkan di Jatim terbuat dari batu bata
- Candi Jateng bentuknya tambun, sedangkan di Jatim bentuknya ramping
- Kaki candi Jateng tidak berundak sedangkan di Jatim berundak
- Atap candi Jateng pendek, sedangkan di Jatim lebih tinggi
- Kumpulan candi di Jateng dengan system konsentris, sedangkan di Jatim dengan system membelakangi
b. Perbedaan pada seni patungnya
- Patung – patung di Jateng hanya sebagai perwujudan Dewa/Raja sedangkan di Jatim ada pula perwujudan manusia bisaa
- Seni patung Jateng bergaya simbolis realistis, sedangkan di Jatim jaman Singasari bergaya klasisitis dan jaman Majapahit bergaya magis monumental
- Prambandala (lingkaran kesaktian) pada patung Jateng terdapat pada bagian belakang kepala, sedangkan di Jatim terdapat di bagian belakang seluruh tubuh menyerupai lidah api
- Pakaian Raja / Dewa pada seni patung Jateng masih dipengaruhi tradisi India, sedangkan di Jatim khas Indonesia seperti pakaian batik, selendang dan ikat kepala
c. Perbedaan hiasan candi
- Hiasan adegan cerita pada candi Jateng bergala realis, sedangkan di Jatim bergaya Wayang (distorsi)
- Adegan cerita pada candi Jateng hanya tentang Mahabarata dan Ramayana, sedangkan di Jatim ada pula adegan cerita asli Indonesia, misalnya cerita Panji
- Motif hias pada candi di Jateng bersifat Hindu dan Budha sedangkan di Jatim ada pula hias asli Indonesia sperti motif penawakan dan gunungan serta perlambangan
- Hiasan pada candi di Jatim lebih padat dan dipusatkan pada seni Cina seperti motif awan dan batu karang

D. Seni Rupa Indonesia Islam
Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M oleh para pedagang dari India, Persia dan Cina. Mereka menyebarkan ajaran Islam sekligus memperkenalkan kebudayaannya masing – masing, maka timbul akulturasi kebudayaan
Seni rupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di istana – istana sebagai media pengabdian kepada para penguasa (Raja/Sultan) kemudian dalam kaitannya dengan penyebaran agama Islam, para walipun berperan dalam mengembangkan seni di masyarakat pedesaan, misalnya da’wah Islam disampaikan dengan media seni wayang

1. Ciri – Ciri Seni Rupa Indonesia Islam
a. Bersifat feodal, yaitu kesenian yang bersifat di istana sebagai media pengabdian kepada Raja / sultan
b. Bersumber dari kesenian pra Islam (seni prasejarah dan seni Hindu Budha)
c. Berperan
2. Karya Seni Rupa Indonesia Islam
a. Seni Bangunan
1. Mesjid
Pengaruh hindu tampak pada bagian atas mesjid yang berbentuk limas bersusun ganjil (seperti atap Balai Pertemuan Hindu Bali), contohnya atap mesjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten
2. Istana
Istana / keraton berfungsi sebagai tempat tinggal Raja, pusat pemerintahan. Pusat kegiatan agama dan budaya. Komplek istana bisaanya didirikan di pusat kota yang dikelilingi oleh dinding keliling dan parit pertahanan.
3. Makam
Arsitektur makam orang muslimin di Indonesia merupakan hasil pengaruh dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah tampak pada bentuk makam seperti punden berundak. Sedangkan pengaruh hindu tampak pada nisannya yang diberi hiasan motif gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat India yaitu pada makam yang beratap sungkup
b. Seni Kaligrafi
Seni kaligrafi atau seni khat adalah seni tulisan indah. Dalam kesenian Islam menggunakan bahasa arab. Sebagai bentuk simbolis dari rangkaian ayat – ayat suci Al – Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi, yaitu:
1) Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan
2) Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar
3) Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan seperti kaligrafi karya AD. Pireus dan Ahmad Sadeli
c. Seni Hias
Seni hias islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup secara realis, maka untuk penyamarannya dibuatkan stilasinya (digayakan) atau diformasi (disederhanakan) dengan bentuk tumbuh – tumbuhan

E. Seni Rupa Indonesi Modern
Istilah “modern” dalam seni rupa Indonesia yaitu betuk dan perwujudan seni yang terjadi akibat dari pengaruh kaidah seni Barat / Eropa. Dalam perkembangannya sejalan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan
1. Masa Perintis
Dimulai dari prestasi Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), seorang seniman Indonesia yang belajar kesenian di eropa dan sekembalinya di Indonesia ia menyebarkan hasil pendidikannya. Kemudian Raden Saleh dikukuhkan sebagai bapak perintis seni lukisan modern
2. Masa seni lukis Indonesia jelita / moek (1920 – 1938)
Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis barat yaitu Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smite, R. Locatelli dan lain – lain. Ada beberapa pelukis Indonesia yang mengikuti kaidah / teknik ini antara lain: Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi dan Wahid Somantri
3. Masa PERSAGI (1938 – 1942)
PERSAGI (Peraturan Ahli Gambar Indonesia) didirikan tahun 1938 di Jakarta yang diketuai oleh Agus Jaya Suminta dan sekreTarisnya S. Sujoyono, seangkan anggotanya Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, Emira Sunarsa (pelukis wanita pertama Indonesia) PERSAGI bertujuan agar para seniman Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif dan berkepribadan Indonesia
4. Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945)
Pada jaman Jepang para seniman Indonesia disediakan wadah pada balai kebudayaan Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif ialah: Agus Jaya, Otto Jaya, Zaini, Kusnadi dll. Kemudian pada tahun 1945 berdiri lembaga kesenian dibawah naungan POETRA (Pusat tenaga Rakyat) oleh empat sekawan: Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mansur
5. Masa Sesudah Kemerdekaan (1945 – 1950)
Pada masa ini seniman banyak teroragisir dalam kelompok – kelompok diantaranya:
Sanggar seni rupa masyarakat di Yogyakarta oleh Affandi, Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun, oleh S. Sujiono, Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Djajengasmoro, Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dll
6. Masa Pendidikan Seni Rupa Melalui Pendidikan Formal
Pada tahun 1950 di Yogyakarta berdiri ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang sekarang namanya menjadi STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) yang dipelopori oleh RJ. Katamsi, kemudian di Bandung berdiri Perguruan Tinggi Guru Gambar (sekarang menjadi Jurusan Seni Rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof. Syafe Sumarja. Selanjutnya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) disusul dengan jurusan – jurusan di setiap IKIP Negeri bahkan sekarag pada tingat SLTA
7. Masa Seni Rupa Baru Indonesia
Pada tahun 1974 muncul para seniman Muda baik yang berpendidikan formal maupun otodidak, seperti Jim Supangkat, S. Priaka, Harsono, Dede Eri Supria, Munni Ardhi, Nyoman Nuarta, dll

F. Aliran – Aliran Seni Lukis
Aliran seni lukis muncul di eropa pada abd ke 19 yang dipengaruhi oleh pesatya perkembangan di bidang ilmu dan teknologi. Penemuan teori – teori baru itu kemudian dijadikan kaidah seni yang berlaku dalam ikatan kelompok pendukungnya, maka lahirlah suatu aliran atau faham dalam seni:
1. Kalsisisme, cirinya: Objek lukisan seperti dibuat – buat dekoratif, berkesan indah dan elok. Tokohnya: Watteau, Ringaud, Viee Lebrun, Fragnorad dan Marisot Boucher
2. Neoklasisisme, cirinya objek lukisan sekitar lingungan istana dan tokoh agama, bersifat intelektual dan akademis. Semua bentuk dibatasi dengan garis nyata, berkesan tenang dan agung. Pelopornya Louis Davis kemudian dilanjutkan oleh Ingres
3. Romantisme, cirinya: bertemakan tentang cerita yang dahsyat atau kegemilangan sejarah dan peristiwa yang menggugah perasaan, emosional kaya dengan warna dan kontras cahaya, kesan gerak lebih menonjol bahkan melebihi kejadian sebenarnya. Tokohnya: Teodore Gericault, Delaxroix, Cemille Corot, Rouseau. Millet dll
4. Realisme, cirinya: mengungkapkan kejadian yang sebenarnya dengan objek lukisan tentang rakyat jelata, kemiskinan atau kepahitan hidup, penderitaan dan kesibukan – kesibukan, tokohnya Gustave Courbet dan George Hendrik Breitner
5. Naturalisme, cirinya: melukis objek alam / pemandangan secara visual (forografis) tanpa ada penafsiran lain. Pelukisnya; Rudolf Bonnet, Le Mayeur, R. Locatelli dab Albercth Durer
6. Improsionisme, cirinya: melukis kesan alam secara langsung dan cepat berdasarkan kaidah hukum cahaya, garis kontur / blabar dan kaya dengan warna, pelukisnya : Claude Monet, Degas, Pisarro dll
7. Pointilisme, cirinya: melukis dengan teknik bintik – bintik kecil untuk menampilkan efek cahaya dan warna, pelukisnya Seurat
8. Ekspresionisme, cirinya : hasil ungkapan emosi dan perasaan objeknya menyimpang dari bentuk alam, spontanitas dan kecepatan dalam melukis dana menggunakan warna secara murni. Pelopornya ialah Vincent, Van Gogh dan para pengikutnya: Emil Nolde, Karl Scmidt dan Mondesohn
9. Kubisme, ada dua jenis yaitu Kubisme Analitis cirinya objek lukisan menyerupai susunan balok / kubus yang berkesan 3 dimensi, dan kubisme sintesis cirinya objek lukisan menyerupai susunan bidang trasparan yang berkesan 2 dimensi. Pelukisnya Pablo Picasso, George Braque, Jan Gris, dan Fernand Leger
10. Futurisme, cirinya: menampilkan kesan gerak pada objek dengan cara pengulangan bentuk yang berubah - rubah arah. Pelukisnya: G. Balla, Severini, dan Carlo Carra
11. Abstrak, cirinya melukis hasil ungkapan batin yang tidak ada identifikasinya di dunia nyata dengan mempergunakan kesatuan garis, bidang, warna dan unsur seni rupa lainnya. Pelukisnya : Wassily Kadinsky, Piet Mondrin dan Malevich
12. Dadaisme, cirinya: lukisan seperti kekanak – kekanakan, nihilistic, naïf, lucu, menolak hukum seni dan keindahan. Pelopornya Paul Klee
13. Surrealisme, cirinya: objek lukisan tampak aneh dan asing seolah – olah hanya terdapat di alam impian , pelukisnya Salvador dali, Marc Ghagall Joan Miro dll.
14. Pop Art, cirinya: berkesan seolah – olah sindiran, karikatur, humor dan apa adanya dari objek aa saja dapat ditampilkan walaupun tidak lajim dalam karya seni, senimannya Tom Waselman, Cristo dan lain – lain
15. Optical Art, cirinya: termasuk seni non objektif dengan menampilkan bentuk – bentuk geometris atau garis – garis yang diulang secara teratur rapih dan terperinci dengan warna – warna cemerlang pelukisnya: Jackson Pollok, William de Kooning dan Andy Warhol

Selasa, 22 Maret 2011

contoh proposal seni kriya

PROPOSAL KARYA SENI

DAMPAK GEMPA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN
KARYA SENI KAYU










Oleh:

Nama : Doli Elfian
Nim : 04112007
Jurusan : Seni Kriya


Proposal ini diajukan untuk mendapatkan dana Kompetisi Karya Seni sebagai Media Apresiasi Jurusan Seni Kriya Bidang Kemahasiswaan STSI Padangpanjang tahun 2009



DEPARTEMEN PENDIDIKAN INDONESIA
SEKOLAH TINGGI SENI INDONESIA (STSI)
PADANGPANJANG
2009
HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul karya seni : Dampak Gampa Sebagai Ide Penciptaan Kaya Seni Kriya
2. Data pengkarya
a. Nama lengkap, nim : Doli Elfian , 04112007
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Jurusan/Prodi : Seni Kriya/S1
3. Alamat pengkarya :
a. Alamat rumah/hp : Jl Soekarno Hatta Gang Seroja Padangpanjang
4. Jangka waktu kegiatan : 5 minggu, 20 November s/d 27 Desember 2009
5. Biaya yang digunakan :
Padangpanjang, 09 November 2009

Mengetahui Pengkarya
Pembimbing HMJ
Jurusan Seni Kriya


Rahmad Washington, S.Sn, M.Sn Doli Elfian
NIP: 197805252003121002 NIM: 04112007



Menyetujui
Ketua Jurusan Seni Kriya



Purwo Prihatin,S.Sn, M,Hum
Nip: 197412042003121003

Dampak gempa sebagai ide penciptaan karya seni kayu

1. Latar Belakang
Karya seni di derah Sumatra Barat secara keseluruhan pada umumnya berbentuk simetri dan asimetri. Kecendrungan bentuk karya-karya seni derah hany berkhas tradisi bahkah sacral adat. Bentuk-bentuk simetri dan asimetri pada umumnya, desaint menyatu dengan keseluruhan corak yang dipengaruhi dan bersumber pada aliran sufi. Layaknya motof-motif yang terlihat pada rumah adat minang, hamper keseluruhan motif cendrung mengarah pada tatanan adat bahkan beraliran sufi.
Karya panel yang berasal; dari minang kabau cendrung menampilkan kondisi dan romantika minang kabau secara tinggi atas nilai keindahanya. Kebanyakan para seniman memanfaatkan momen tradisi akan keindahan minang kabau yang direalisasdikan menjadikan karya-karya seninya. Namun secara harfiah seniman berperan menyampaikan wacana, wahana, saran atau tanggapan serta pandangan melalui karya-karyanya. Hal tersebut merupakan para seniman yang jarang ditemukan disekitar kita. Tidak dapat dimunafikkan bahwa peran seniman cendrung mencari keindahan yang penyampaian akan sebuah karya hany berupa nilai indah, bukan moral.
Berangkat dari hal tersebut, peristiwa Gempa Sumatera Barat 30 September 2009 merupakan kejadian yang sangat memprihatinkan. Hal tersebut seharusnya menyarankan para seniman untuk menyampaikan pesan moralnya melalui karya-karya garapannya. Dalam hal ini pesan yang disampaikan sepantasnya dapat menjadikan seni juga berpengaruh dalam segala hal termasuk dalam hal musibah.
Berdasarkan uraian singkat tersebut, penulis mencoba menggali dan menyampaikan pesan melalui kompetisi seni dalam mengembalikan nilai seni di kalangan mnasyarakat, sehingga pesan tersebut juga terkesan bernilai. Pelahiran yang demikian adalah dalam upaya mengembalikan ma’wah serta peran seni dalam dunia masyarakat umum yakni melalui pengarapan karya kriya kayu ayang berjudul “ Dampak Gempa sebagai ide penciptaan karya seni kriya”.

2. Tujuan dan manfaat
1. Tujuan
a. Sebagai upaya melestarikan nilai-nilai budaya yang ada
b. Sebagai pembelajaran untuk menginggat kembali pada bencana gempa di ranah minang.
c. Mengembangkan serta menciptakan bentuk-bentuk kebaruan dalam karya seni.
d. Sebagai upaya melestarikan kembali nilai-nilai kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Ranah minang.

2. Manfaat
a. Memperkenalkan serta melestarikan kembali bentuk kebudayaan minang ke tengah-tengah masyarakat.
b. Agar karya seni bernuansa Dampak gempa dapat dengan mudah di terima di tengah-tengah masyarakat khususnya Indonesia.
c. Meningkatkan mutu karya-karya yang telah ada sebelumnya sehingga menjadi lebih baik dan serta menambah masukan bagi pencipta karya seni, khususnya di bidang seni kriya kayu.
d. Agar karya yang mengandung nilai tradisi mudah di terima masyarakat.

3. Ide penciptaan
adapun metode yang dipakai dalam proses penggarapan karya seni ini adalah melalui beberapa metode yaitu:
1. Melakukan pendekatan secara langsung pada objek yang menjadi landasan ide dalam penggarapan karya seni ini terutama pada bentuk-bentuk kehancuran pada Dampak gempa di ranah minang.
2. Studi pustaka, yaitu mencari acuan dan data-data melaui buku dan majalah, baik berupa tulisan maupun gambar yang menyangkut dengan vasualisasi karya.
3. Studi Empirik, merupakan pengumpulan data yang diperoleh dari pengamatan dan proses pembentukan karya yang pernah ada yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga berguna untuk menciptakan karya.
a. Kajian sumber penciptaan
Konsep garapan sebuah karya, berawal dari ide. Kemudian konsep ini beranjak kepada proses penciptaan. Berangkat dari Dampak gempa sebagai suatu musibah yang menimpa ranah minang. penulis merumuskan rencana penciptaan karya seni yang bersifat ekspresi atas pemindahan bentuk yang nyata. Gagasan ini memunculkan konsep penciptaan yang menjadi dasar proses penciptaan dalam menciptakan karya-karya ekspresif melalui media kayu dengan ide dasar Dampak gempa yang dilihat secara subjektif.
Produk-produk seni diciptakan seniman dengan bermacam bentuk bersifat inovatif maupun karya hasil kreasi dan menjadi ciri khas seorang seniman dengan tujuan memperbaharui bentuk dan desain agar dapat menambah serta memperbanyak desain-desain baru dari bentuk yang telah ada dan dapat memperkaya hasil karya seni.
Penyempurnaan rancangan adalah suatu evolusi keterampilan yang terus-menerus. Manusia membutuhkan waktu yang lama sekali sehingga sampai pada betnuk-bentuk yang kita lihat sekarang”.
Berdasarkan uraian di atas, menjadi inspirasi penulis untuk menciptakan bentuk Dampak gempa yang akan diterapkan dalam bentuk kriya kayu. Ide penciptaan karya ini tidak terlepas dari pengamatan terhadap aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut di gunakan sebagai rancangan bentuk karya seni, sehingga karya yang di lakukan dapat dipakai atau difungsikan dalam kehidupan. Karya-karya yang akan digarap ini berfungsi sebagai elemen pendukung interior ruang keluarga atau ruang tamu yang dapat melahirkan nuansa yang tertata. Hal ini karena bentuknya sengaja di desain dengan nuansa tidak jauh berbeda dari bentuk asli bertujuan mendapatkan bentuk karya secara kebaruan jadi kepuasan bagi penikmat seni dengan harapan menambah nilai estetis. Harap penulis karya ini sesuai dengan nilai estetis sehingga lebih ekspresif dengan tidak mengubah substansi bentuk aslinya pada Dampak gempa.

b. Landasan teori
Pada dasarnya karya ini merupakan bentuk karya lukisan yang terbuat dari kanfas. Yang biasanya karya lukisan ini diletakkan pada dinding rumah. Fugsinya untuk memperindah ruangan rumah. Pada biasanya lukisan hanyak menampak kan bentuk semu. Dari pada itu penulis ingin mengangkat karya lukisan ini menjadi karya terstur nyata pada karya seni. Menurut Rastiani Sipayung bahwa seni lukisan itu hanya menimbulkan tekstur semu. Dan pada seni teknik ukir memiliki bentuk tekstur yang nyata.
1. Bentuk
Gustami dalam Riswel mengatakan bahwa form (bentuk) merupakan wujud secara keseluruhan sebuaah benda. Menurut Felmen “bentuk” adalah manifestasi dari sebuah objek yang hidup (2006: 186).
Bentuk karya panel ini mempunyai bentuk yakni garis, yang mengambarkan rumah gadang keseluruhannya sama, sedangkan perbedaan antara yang lainnya.
Pada dasarnya form (bentuk) adalah totalitas pada karya seni. Bentuk itu merupakan organisasi atau satu kesatuan atau komposisi dari unsur-unsur pendukung karya. (Kartika, 2004: 30). Bedasarkan pendapat di atas ada dua macam bentuk: pertama visual form yaitu bentuk fisik dari sebuah karya seni atau satu kesatuan dari unsure-unsurpendukung karya seni tersebut. Kedua special form yaitu bentuk yang tercipta karena adanya hubungan timbal balik antara nilai-nilai yang di pancarkan oleh fenomena bentuk fisiknya terhadap tanggapan emosionalnya.

2. Fungsi
Fungsi berhubungan dengan kegunaan dari suatu seperti halnya seni dengan hasi-hasinya menurut Feldman yang di terjamahkan Gustami dalam Riswel (2006: 62) fungsi karya seni akan terus berlangsung untuk memuaskan dan memenuhi kebutuhan seta mengingat kembali pada bencana yang menimpa Ranah Minang.

4. Penciptaan
a. Metode penciptaan
Adapun metode yang di pakai dalam proses pembuatan proposal karya seni ini adalah melalui beberapa metode yaitu:
1. Melakukan pedekatan secara langsung pada objek yang menjadi landasan ise dalam penggarapan karya ini terutama pada bentuk-bentuk dampak gempa.
2. Studi pustaka, yaitu mencari acuan dan data-data melalui buku dan majalah, baik berupa tulisan maupun gambar yang menyangkut dengan visualisasi karya.
3. Studi Empirik, merupakan pengumpulan datayang di peroleh dari pengamatan dan proses praktek pembentukan karya yang pernah ada yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga berguna untuk menciptakan karya dengan bentuk-bentuk dari kreasi baru.




b. Proses penciptaan
1. Gambar acuan

Dampak Gempa
Gambar ini merupakan kondisi yang terjadi pada saat gempa 30 September 2009


Dampak Gempa 2

2. Disain Alternatif























3. Disain Alternatif
























4. Disain Alternatif






















5. Disain terpilih























6. Gambar kerja























c. Bahan, alat dan tehnik
1. Bahan
Bahan terdiri dari bahan utama, bahan pununjang dan bahan pelengkap. Bahan utama adalah bahan pokok yang menjadi media penciptaan karya, sedangkan bahan penunjang adlah bahan-bahan lain yang menjadi kelengkapan penting yang digunakan untuk menciptakan karya. sedangkan bahan pelengkap adalah bahan-bahan yang di gunakan pada waktu finising untuk mempertajam keindahan karya yang diciptakan
a. Bahan Utama.
Bahan utama dalam karyaini adalah kayu Surian.
b. Bahan Penunjang.
Bahan pencipta karya ini adalah bahan lain untuk mendukung karya, dalam hal ini penulis mengunakan:
1) Amplas
2) Kertas HVS
3) Lem Alteco
c. Bahan Finising
1) Melamine Clear gloss.

2. Alat
Peralatan adalah seluruh benda yang digunakan untuk menunjang proses terciptanya sebuah karya seni. Dalam proses penciptaan karya ii penulis mengunakan alat-alat berikut:
a. Alat Manual
Alat-alat manual yang digunakan adalah:
1) Pahat Coret.
2) Pahat Ukir
3) Palu Kayu
Palu kayu adalah sebuah alat pemukul berbentuk palu untuk memukul pahat. Palu kayu dibuat dengan ukuran dan di buat sesuai dengan kebutuhan.
b. Alat Mesin
1) Mesin jig saw, sebagai alat pemotong kayu
2) Mesin Ketam, alat untuk meratakan permukaan kayu
3) Kompressor dan speed merupakan alat untuk finishing
c. Teknik
Merupakan Suwaji Bustami dalm Edi, teknik ukiran terbagi dalm empat bagian, yaitu teknik ukir tinggi, sedang, rendah dan terawang. Adapun teknik yang dipakai adalah:
1. Teknik Ukir Relief Tinggi
Teknik ukir relief tinggi adalah suatu teknik ukir dimana objek dari karya yang akan dibentuk lebih tinggi dari pemukaan kayu, seperti bentuk yang cembung.
2. Teknik Ukir Relief Sedang
Teknik ukir relief sedang adalah teknik ukir dimana objek dari karya yang akan dibentuk tidak tinggi dan tidak pula rendah.
3. Teknik Ukir Relief Rendah
Teknik ukir relief rendahadalah teknik ukir dimana objek dari karya yang akan dibentuk lebih rendah, seperti teknik ukir cekung.
4. Teknik Finishing, teknik ini mengunakan teknik semprot dengan Speed.

5. Kalkulasi biaya
1. Karya I (satu)
a. Kayu Surian 70 cm x 70 cm x 3 cm Rp 323.000.00,-
b. Lem Kayu Rp 7.000.00,-
c. Amplas (kasar dan halus) @2 Rp 16.000.00,-
d. Lem Alteco Rp 50.000.00,-
e. Clear gloss Rp 50.000.00,-
f. Melamin Rp 50.000.00,-
g. Thinner Rp 50.000.00,-
h. Upah Kerja 3 Minggu@ Rp.45.000.00.- Rp 945.000.00,-
Jumlah Rp 1.491.000.00,-

6. Penyajian karya/pameran
Karya ini nanti di pamerkan bersama peserta yang lainnya dalam hal ini langsung diadakan kompetisi antara karya mahasiswa kriya yang lainnya. Tempat pamerannya dilaksanakan di STSI Padangpanjang tepatrnya di depan kantor Jurusan Kriya dengan menggunakan dana kompetisi karya seni.



7. Sistematika Laporan
Halaman Judul Luar
Halaman Judul Dalam
Halaman Pengesahan
Daftar isi
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Penciptaan
b. Tujuan dan Manfaat
c. Metode penciptaan

BAB II KONSEP PENCIPTAAN
a. Sumber Penciptaan
b. Landasan Teori

BAB III PROSES PENCIPTAAN
A. Data Acuan
B. Sketsa Atau Desain Alternatif
C. Bahan, Alat, dan Teknik
D. Proses Perwujudan
E. Kalkulasi Biaya


BAB IV TINJAUAN KARYA
A. Judul
B. Sketssa
C. Disain/Gambar Kerja
D. Foto Karya dan Diskripsi

BAB V PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

8. Jadwal Pelaksanaan

Kegiatan Minggu ke
0 1 2 3 4 5
Persiapan
Elaborasi
Realisasi
Realisasi
Penyelesaian / finising
Penyajian karya

PUSTAKA
- AAM. Djelantik. 1999.Estetika Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni Pertunjukan Bandung, Indonesia.
- Achdrat K. Mihardja, 1998, Polemik Kebudayaan, Jakarta; Balai Pustaka.
- Dharsono Soni Kartika, 2004, Seni Rupa Modern, Bandung; Kekayasa Sains.
- Ismail Hamid, 1991, Masyarakat dan Budaya Melayu, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia Kuala Lumpur.
- Sumarjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. ITB, Bandung.
- Mursal Esten, 1993, Minangkabau tradisi dan perubahan, Anggota IKAP.
- Soedarso SP, 1991, Perkembangan Kesenian Kita, Yogyakarta; Balai Pustaka ISI Yogyakarta.
- SP Gustami, dampak Modernisasi Terhadap Seni Kriya Di Indonesia, Balai Pustaka ISI Yogyakarta.
- Tsuyoshi Kato, 2005, Adat Minangkabau dan Merantau Dalam Perspektif Sejarah, Jakarta; Balai Pustaka.

seni kriya nusantara

SENI KRIYA NUSANTARA


A. Konsep Karya Seni Rupa Terapan
Bentuk kebudayaan yang paling sederhana muncul pada zaman batu. Hal tersebut berkaitan dengan tingkat kecerdasan, perasaan dan pengetahuan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi pada zaman itu. Untuk menunjang kelangsungan hidup, mereka membuat alat-alat dari bahan-bahan yang diperoleh di alam sekitar mereka. Sebagai contoh, kapak genggam dan alat-alat perburuan dibuat dari tulang dan tanduk binatang.
B. Pengertian Seni Kriya
Seni kriya sering disebut dengan istilah Handycraft yang berarti
kerajinan tangan. Seni kriya termasuk seni rupa terapan (applied art) yang selain mempunyai aspek-aspek keindahan juga menekankan aspek kegunaan atau fungsi praktis. Artinya seni kriya adalah seni kerajinan tangan manusia yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan kehidupan sehari-hari dengan tidak melupakan pertimbangan artistik dan keindahan.

C. Unsur Karya Seni Kriya
Seni kriya mengutamakan terapan atau fungsi maka sebaiknya terpenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:

1. Utility atau aspek kegunaan

Security yaitu jaminan tentang keamanan orang menggunakan
barang-barang itu.

Comfortable, yaitu enaknya digunakan. Barang yang enak
digunakan disebut barang terap. Barang-barang terapan adalah
barang yang memiliki nilai praktis yang tinggi.

Flexibility, yaitu keluwesan penggunaan. Barang-barang seni kriya
adalah barang terap yaitu barang yang wujudnya sesuai dengan kegunaan atau terapannya. Barang terap dipersyaratkan memberi kemudahan dan keluwesan penggunaan agar pemakai tidak mengalami kesulitan dalam penggunaannya.

2. Estetika atau syarat keindahan
Sebuah barang terapan betapapun enaknya dipakai jika tidak enak dipandang maka pemakai barang itu tidak merasa puas. Keindahan dapat menambah rasa senang, nyaman dan puas bagi pemakainya. Dorongan orang memakai, memiliki, dan menyenangi menjadi lebih tinggi jika barang itu diperindah dan berwujud estetik.
3. Seni ukir kayu, yaitu kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kayu yang biasanya digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain. Contohnya mebel, relief dan lain-lain.
4. Seni kerajinan anyaman, kerajinan ini biasanya menggunakan bahan rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng gondok, dll. Contohnya: topi, tas, keranjang dan lain-lain.
5. Seni kerajinan batik, yaitu seni membuat pola hias di atas kain dengan proses teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing). Contohnya: baju, gaun dan lain-lain.

seni rupa modern

KARYA SENI MODERN

Sejarah Seni
Sebagai Dasar Pendifinisian
Seni Dan Sebagai Ruanglingkup Seni

Pada dasarnya sejarah merupakan segala sesuatu yang terjadi dimasa lalu yang itu memiliki data-data lengkap serta faktanya dapat dibenarkan dan jelas. Secara filsafat sejarah juga dapat didefinisikan yang telah berlalu layaknya jam, menit, bahkan detik sebelumnya. Namun secara harfiahnya ini tidak dapat menjadi data pembenaran. Hal inilah yang sering terjadi bahwa hal ini selalu relative dan terus menerus dikaji. Secara globalnya pula sejarah selalu berkaitan dengan dimensi waktu.
Pada tahun 1983 beberapa anggota ekspedisi Frobenius mencari karya seni bersejarah berupa lukisan-lukisan prasejarah sepanjang pantai barat irian jaya. Penemuan awal meraka menemukan siluet atau bekas tangan pada sebuah dinding disemenajung abba dekat dengan deremberg.seperti halnya orang eropa terdahulu bahwa masyarakat terdahulu meninggalkan tanda atau bekas sebagai pertanda bahwa mereka ada antuk generasi selanjutnya (seni di Indonesia : Claire holt).
Pertanda tersebut berupa bekas tangan yang mereka rapatkan kedinding dan menutup dan memulas warna merah disekitar. Penemuan tersebut dipimpin oleh Dr. Joser Roder dan menamkan batu tersebut batu abba die stammwand der kulturen atau dinding buday zaman purba.. diperkirakan hal ini berisikan lukisan tertua didaerah ini. Pada dinding ini pula terdapat bakas kaki, beberapa gambar manusia dan binatang laut serta symbol yang diantaranya ada yang berbentuk bulan sabit. Ini merupakan salah satu sisa prasejarah yang ada di Indonesia serta tidak banyak tempat lain yang ditemukan seperti ini. Artinya dominannya hanyadaerah ini saja yang terbanyak tempat yang dianggap tempat prasejarah. Dengan seperti ini banyk sisi pengkajian yang dapat dijelaskan, salah satunya apakah daerah ini sebagai daerah yang memang menjadi manusia pertama di Indonesia, ataukn daerah yang memang masyarakatnya sangat awam akan alam hingga yang menarik bagi mereka akan meraka gambarkan dan sepertinya bukan mustahil ini benar bahkan iuni merupakan karya seni pertama di Indonesia.

Karya Yang Dianggap Lukisan Prasejarah Yang Ditemukan Di Irian Jaya


Tentunya ini akan mengundang banyak konrtofersi dan semua tidak akan lepas dari semua itu karena ini bersifat pengkajian. Sejarah yang seperti ini apakah dapat dijadikan pendifinisian seni atau tidak? Tentunya ini juga mengundang kontroversi, namun dapat dikaji secara filsafat tentang difinisi seni.
Setelah memandang uraian diatas dapat dikategorikan bahwa pengertinya sangat luas. Beberapa ahli di Indonesia yakni Ki Hajar dewantara” segala sesuatu perbuatan manusia yang timbul dari dalam diri manusia”. Namun dapat didifinisikan secara global bahwa seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan oleh manusia, meski itu seni itu tidak akan selalu indah jika dipandang subyektive. Setelah kita difinisikan pengertian seni terjelas bahwa seni yang terdahulu hanya merupakan anggapan para ahli seni saat ini dan ini di hak patenkan juga pada saan zaman ini. Jelas terlihat bahwa ini didefinisikan secar garis pandang tidak melalui sudut pandang. Hal ini tertera pada lukisan masa lalu seperti yang dijelaskan bahwa mereka tidak menakan itu seni, bisa saja itu tanda-tanda yang ada pada saat itu sebagai bagian dari komunikasi mereka. Jika didefinisikan seni saat ini maka akan tersebut ruanglingkup yang amat sangat besar dan meluas. Namun dikarenakan hk paten terhadap pengertian seni telah teruraikan maka kaitan segalanya dengan senikan saling berkaitan dan itu pasti berhubungan pengertian seni amat sangat meluas.





Persefektif seni

Pada dasarnya persefektif memiliki arti yang jelas yakni sudut pandang yang mengartikan segala sesuatu dengan seksama dan terlihat. Begitu juga yang memiliki sudut pandang yang sedikit berbeda-beda. Jika kita mengkaitkan antara kebudayaan dan seni tentunya ini menjadikan satu sudut pandang yang berbeda pula. Paradigma yang terbentuk dalam persefrktif seni biasanya terkadang berpengaruh pada individualis yang menggayakan unsure pribadi.
Namun seni juga mempunyai pola pandang tersendiri. Dalam beberapa buku yang diterbitkan di barat, sedikit menjelaskan bahwa kritikan terkadang selalu menyebabkan kehancuran atau pola yang lambat dalam proses peningkatan akan ilmu pengetahuan. Dalam pola yang seniman pakai dalam hal tersebut juga terkadang selalu bersifat menjatuhkan. Maka sepertinya kita dpat menggunakan yang terlebuh daahulu telah dibenarkan. Bukankah kita selalu dapat belajar dari buku yang itu menjanjikan kesuksesan. Sangat bodoh rasanya jika kita tidak memanfaatkan hal tersebut, jika dikatakan ingin berbeda, dipertanyakan pula. Apakah ini hanya untuk meningkatkan popularitas? Sepertinya ini telah menjadi metode yang salah. Kita dapat belajar dan dapat mengadobsi beberapa cara dalam mengkrtik seni dan kita juga dapat memandang seni dari pandangan yang meningkatkan.
Pada dasarnya, cara seseorang memandang seni tersebut ada 3 macam dan mungkin malah lebih diantaranya ; ada yang memandang seni sebagai bagaian yang akan dijadiakan tempat pelampiasan tempat mencari popularitas dan ada juga yang memandang seni seperti ingin meningkatkan. Persepektif ini mengarah pada pandangan yang menganalisis.
Namun terkadang juga ada persefektif yang mengangap hanya sebatas pandangan yang mengarah pada individualis. Seni saat ini memiliki persefekrif yang tidak jauh dengan masa yang lalu dan ada juga yang mengatakan sebaliknya. Namun pada tindak baca yang harviah semua itu dapat mengarah pada cara pandang masing-masing atau dengan kata lain perseftif sendiri.
















Antara
Kebudayaan Dan Seni

Perkembangan seni moderen di Indonesia sebagai segi dari perubahan budaya tentu merupakan sebuah dari pertanyaan yang lebih luas tentang pengaruh seni. Pada perdebatan antara pihak timur dan barat tentang mederenisasi dan westerenisasi? Karena pengaruh tersebut berpengaruh pada kehidupan barat yang semakin lama semakin masuk kewilayah timur secara menyeluruh.
Secara empirries dapat terlihat bahwa seni yang berkembang di Indonesia telah mengalami stilisasi dari dunia luar, seperti halnya pada masa dunia luar masuk kewilayah aceh ataupun Indonesia pada masa silam yang mereka rata-rata adalah pedagang yang tentunya sudah pasti banyak sisi kebudayaan yang masuk keindonesia yang terus-menerus menjadi awal kebudayaan baru yang menjadikan seni memiliki banyak pengaruh dari dunia luar.
Indonesia terkenal sebagai daerah yang dimasuki oleh masyarakat purba dari wilayah cina selatan (teori). Secara kondisional pula Indonesia telah dimasuki banyak daerah seperti halnya pada masa penjajahan dan masa globalisasi 2020 yang itupin akan sangat berpengaruh pada perkembangan dunia kebudayaan yang mengarah pada seni kebudayaan. Jelas terlihat bahwa kebudayaan Indonesia ini tidak dapat dijadikan hak paten masa lalu tetapi selepas Indonesia Merdeka barulah timbul hal yang seperti ini dan bukan tidak mungkin ini adalah stilisasi dari masa terdahulu yang menjdi kebiasaan. Nah jika hal tersebut terlah benar terjadi. Berarti Indonesia telah memiliki penggayaan baru dari dunia luar akan han seni dan kebudayaan.
Pendifinisian seni dan kebudayaan secara mendasar juga saling berkaitan yang juga saling berhubung. Dan seni di Indonesia telah terkontaminasi dari duni luar. Hal ini juga berpengaruh pada seni terdahulu. Jika digaris bawahi sifat manusia dahulu adalah nomaden artinya tidak ada yang memurnikan unsure seni sebagai hak kecuali untuk pengaruh latar yang menjadikan tempat. Terlihat bahwa unsure kebudayaan indonesia juga dimiliki oleh orang lain hanya ada hal yang dimiliki oleh daerah untuk membedakan sebagai popularitas kabangsaan.














Masa Peradaban Yang Berpengaruh
Pada Dunia Seni

Pada dasarnya peradaban Indonesia ini terbagi atas beberapa masa peradaban yang mempengaruhi dunia seni. Telah terkemukakan bahwa indonesi ini memeliki 4 masa peradaban yang saling beringkatan yakni 1.peradaban masa zaman batu, 2.peradaban masa zaman hindu-budha, 3.peradaban masa zaman Islam dan masa moderan saat ini. Artinya indonesia memiliki 4 masa peradaban yang mengawali zaman modern saat ini.
Telah lama dikenal juga juga bahwa zaman batu telah melahirkan bentuk-bentuk seni rupa yang sangat menarik baik itu dari seni kriya sendiri yang berupa patung ataupun seni rupa yang berupa gambaran yang menjadi anggapan itu merupakan nenek moyang mereka yang dapat menjadikan mereka tempat bersandar akan segala masalah yang mereka hadapi di dunia. Hingga saat ini zaman modern telah dikenal bahwa seni rupa memiliki fungsi yang amat sanga penting dalam dunia masyarakat sebagaiman terbukti pada masa lalu pula. Hal ini terlihat bahwa seni dizaman batu masih terpakai untuk saat ini dan zaman batu menjadikan zaman tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Begitu juga zaman peradaban hindu – budha dan zaman peradaban masa zaman Islam yang sangat mempengaruhi unsure kepercayaan.
Kongkrit bahwa 3 peradaban dimasa lalu memiliki khasanah tersendiri yang mengubah paradigma banyak hal. Zaman ini karya seni yang dianggap modern adalah karya yang kebanyakan seni rupa atau dengan kata lain berupa lukisan. Sebelum lahirnya Persagi yang mengatasnamakan diri mereka adalah ahli gambar. Tentunya ini dapat menjadi pengkajian yang sangat efektif. Tentu saja jika dikatakan Persagi dibentuk, adakah mereka zaman seni modern. Sepertinya tidak. Karena dapat dikatakan mungkin saja mereka sebagai peng-reka dari seni masa lalu untuk masa modern dan tidak mustahil.jika tersebut masa modern tentunya bukan sebuah nama zaman. Banyak tersebut modern merupakan hal yang baru atau melinium.
Dapat digambarkan seperti zaman terhulu yakni pada masa peralihan dari zaman batu kezaman hindu-budha, tentunya masa zaman hindu-budha merupakan zaman moderen pada amsa itu.(retorika modern: rahmat J 2004). Dapat dikategorikan bahwa zaman saat ini yang terssebut modern masih mengadobsi zaman sebelumnya yang menjadikan zaman ini hanya pengembangan seni secara sederhana saja. Mengapa tidak? Jika dikatakan karya lukisan saat ini sangan bagus tentung dapat diperhatikan? Apakah yang dihasilkan seni lukisan saat ini. Adakan keterkaitan dengan masa zaman masa lalu dan ini tidak dapat diumgkiri. Jika ada maka terlihat bahwa unsure seni masa lalu masih terpakai untuk saat ini. Jika seni yang ada pada masa 3 peradaban yang lalu memberikan kontribusi yang sangat kepada banyak kalangan. Dapat dipertanyakan, adakan hasil cipta masa saat ini yang amat memberi kontribusi tanpa pengeruh apapun termasuk seperti pada masa lalu. Contoh dari segi nilai dasar perjuangan akan kepercayaan ; masa peradaban zaman batu masih menyembah unsure tak bertuhan, tentu pada masa hindu-budha telah ada pengembangan dengan mengakui tuhan meski belum sempurna, dan masa selanjutnya pula terlah masuk agam Islam sebagai agama benar meski hindu-budha masih ada, nah dpatkan pada masa saat ini seni membuktikan yang paling benar antara keduanya.
Dan hal seperti inilah yang menjadi kan satu kontribusi yang sanagt berarti. Namun terlihat saat ini bahwa seni yang ditimbulan tidak seperti itu. Jika dikataka seni saat ini yang berupa lukisan telah sangat nyata.
Namun bagimana dengan pengaruh elektronik yang lebih canggih yang dapat menghasilkan karya lebih bagus karena pada umum masyarakan dapat menjadikan satu unsure kebutuhan apabila itu dapat menjadi satu kebutuhan dan menarik. Jik dikatakan pula bahwa meski tidak menarik itu juga seni, dapat digaris bawahi apakah seni menjadi konsumsi umu atau tidak? Jika tidak untuk apa seni dipamerkan? Artinya seni yang ditimbulkan saat ini masih memerlukan pengembangan dan tidak menjadikan seni saat ini sebagai wacana yang dibesar-besarkan.peradaban pada lalu menjawab bahwa zaman saat ini yang dianggap modern mungkin saja belum mempunyai nama yang memiliki hak paten dalam perberian nama, namun jika saat ini kita yang dianggap seniman pula harus menjadi penonton seni pada lalu, sepertinya tidak. Sebagai senima diharuskan melahirkan seni dalam berkarya yang lebih menarik dan bila perlu tidak menadobsi masa lalu. Karena titik kreativitas memliki 2 dimensi yakni kreatif sebagai pencipta atau sebagai pngembangan saja. Hal seperti ini akan menjawab bahwa seni saat ini yang di anggap modern sebagai apakah itu? Pengembangan ataukah penciptaan? Dan ini dapat terjawab oleh semua kalangan.





Seni kontemporer Indonesia

Seni ini terkadang didefinisikan banyak kalangan yang ada yang memandang dari segi intrinsic dan ada yang juga memandang dari unsure extrinsic. Seni modern yang biasa juga tersebut sebagai seni kontemporer yang mengarah juga pada moderen di Indonesia sangat banyak terlihat hanya pada unsure seni lukis.
Apakah unsure seni lukis merupakan seni saat ini secara penuh, sepertinya ini dapat didiskusikan bersama pula.
Pada sisi lain seni yang saat ini dibanggakan diwilayah Indonesia sepertinya hanya sebagai wacana penggambaran seperti yang tersebut pada title persagi atau biasa disecut ahli gambar (Sejarah seni rupa Indonesia), bukankah namanya saja telah menjadikan mereka pencipta seni gambar yang banyak menghasilkan lukisan seperti lukisan ngarai sianok bukit tinggi padang Sumatra barat. Ini menjadikan wacana yang pernah dikemikakan bahwa seni saat ini belum memiliki nama peradaban serta belum memiliki karya yang menjadikan satu ciri khas tersendiri.
Azhari akmal T M.A dan Darmen S.Pd pernah mangatakan bahwa ucapan yang pernah terucap bahwa kebudayaan yang ada di Indonesia harus diangkat kembali sebagai penciptaan seni kembali. Sepertinya ini mengarah pada realigius juga. Tidak jauh berbeda dengan masa lalu yang kesemuaanya adalah mengandung unsure keagamaan dan kepercayaan. Seperti yang terlihat pada peradaban pertama yang mengarah pada sistem kepercayaan animisme yang salah dan dibenarkan dengan unsure hindu-bhuda yang tetap masih salah serta dibenarkan secara khaffah oleh islam. Namun apakah unsure yang pernah tersebut tentang pemekaran budaya memiliki unsure pemusnahan islam.
Rasanya bukan tidak mustahil ini benar. Terlihat dari kata untuk kembali kemasa lalu artinya, ini juga menyangkut pada sisi pengangkatan kepercayaan lama secara pelan-pelan. Karena pada dasarnya islam tidak dapat dihancurkan tetapi dapat dilemahkan, ketika kita dapat membahas hal yang seperti ini tentui saja ini mengarah pada srategi dan taktik politik yang terpakai karena pada dasar intinya pula unsure politik tetap akan mengarah pada dunia seni sekalipun. Selanjutnya ini merupakan tugas seniman yang diwarnai dengan keyakinan yang ingin membangkitkan gaya penciptaan, tidak kembali pada masa lalu dan mengembangkannya.
Bakhtiar C M.Pd pernah mengatakan ” seniman atau ilmuan jika tidak dibarengi dengan unsure keyakinan atau yang biasa tersebut IMAN maka akan pincang dalam menempuh perjalananya.” Sepertinya ini benar dan terlihat bahwa seperti inilah yang terjadi.









Seni Lukisan Sebagai Dasar Seni Modern

Ketika orang-orang Portugis, yaitu orang-orang-orang Eropa pertama yang tampil di perairan Indonesia menduduki Malaka pada tahun 1511, utusan-utusan berdatangan dari kerajaan-kerajaan tetangga untuk menyerahkan upeti kepada Albuquerque yang menang. Diantara para utusan adalah seorang dari Raja utama dari Jawa yang membawa bersama-sama hadia lain “selembar kain sepanjang selembar beirami (selembar kain linen dari Cambay) yang digambari semua perjuangannya, kereta-keretanya dengan benteng-benteng dari kayu yang ditarik oleh kuda-kuda, serta gajah-gajah dengan benteng-benteng, dan raja dengan empat bendera di kereta-kereta ini serta begitu alami hingga hal itu tak dapat lebih baik.
Dengan demikian kita mempunyai konfirmasi bahwa pada abad ke-16 ada ahli-ahli dalam seni lukis di istana Majapahit. Dengan jelas seniman-seniman ini mengerjakan lukisan-lukisan pada lembaran-lembaran panjang dari ukuran kain, dengan tekhnik mungkin sama dengan tekhnik yang dipergunakan orang-orang Bali dengan baik sampai abad ke-20. Dalam hal gaya, dengan memperhatikan reaksi dari seorang eropa bahwa perwujudan-perwujudannya begitu alami sehingga tak dapat lebih baik, dapat diduga bahwa perwujudan-perwujudan itu tidak distilisasikan seperti lukisan kain Bali dengan tema-tema legendaris.
Pengaruh-pengaruh Barat pada seni di Indonesia mungkin telah mulai dengan sedikit gambar-gambar yang dibawa oleh para agen Kompani India Timur Belanda (V.O.C) sebagai hadiah perdagangan yang sukses. Beberapa lukisan jelek tentang-kapal, para penunggang kuda, orang-orang telanjang, Nabi Musa, Aaron, David, Salomon serta para kesatria dari Kitab Perjanjian Lama, yang semuanya tak bernilai, dipergunakan sebagai hadiah kepada orang-orang besar yang dengan bersungguh meminta barang-barang ini, demikian bunyi deskripsi tentang sekelompok barang di dalam kargo kapal Belanda yang berlabuh diBatavi pada tahun 1637. Seorang yang besar yang telah meminta barang-barang tersebut adalah Sultan Martapura dari Kalimantan (Borneo).
Diantara haadiah-hadiah yang dilaporkan adalah sebuah kapal besar yang diberikan kepada raja Bali, dan sebuah pemandangan Amsterdam yang diberikan kepada Sultan Palembang dari Gubernur Jendral Kompani India Timur Jan Pieterszon Coen. Ada sebuah berita bahwa susuhan dari Surakarta menerima 5 buah lukisan dari Holland.
Lukisan-lukisan ini tanpa meragukan adalah benda-benda ajaib di istana-istana yang tak dapat disangkal akan menarik perhatian pada pelukis istana. Para juru sungging (pelukis ) yang selama abad-abad berikutnya bekerja di keraton-keraton para raja Islam Jawa, walaupun sering kali memberi ilustrasi dan dekorasi babad-babad istana serta manuskrip-manuskrip yang lain, sebagian besar terbatas dalam mendisain motif-motif dekoratif atau mewarnai boneka-boneka wayang.
Dengan demikian jelas bahwa pada waktu zaman sebelum kemerdekaan yaitu pada masa-masa kerajaan telah ada seni yang tercipta yaitu seni lukis yang mana pada masa-masa kerajaan tersebut digambarkan berbagai peristiwa yang terjadi dalam masa tersebut kedalam media kain (lukisan) dan juga sebagai hadiah yang diberikan kepada Raja pada zaman itu.
Kemudian sepanjang abad ke-19, ketika lapisan atas kolonial Belanda makin menjadi terkonsolidasi dijawa di bawah administrasi terpusat yang efisien, perusahan-perusahan yang dimiliki serta yang dikelola oleh orang-orang Barat tumbuh dan jumlah penduduk Belanda meningkat. Diantara mereka ada seorang seniman yang membawa kebiasaan serta perilaku dari daerah tanah asalnya. Pada permulaan abad ke-20 sekelompok cendikiawan Indonesia telah terbentuk yang mulai mengaktifkan semangat nasionalis yang akhirnya mengarah ke berakhirnya Zaman colonial.
Pelukis berpendidikan Barat pertama yang penting tampil pada abad ke-19 yaitu Raden Saleh (1816-1890), seorang pria dengan bakat besar yang meraih pengakuan internasional. Ia berpendidikan baik dan mengadakan perjalanan yang luas berbicara barbahasa Belanda dan Perancis dengan lancar, dan dapat pula berkonversasi dengan bahasa Jerman dan Inggris. Selama tinggal di Eropa yang lebih dari 20 tahun ia dengan kuat dipengaruhi oleh karya-karya Delacroix., yang romantic serta harmonis warna barunya telah menggoncangkan dunia seni Perancis kontemporer. Raden Saleh menciptakan lukisan binatang yang berkelahi dengan garangnya. Kemudian, ketika ia menetap di Jakarta (dahulu Batavia), ia mengelola sebuah kebun binatang kecil untuk menyediakan fasilitas studi binatangnya, yang terletak dekat denagn tempat tinggal Raden Saleh dahulu, sekarang disebut “Taman Raden Saleh”.
Ketika Raden Saleh kembali ke Indonesia, ia adalah seorang pelukis ternama, yang diberi gelar bangsawan di beberapa istana Eropa, dengan gelar Pelukis Kerajaan bagi Raja Holland. Di Eropa ia telah terbiasa pada hubungan-hubungan dengan seniman-seniman terkenal serta pangeran pelindung-pelindung mereka, tanah air kolonialnya seperti rimba baginya. Itulah salah satu tokoh seniman ternama yang legendaris yang hingga sekarang namanya tetap dikenal banyak orang terutama oleh Para-para Seniman. Seumlah pelukis kontemporer Indonesia, diantaranya sudjojono, Basuki Resobowo, Rusli, dan alibasjah,


Karya Lukisan

Di dalam buku seni rupa modern karangan Dharsono dikatakan bahwa; perjalanan seni rupa modern diawali dengan gerakan yang disebut dengan gerakan seni lukis realisme dinamis atau pasca impresionisme (post impressionism). Gerakan ini merupakan masa transisi dari konvensi realism kebentuk kebebasan seniman. Realisme Dinamis’ disebut pula ost Impresionisme’. Impresionisme yang lahir pada abad XIX membawa reaksi tajam. Reaksi tersebut datang dari seorang tokoh impresionisme fanatic: Paul Cezanne (1839-1906). Konsistensi pandangan kaum impresionisme terhadap stimulasi perssepsinya mutlak, pelukisan alam benda mengandung banyak massa tiga dimensi, dalam volume tiga dimensi akan terjadi pelukisan ruang.
Seorang impresionisme sejati selalu hanya mengamati berbagai warna yang terkandung pada permukaan benda dengan kata lain argumentasi kaum impresionis, persepsi alam adalah kemurnian image pada retina, dengan demikian gambar kaum impresionisme berhubungan dengan persepsi retina yang murni, suatu jajaran warna yang banyak, tak berhubungan dengan perbendaharaan benda itu sendiri dan tidak ada garis. Sebaliknya, Paul Cezanne mematahkan kedangkalan image retina kaum impresionis, membawa kembali pada garis, khususnya gerak kerangka kerja linier tiga dimensi, dengan memberi tekanqan gerak garis dan semua ketegangan kinetic dari pada garis, bidang, dan massa. Cezanne mengamati alam sebagai suatu yang dinamis (Stephen C. Pepper, tth: 245). Maka muncullah karya cezanne yang merupakan pendobrakan konvensi tradisi realisme yang dianggap kurang memberikan kedalaman image (periksa Bernard S. Myers dan Trewin Copplestone, ed., 1992:799-817).
Konsep Cezanne amat berpengaruh dan banyak mengilhami seni modern sesudahnya. Pada decade-dekade awal abad ke-20 terjadilah gerakan yang sangat cepat dalam seni dan arsitektur, seiring dengan perkembangan luar biasa dalam bidang sains dan tekhnologi serta struktur social dan politik di seluruh dunia (Mayers dan Copplestone, ed., 1992:831). Bagi orang-orang Indonesia sejarah modern mulai pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu hari ketika di belakang menyerahnya jepang, pemimpin mereka Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdejaan serta mengibarkan bendera merah puth. Sejak semula peringatan tujuhbelas Agustus secara tahunan menekankan kehidupan republic kepulauan. Kendatipun demikian, upaya-upaya untuk membangun.
Di Indonesia seni lukis atau hias memegang peranan penting, sejak zaman prasejarah sampai sekarang. Pola hias di Indonesia mempunyai banyak keseragaman terutama pola geometric yang mempunyai sifat universal. Pola ini hampIr selalu mempunyai peranan dari masa kemasa. Pada jaman prasejarah hiasan atau lukisan tidak hanya merupakan suatu keindahan yang dipergunakan sebagai hiasan belaka.
Namun cenderung kepada keyakinan mereka pada saat itu. Yang mana hiasan-hiasan tersebut mempunyai makna yang melambangkan sesuatu yang mereka anggap dapat menghadirkan kekuatan atau kehebatan sehingga akhirnya ditabukan. Pemikiran tentang adanya sesuatu diluar jangkauan manusia membuat mereka juga menciptakan sesuatu sebagai manifestasinya. Namun dengan perkembangan zaman, hingga sampai kepada zaman modern, itu semua tidak lagi menjadi suatu yang dianggap mendatngkan kekuatan melainkan sudah menjadi benda hias yang tidak lagi dipakai sebagai mana fungsinya pada zaman prasejarah bahkan sudah banyak yang distilisasikan.






“Persagi”
Sebagai Awal Hidupnya Seni Modern

Perkumpulan seni lukis Indonesia pertama dengan sebutan “PERSAGI” sebagai singkatan dari Persatuan Ahli Gambar Indonesia, didirikan pada tanggal 23 Oktober 1938 di Jakarta, dengan ketua Agus Djaya dan sekretaris S. Sudjojono. Perkumpulan yang merintis persatuan pelukis-pelukis Indonesia untuk bekerja sama guna melahirkan ”Corak Persatuan Nasional”, hanya berdiri selama 4 tahun saja, yakni sampai tahun 1942, sebagai tahun berakhirnya pemerintahan jajahan Hindia Belanda dan tahun dimulainya priode baru dari pendudukan Jepang di Indonesia.
Anggota PERSAGI terdiri dari : Emiria Sunassa, G.A. Sukirno, Sudiardjo, Herbert Hutagalung, S. Tutur, Suromo, Surono, Oton Laksman, Ramli Simitro, Suaeb Sastradiwirja, Ateng Rusyan, Saptaritra dan Abdul Salam.
Dengan sikap baru PERSAGI yang menganggap karya seni se bagai budaya suatu bangsa, dihentikanlah anggapan yang ada, bahwa aktivitas melukis sepolah-olah sudah cukup berhasil dengan didasari tekhnis belaka, tanpa memerlukan pandangan hidup dan visi seni yan lebih luas dan dalam.
Pandangan yang demikian itu menurut PERSAGI terdapat pada mashab “ Hindia Molek” sebagai dasar berkarya peluki asing dan Belanda di Indonesia, maupun pelukis Indonesia sendiri yang sealiran. Karya-karya tulis mereka menurut pengamatan PERSAGI, lebuh bersifat routine dan kurang sekali mencerminkan ekspresi dari sikap hidup yang berkepribadian mantap. Maka PERSAGI berketetapan untuk megkaitkan aktivitas kesenian dengan prinsip berolah seni yang sebenarnya dan kreatif.
Untuk kemajuan para anggota perkumpulan baru PERSAGI, diadakan latihan melukis bersama dengan mendiskusikan hasil-hasil. Guna memperluas pengetahuan seni dipelajari perkembangan seni lukis Eropa, dari kaum Impresionis dan ekspresionis sampai karya Picasso, sebagai rentetan tokoh-tokoh seni Eropa. Dianjurkan juga akan pentingnya mempelajari dan mengenal seni lukis sedunia. Majalah-majalah seperti Elsevier, dan studio banyak dipelajari dimasa PERSAGI.
Perkumpulan berhasil mengadakan pameran pertamanya pada tahun 1940 dalam gedung Kolff Jakarta yan mendapat sambutan baik dari kalangan Pers. Setahun kemudian berpameran kembali, pameran diselenggarakan di gedung Bataviaasche Kunstkring, sebagai tempat yang sebelumnya semata-mata memperkenalkan karya-karya pelukis Asing dan Belanda. Pers Indonesia maupun Asing menyambut dengan hangatnya pameran PERSAGI yang ke-2 dengan komentar-komentar tinjauannya.
Sanusi Panemelukiskan dalam surat kabar “Pemandangan” tentang karya-karya Agung Djaya dan S.Sudjojono, juga mengenai karya Suromo dan S. Tutur. Kedua pelukis pertama olehnya dianggap berpengaruh. Agus Djaya dengan jiwa keningratannya dalam arti positif, seperti tersimpul dari karya-karya dan Sudjojono yang merasakan situasi kehidupan sebagai pergolakan.




Persepsi Mengenai Seni Saat Ini Pada Kalangan Mahasiswa

Pernah terucap oleh mahasiswa STSI berinisial ”ic” bahwa seni saat ini merupakan unsure seni yang memiliki nama, jadi penentuan seni yang disebut sebagai seni modern adalah seni yang ditentukan oleh nama yang berpengaruh pada unsure dimensi waktu. Bukan tidak mungkin ini adalah argument yang dapat dibenarkan ketika ini juga mengarah pada uraian diatas.
Hal ini menjadikan banyak difinisi diatas dan urain diatas sebagai pelengkap akan argument lainnya. Jadi seni saat ini dibutuhkan proses penciptaan yang lebih mengarah pada penciptaan yang tidak berpengaruh pada apapun.











Tinjauan Seni Modern

Terlihat sudah bahwa seni saat ini telah digemilangi unsure penjatuhan pada unsure keagamaan karena penggerek seni sepertinya adalah unsure agama dan ini telah terjawab oleh 3 peradaban yang semuanya mengarah pada unsure realigius.
Kesimpulan
 Seni saat ini lebih mengarah pada kembalinya zaman kepada zaman masa lalu yang lebih mengedepankan kepercayaan lama dengan proses penggangkatan kembali budaya lam sebagai tonggak awal pencetusan seni.
 Seni tetap digemilangi oleh unsure politik kapan pun dan dimanapun.
 Seni moderen dapat dikatakan sebagai seni yang belum memiliki hak paten dalam pengatas namaan, karena lebih menonjolkan waktu sebagai pemberian nama.
 Seni sangat berpengaruh pada unsure kebudayaan, jadi dalan meningkatkat produktivitas sepertinya membutuhkan pola persefektif dalam pengkajian dalam kebudayaan yang menjawab dasar penciptaan seni.
Saran
 Kepada para seniman, hendaknya jangan menerima begitu saj tentang klarifikasi tentang seni oleh kalangan seniman lain atau non seni tanpa argument yang otentik.
 Pemberian nama untuk nama zaman mengarah pada senuman jadi kepada senima dan ilmuan hendaknya menciptakan karya seni seperti barat lakukan dlam penciptaan yakni mempersiapkan seni untuk tahun selanjutnya dan bakan mustahil dapat dilaksanakan.

Jumat, 14 Januari 2011

tujuh unsur kebudayaan gayo

A. Latar Belakang

Kesenian merupakan produk budaya suatu bangsa, semakin tinggi nilai kesenian satu bangsa maka semakin tinggi nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian tidak pernah lepas dari masyarakat, sebab kesenian juga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan segala bentuk ungkapan cipta, rasa dan karsa manusia.

Kesenian sebagai ungkapan kreativitas manusia akan tumbuh dan hidup apabila masyarakat masih tetap memelihara, memberi peluang bergerak, serta menularkan dan mengembangkan untuk kemudian menciptakan sesuatu kebudayaan baru. Sebagai produk budaya yang melambangkan masyarakatnya maka kesenian akan terus berhadapan dengan masyarakat dalam arti kesenian menawarkan interpretasi tentang kehidupan, kemudian masyarakat menyambutnya dengan berbagai cara (Yandri, 2009:158).
Kehidupan manusia dalam setiap bangsa dan kelompok suatu etnik manapun mempunyai kebudayaan, adat istiadat dan kebiasaan tersendiri serta mempunyai bentuk kesenian berbeda dalam mengungkapan rasa keindahan. Pengungkapan rasa keindahan itu dengan bebagai cara baik mengekpresikan dirinya dengan seni ukir, seni sastra, dan seni suara. Kesenian adalah unsur penyangga kebudayaan, eratnya kaitan dengan kebudayaan suatu masyarakat sehingga sering digunakan sebagai media penyebarluasan ajaran kepercayaan dan disamping sebagai media hiburan (Kayam, 1981:39).
Menurut Williams dalam Mudji, (2005:7) kata kebudayaan “(culture) merupakan salah satu dari tiga kata yang paling komplek penggunaannya dalam bahasa Inggris. Pada awalnya “culture” dekat pengertiannya dengan kata “kultivasi” (cultivation), yaitu pemeliharaan ternak, hasil bumi, dan upacara-upacara religius (yang darinya diturunkan istilah kultus atau “cult”). Sejak abad ke-16 hingga ke-19 istilah ini mulia diterapkan secara luas untuk pengembangan akal budi manusia individu dan sikap-sikap perilaku pribadi lewat pembelajaran.
Kebudayaan, berasal dari terjemahan kata kultur. Kata kultur dalam bahasa latin cultur berarti memelihara, mengolah dan mengerjakan. Dalam kaitan ini, cakupan kebudayaan menjadi sangat luas, seluas hidup manusia. Hidup manusia akan memelihara, mengolah dan mengerjakan berbagai hal-hal yang menghasilkan tindak budaya. Karena itu kebudayaan sangat beragam. Hal ini seperti peryataan Kroeber dan kluckhohn (Alisjahbana, 1986:207-208) dalam Endaswara, 2006:4) menyebutkan definisi kebudayaan dapat digolongkan menjadi tujuh hal, yaitu :
Pertama, kebudayaan sebagai keseluruhan hidup manusia yang komplek, meliputi hukum, seni, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kedua, menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagai warisan tradisi. Ketiga, menekankan kebudayaan yang bersifat normatif, yaitu kebudayaan dianggap sebagai cara dan aturan hidup manusia, seperti cita-cita, nilai dan tingkah laku. Keempat, pendekatan kebudayaan dari aspek psikologis, kebudayaan sebagai langkah penyesuaian diri manusia kepada lingkungan sekitarnya. Kelima kebudayaan dipandang sebagai struktur, yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayaan serta fungsinya. Keenam, kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan. Ketujuh, definisi kebudayaan yang tidak lengkap dan kurang bersistem.
Ditegaskan kembali menurut Marwoto, (2009:73) pada hakekatnya kebudayaan merupakan hasil budi dan daya manusia yaitu mengangkat derajat manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling tinggi di antara makhluk Tuhan yang lain, seperti rumput, hewan. Dengan kebudayaan dapat mengetahui tingkat peradaban manusia. Namun perlu disadari bahwa tingkat kebudayaan banyak ditemukan oleh kemampuan manusia dalam menghadapi tantangan alam sekitar lingkungan dimana mereka tinggal dan hidup.
Kebudayaan sering menjadi kebiasaan yang tidak boleh ditinggalkan dan dihilangkan, karena mempunyai nilai yang begitu tinggi dalam suatu kelompok. Seperti yang disebutkan bahwa dengan kebudayaan kita dapat mengetahui tingkat peradaban manusia.
Begitu juga kebudayaan masyarakat Gayo ditemukan oleh masyarakat Gayo dan dijadikan sebagai kebudayaan. Kebudayaan Gayo timbul sejak orang Gayo bermukim di wilayah ini. Menurut Hakim, (1998:8) Adat istiadat sebagai salah satu unsur Kebudayaan Gayo Menganut Prinsip Keramat Mupakat, Behu Berdedele (Kemulian karena Mufakat, Berani Karena Bersama), Tirus lagu gelas belut lagu umut rempak lagu resi susun lagu belo (Bersatu Teguh) Nyawa sara pelok ratep sara anguk (kontak batin) atau tekad yang melahirkan kesatuan sikap dan perbuatan, banyak lagi kata-kata pelambang yang mengandung kebersamaan dan kekeluargaan serta keterpaduan. Pemerintah dan ulama saling harga menghargai serta menunjang pelaksanaan agama.
Kebudayaan Gayo sangat beragam mulai dari tarian, musik, dan teater. Tarian yang terdapat pada masyarakat Gayo adalah tari Saman, tari guel, Tari bines, tari munalo Didong,Tari Sining, Tari Turun Ku Aih Aunen, Tari Resam Berume, Tuak Kukur, Melengkan dan Dabus. Unsur kebudayaan yang ada di Gayo sangat berkaitan erat dengan Al Qur`an dan Hadist. Kehidupan masyarakat Gayo yang menjadi panutan ataupun pedoman adalah Al Qur`an dan Hadist sehingga diterapkan didalam kebudayaan Gayo, adat istiadat maupun sistem pemerintahannya.
Masyarakat Gayo sangat fanatik terhadap Agama Islam, sehingga semua bersifat Theokrasi (berdasarkan ajaran Islam), baik adat, budaya dan sistem pendidikan semua berlandaskan Agama Islam. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:19), sebelum Agama Islam masuk kedaerah Gayo, masyarakat setempat sebelumnya menganut animisme. Agama Islam masuk ke Perlak Aceh pada abad ke-8 Masehi, suku Gayo yang bermukim disana secara berangsur-angsur mulai memeluk Agama Islam.
Ajaran Islam didakwahkan ke kerajaan Lingga (Lingge) Gayo oleh ulama kerajaan Perlak, pada tahun 181 atau 808 Masehi. Menurut Mahmud Ibrahim, 2007:19), Agama Islam pertama kali dibawa oleh orang-orang Arab, Persia, Gujarat dan India, mereka berdakwah pada masyarakat Gayo sehingga masyarakat Gayo menerima ajaran Agama yang dengan baik.
Setelah kedatangan Agama Islam ke daerah Lingga (Lingge). Raja Lingga (Reje Lingge) beserta masyarakatnya menganut ajaran Islam dengan baik. Tidak lepas pula dalam keluarga raja Lingga, raja Lingga mempunyai enam orang anak, yaitu Tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, Sebayak Lingga, Meurah Johan/ Johansyah, Meurah Silu / Malikussaleh, Meurah Lingga, dam Meurah Mege (Ensiklopedia Aceh, 16 Juni 2009).
Kerajaan Lingga (di Buntul Linge, Tanah Gayo) lebih dulu mengenal Islam daripada kerajaan-kerajaan di Aceh. Disebutkan juga Raja-raja yang memerintah di Aceh merupakan keturunan raja Lingga (Seuramoe Aceh, 24 Januari 2010).
Anak raja Lingga (Lingge) Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri disana dan dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Sedangkan Meurah Lingga tinggal di Lingge Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Lingaa turun termurun.
Muerah Lingga menjabat menjadi raja Lingga ke-2, sampai dengan ke-8. Raja Lingga ke-8 menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor Baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga 8 diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut.
Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasuk (Singapura) dan sedikit wilayah (Malaya) Malaysia (Ensiklopedia Aceh, 16 Juni 2009).
Anak raja Lingga yang lain seperti Meurah Silu / Sultan Malikussaleh (dalam bahasa Arab), dia merupakan orang Gayo yang menyatukan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peureulak, yang akhirnya menjadi Sultan Pertama di Kerajaan Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara.
Sedangkan Meurah Johan atau Johansyah yang kemudian menjadi Sultan Aceh Pertama yang memimpin Kesultanan Kutereje / Kerajaan Aceh Darussalam (Seuramoe Aceh, 24 Januari 2010). Meurah Johan / Johansyah memerintah Kerajaan Aceh Darussalam dari tahun 1205 Masehi / 601 Hijriah sampai tahun 1234 Masehi.
Masyarakat Gayo menempuh kehidupan baru secara tertib dan tentram, karena diikat oleh dasar agama dan adat istiadat secara terpadu. Prinsip itu dituangkan dalam 45 pasal adat masyarakat kerajaan Lingga (Lingge) yang ditetapkan dalam musyawarah merah (reje), ulama, pemimpin adat dan cerdik pandai.
Pada tahun 1115 M Setelah melalui proses panjang selama tiga setengah abad. Prinsip dimaksud dapat dihayati dari ungkapan adat seperti (Agama urum edet, lagu zet urum sifet, agama kin senuwen, edet ken peger) artinya Agama Islam dan adat Gayo seperti zat dan sifat, agama sebagai tanaman, adat sebagai pagarnya. Dari ungkapan tersebut jelas dan tegas, bahwa keterpaduan di antara adat dan syaria`at Islam sangat erat dan saling menunjang. Fungsi adat untuk menunjang pelaksanaan ajaran Agama Islam (Mahmud Ibrahim, 2005: 5).
Agama Islam dalam masyarakat Gayo adalah darah di kehidupan masyarakat sehingga faktor budaya, pendidikan, dan kesenian selalu berkaitan dengan Agama dan norma yang ada. Masyarakat Gayo sangat memperhatikan nilai norma dalam kehidupan sehari hari. Ini dimaksudkan agar agama tetap teguh dan adat bisa berjalan dengan agama, karena ( kuet edet muperala agama, rusak edet rusak agama) kuat adat semakin teguh agama, rusak adat rusak agama dan semua sistem masyarakat.
Masyarakat Gayo tidak hanya mengenal sistem adat, nilai norma tetapi juga mengenal sistem nilai budaya Gayo. Menurut C. Snock, 1996:XII), Sistem nilai ini yang selalu harus dijaga dan direalisasikan dalam masyarakat. Karena faktor ini sangat berpengaruh pada sistem baik secara individu maupun sistem bermasyarakat dalam kehidupan sehari hari. Masyarakat Gayo mempunyai skema sistem nilai budaya Gayo, yaitu :







Keterangan :
M : Mukemel (Harga diri)
Tp : Tertip (Tertib)
St : Setie (Setia)
Sg : Semayang-Gemasih (kasih sayang)
Mt : Mutentu ( Kerja keras)
An : Amanah (Amanah)
Gm : Genap Mufakat (Musyawarah)
At : Alang Tulung (Tolong menolong)
Bs : Bersikemelen (Kompetitif)
Skema tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Sistem nilai budaya Gayo terbagi menjadi sebuah nilai ”utama” yang disebut ”harga diri” (mukemel = M). Untuk mencapai harga diri itu, seseorang harus mengamalkan atau mengacu pada sejumlah nilai lain, yang disebut nilai penunjang. Nilai-nilai penunjang itu adalah ”tertib” (Tp), ”setia”.

B. Pembahasan
Etnik Gayo merupakan satu suku tang terdapat didataran tinggi Gayo, yaitu berada di jantung Provinsi Aceh. Masyarkat Gayo merupakan bagian dari melayu tua, menelusuri asal usul orang Gayo, tidak banyak sumber atau artefak, yang ada hanya cerita atau yang dikenal dengan istilah Kekeberen atau cerita turun temurun dari keturunan Raja Lingga (Reje Lingge). Asal suku Gayo adalah dari negeri ROM (Romawi). Masyarakat Gayo istilah Romawi sangat sulit disebut jadi disingkat dengan istilah ROM. Raja permata kerajaan Lingga adalah anak dari raja Romawi kuno, bertempat dikota Istambul Turki. Begitu juga dengan asal kata Lingge yang artinya adalah suara. Karena menurut pendapat masyarakat tersebut, Reje Lingge (Raja Lingga) mendengar suara tetapi tidak ditemukan dari mana arah suara tersebut. Sehingga raja Lingga (Reje Lingge) memberi nama kerajaannya dengan nama Lingge (suara). Raja Lingga (Reje Lingge) bernama Adi Genali (Mahmud Ibrahim 2007:14).

1. Sistem kepercayaan
Latar belakang sejarah Gayo, semua suku Gayo yang ada sekarang berasal dari satu kerajaan, yaitu kerajaan Lingga (Lingge) yang berpusat di Nenggeri Antara yaitu Lingga (Lingge), sekarang berada di kecamatan Isak Takengon Aceh Tengah. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:12) Kerajaan Lingga (Lingge) dahulu menganut sistem kepercayaan yaitu animisme, sedangkan raja (reje) menganut Agama Budha. Pada abad ke-8 Islam baru masuk ke dataran tinggi Gayo yaitu dibawa oleh para pedagang melalui Perlak, sehingga sampai di Kerajaan Lingga (Lingge). Agama Islam di bawa kekerajaan Lingga (Lingge) adalah Syech Abdul Khadir dan pedagang lainnya. Islam berkembang pesat sampai sekarang di dataran tinggi Gayo.
2. Sistem mata pencaharian
Topografi alam yang berlembah lembah, berbukit-bukit dengan hamparan kopi. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani kopi, peternak, palawija, home industri, nelayan dan pedagang. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:60) Yang menonjol di dataran tinggi Gayo adalah perkebunan kopi yang sangat bagus, juga didukung dengan tanah yang subur dan udara yang sejuk. Dataran tinggi Gayo merupakan penghasil kopi terbesar diprovinsi Aceh, rata-rata kopi yang dihasilkan diekspor keluar negeri seperti Jepang, Jerman, singapura, Malaysia, Amerika, dan Belanda
Dataran tinggi Gayo juga terkenal dengan hasil palawijanya yang mengisi semua sektor pasar di provinsi Aceh, rata-rata hasil palawija yang dihasilkan dikirim ke ibukota provinsi untuk menunjang kebutuhan masyarakat perkotaan.
Dataran tinggi Gayo memiliki berbagai potensi yang dikembangkan masyarakat, ini tergantung pada tempat dan kondisinya, karena tidak semua lahan yang ada dataran tinggi Gayo dapat ditanam perkebunan kopi, ada beberapa sektor yang dipakai sebagai tempat untuk berternak, seperti daerah Isak, Lingge, dan Lumut di kecamatan Isak, mayoritas penduduk disini mengembala ternak, seperti, kerbau, sapi, domba, biri-biri, dan kambing.
Sektor pariwisata, di dataran tinggi Gayo mempunyai danau laut tawar, pantai menye, goa putri pukes, legenda loyang Datu, makam Reje Lingge, home industri, air terjun, pantan terong, kuliner belum lagi di daerah kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues dan lainnya. Objek wisata ini juga merupakan penunjang mata pencaharian masyarakat sekitar (Wikipedia, 15 September 2010).
3. Bahasa
Suku yang mengunakan bahasa Gayo tergolong sebagai suku bangsa asal yang mendiami dataran tinggi Gayo, yaitu wilayah bagian tengah provinsi Aceh. Wilayah pemukiman mereka terbagi kedalam tiga kelompok. Pertama kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah yang disebut Gayo Lut atau Gayo deret, kedua kabupaten Gayo Lues atau Gayo Belang, dan yang ketiga adalah kabupaten Aceh Timur disebut dengan Gayo Kalul atau Gayo Serbejadi.
Terjadinya pengelompokan ini karena letak geogerafisnya yang relatif jauh terpisah serta tidak tersedianya sarana tranportasi penghubung antar ketiga kelompok tersebut pada zaman dahulu. Keadaan ini menimbulkan anggapan seolah-olah etnik Gayo itu terpisah satu sama lainnya. Sarana penghubung yang tidak tersedia dalam jangka waktu yang panjang telah menyebabkan masing-masing kelompok tersebut mengembangkan variasi-variasi kebudayaannya (Melalatoa : 1982). Variasi ini muncul sesuai dengan fisik dan lingkungan sosial yang berbeda. Hal ini terlihat adanya perbedaan kecil antar ketiga kelompok tersebut, misalnya dalam bentuk kesenian dan dialek lingguistik.
4. Kesenian
Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari saman dan seni bertutur yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian Seperti: Tari bines, Tari Guel, Tari munalu, sebuku (pepongoten), dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa, Karena orang Gayo kaya akan seni budaya.
5. Adat Istiadat
Setiap daerah yang ada di Indonesia mempunyai sistem adat, begitu juga di dataran tinggi Gayo mempunyai adat sesuai dengan kepercayaan yang di anutnya. Menurut Mahmud Ibrahim (2007:5) pada sekitar tahun 1115 M, raja (reje) Islam kerajaan Lingga yang oleh penduduk Negeri Lingga (Negeri Lingge) disebut “petu Merhum Mahkota Alam” untuk pertama kalinya merumuskan norma adat bersama para ulama dan pemimpin masyarakat lainnya. Isi rumusan adat yang disusun di istana raja Lingga (reje Lingge) Umah Adat Pitu Ruang Nenggeri Lingge oleh raja Petu Merhum Mahkota Alam. Semua adat terdiri dari 45 pasal berbahasa Gayo dan tulisan Jawi. Semua dibukukan sebagai lembaran aturan adat istiadat dari zaman dahulu hingga sekarang tetap dilakasanakan pasal demi pasal dalam semua keadaan mengenai keadatan.
Empat puluh lima pasal adat negeri Lingga (edet Nenggeri Lingge), munatur murip sibueten sarak opat, kin penguet ni akhlak menegah buet, menyoki belide remet, melumpeti junger, mubantah hakim, menumpang bele,, munyugang edet i engon ku bekase (tata krama dalam sistem bermasyarakat, untuk menjaga ahlakulkarimah, tidak membuat kekerasan atau pemerasan, tidak mengganggu masyarakat, tidak melawan hakim untuk menutupi kesalahan, supaya adat berjalan sesuai dengan harapan (Mahmud Ibrahim, 2007:6).
Kata kiasan adat berbicara tidak mutlak-mutlakan, berjalan memakai tongkat, hakikat sesuatu disimpan dengan baik, syariat dilaksanakan dengan tepat, karena hukum Islam mengenal mana yang hak mana yang batil sementara adat membedakannya. Sesuatu yang wajib harus dilaksanakan pada tempat dan waktunya, sebaliknya yang bukan wajib dapat dilakukan kapan dan dimana saja.
Adat istiadat masyarakat Gayo semua unsur, mulai dari hal yang terkecil sampai yang terbesar mempunyai aturan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Menurut Hakim, (1998:12-13) fungsi dari adat dan makna adat adalah:
1. Adat berasal dari bahasa arab, dengan pengertian melakukan berbagai kebiasan-kebiasaan. Adanya adat dikarenakan manusia hidup berkelompok-kelompok, lalu membuat berbagai keputusan disebut peraturan, untuk mengatasi kepentingan mereka dan dipandang sebagai undang-undang tanpa tertulis.
2. Adat Gayo bernilai spiritual dan beriorientasi kepada ahlakulkarimah, membentuk pergaulan yang berlandaskan agama, adat melaksanakan amar makruf nahi mungkar (salah bertegah benar berpapah). Adat Gayo, jelas menunjang agama (pengertian agama). Perlu disimak adat adalah habluminannas.
3. Adat adalah etos (pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial) masyarakat, terikat dengan : “murip ikanung edet, mate ikanung bumi, murip benar matee suci” (hidup selalu dikandung adat, mati dikandung bumi / tanah, hidup harus benar, mati harus suci).
4. Adat adalah aturan ciri khas dari berbagi suku, tata kelakuan dan kebiasaan. Bagi suku Gayo adat itu: “nge mucap ku atu mulabang ke papan” (sudah melembaga).
5. Adat adalah aturan yang berlaku di daerah tritorial masing-masing, berfungsi laksana undang-undang.
6. Adat adalah pegangan hidup serta pedoman dalam melaksanakan sesuatu perbuatan.
7. Adat Istiadat adalah kata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi ke generasi sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.
Seperti kata pepatah, bahwa agama dengan adat seperti zat dengan sifat. Dalam bahasa berbunyi sebagai berikut:
“Edet mugenal hukum mubeza
Kuet edet muperala agama
Rengang edet benasa nama
Edet menukum musifet ujud
Ukum munukum musifet kalam
Edet sifetni resam, resam itinyo edet
Edet atan astana, hukum atan agama
Dewe hadis ulaken ku firman
Dewe edet ulaken ku empuwe
Edet turah berujud
Fiil turah berupe
Semi turah bertubuh”
“(Adat mencari hukum dijadikan neraca
Bila kuat adat terpeiharalah agama agama
Renggang adat rusaklah nama
Adat menghukum bersifat wujud
hukum menghukum bersifat pasti
Adat sifatnya resam, resam ditinjau adat
Sumber adat dari istana, hukum dalam agama
Berselisih pendapat tentang hadist kembalikan ke firman
Berselisih pendapat tentang adat kembalikan kepada empunya (yang membuatnya Reje, petue, ulama dan masyarakat)
Adat harus dibuktikan
Fiil harus mempunyai rupa
Semi harus bertubuh (Hakim, (1998:14)
Dari pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa adat didalam masyarakat Gayo sangat kuat dan harus direalisasikan, jika suatu adat menjadi keliru maka akan dikembalikan kepada Al Qur`an dan yang membuat adat tersebut.
6. Sistem kemasyarakatan
Sistem yang ada didataran tinggi Gayo dahulu dikenal dengan sistem kerajaan, yang dikenal dengan dinasti Lingga. Sistem pemerintahan kerajaan / tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat (empat unsur dalam satu ikatan terpadu), terdiri dari: raja (Reje),Orang yang dituakan (Petue), Imam (Imem), dan rakyat (Rayat). Mahmud Ibrahim, (2007:63) menyatakan adapun sarak opat tersebut adalah:
1. Raja (Reje:kepala pemerintahan), musuket sifet (berfungsi memelihara keadilan di kalangan rakyatnya).
2. Ulama (Imem), muperlu sunet (berkewajiban membimbing dan melaksanakan ajaran Agama Islam terutama yang fardhu dan sunat yang baik).
3. Petue (orang yang dituakan dan dipandang berilmu), musidik sasat (meneliti dan mengevaluasi keadaan rakyat / masyarakat).
4. rakyat (Rakyat), genap mufakat (bermusyawarah dan mufakat bagi kepentingan negeri atau seluruh masyarakat).
Reje (raja) dan Imem (ulama) memiliki fungsi dan berperan sangat penting dalam pemerintahan, karena raja (Reje) melaksanakan prinsip : edet mu nukum bersifet wujud (adat menjatuhkan hukuman karena ada bukti yang jelas). Imem (ulama) melaksanakan prinsip : ukum mu nukum bersifet kalam (hukum Islam menetapkan hukum berdasarkan firman Allah dan Sunnah Rasulullah).
Keduanya harus serasi dan terpadu dalam rangka mewujudkan : Agama iberet empus, edet ibarat peger (Agama seperti kebun / tanaman, edet seperti pagar tanaman. Menurut Melalatoa dalam Zainal Abidin, (2002:27) masyarakat Gayo sebagai mana masyarakat Aceh lainnya adalah masyarakat yang tergolong taat menjalankan ajaran Agama Islam. Hal ini karena adanya pemahaman ditengah-tengah masyarakat bahwa sistem budaya mereka berasal dari dua sumber, Pertama sumber leluhur yang bermuatan pengetahuan, keyakinan nilai, norma-norma yang kesemuanya dinyatakan edet (adat) serta kebiasaan yang tidak mengikat yang disebut resam, Kedua sumber Agama Islam berupa Akidah, sistem keyakinan, nilai-nilai dan kiadah-kaidah agama disebut dengan hukum.
Di samping itu suku Gayo juga mengenal prinsip-prinsip adat yang mereka anut. Hal ini untuk meluruskan prinsip-prinsip adat yang ada, Zainal Abidin (2002:28) menyatakan bahwa prinsip-prinsip adat tersebut meliputi empat hal yaitu:
1. Dunie terpancang adalah harga diri yang menyangkut hak atas wilayah
2. Nahma teraku adalah harga diri yang menyangkut kedudukan yang sah
3. Bela mutan adalah harga diri yang terusik karena ada anggota kelompoknya yang disakiti atau di ganggu
4. Malu tertawan adalah harga diri yang terusik karena kaum wanita atau kelompoknya diganggu atau difitnah orang lain.

Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim.).
Pada masa sekarang sistem pemerintahan mengikuti sistem pemerintahan nasional. Yang membedakan dengan daerah lain yang ada di Indonesia yaitu terdapat beberapa buah mukim. mukim merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat. Pada pemerintahan yang ada di dataran tinggi Gayo tidak mengenal dengan sistem RT / RW yang ada hanya satu bagian yang disebut sebagai Dusun, dipimpin kepala Dusun dan perangkatnya.
7. Ilmu pengetahuan
Sistem dalam masyakat Gayo dahulu mengenal beberapa teknologi yang manual, seperti dalam bertani, masyarakat mengunakan tenaga kuda, kerbau dalam mengarap sawah. Begitu juga dengan yang lain seperti kerajinan, yaitu seni arsitektur, seni ukir, sulaman, anyaman, dan seni keramik. Dahulu masyarakat selalu mengunakan peralatan tradisonal.
Perkembangan zaman yang semakin canggih tidak mengurangi keinginan untuk mengikuti tantangan zaman. Yaitu masyarakat sudah beralih mengunakan alat yang lebih modern untuk mengembangkan penghidupan dan kesejahteraan.
Para petani yang dahulu mengunakan tenaga kuda / kerbau beralih mengunakan mesin traktor untuk mengarap sawah, para pengrajin dari alat manual beralih ke alat modern.
C. Penutup
a. kesimpulan
Masyarakat tidak pernah lepas dari lingkungan budaya, karena masyarakat Gayo selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya. Sistem dalam masyarakat Gayo mengenal sistem pemerintahan, adat istiadat, teknologi, budaya, bahasa dan religiusitas. Semua itu merupakan sistem yang ada di dataran tinggi Gayo.
Pemerintahan masyarakat Gayo zaman dahulu dikenal dengan Sarak Opat (empat unsur dalam satu ikatan terpadu). Adapaun perangkatnya yaitu; raja, imam, petue dan masyarakat. Lembaga ini yang selalu mengurus dan membina masyarakat demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat dataran tinggi Gayo.
Peralihan dari sistem kerajaan merupakan sebuah revolusi yang terjadi di dataran tinggi Gayo, walaupun perubahan yang terjadi tetapi nilai adat dan nilai budaya tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat dataran tinggi Gayo. Nilai adat, budaya selalu menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Abidin, Zainal. 2002. Makna Simbolik Warna dan Motif Kerawang Gayo pada Pakaian Adat Masyarakat Gayo. Yogyakarta. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metodelogi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Hakim, AR. 1998. Hakikat nilai-nilai budaya Gayo. Takengon : Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah
Herum Marwoto, Otok. 2009. Mitos Wayang Kulit Keramat Dilereng Gunung Merbabu. Yogyakarta : Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebuah Makalah.
Ibrahim, Mahmud.2007. Mujahid Dataran Tinggi Gayo. Takengon: Yayasan Maqamamahmuda Takengon.
Tamraj, Mahmud, dkk. 1998. Senirupa Aceh. Aceh.
Yandri. 2009. Pengaruh Budaya Global dalam Lokalitas Budaya Tradisi. Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebuah makalah
www.google.Ensiklopedia Aceh, 16 Juni 2009), diakses 13 Januari 2011
http://athawilaga Grafis.blogspot.com

Kamis, 13 Januari 2011

PERAN SENI RUPA DALAM PERTUNJUKAN TEATER

PERAN SENI RUPA DALAM PERTUNJUKAN TEATER
Oleh: Ansar Salihin
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk yang mengenal keindahan (animal a esthetikum). Manusia dalam usaha menuju ke arah penyempurnaan hidupnya memiliki dorongan dan keiinginan untuk memperbaikai diri. jadi manusia dalam Kesenian merupakan salah satu unsur dari kebudayaan manusia, setiap manusia memiliki nilai seni dalam dirinya. Hal ini terungkap dalam nilai seni atau keindahan tersebut manusia berekpresi menghasilkan karya-karya seni yang didalamnya terdapat nilai-nilai estetika.
Seni adalah sesuatu yang bersifat indah atau keindahan, baik itu berupa bentuk, suara atau vokal, gerak maupun pengabungan antara ketiganya yang masuk dan melekat nilai keindahanya didalam diri manusia. Pada dasarnya seni di bentuk oleh tiga elemen utama, yaitu: suara atau vokal yang erat hubunganya dengan seni musik dan seni vokal, kemudian gerak yang erat hubungannya dengan seni tari dan sejenisnya, kemudian bentuk yang berhubungan langsung dengan seni rupa.
Perkembangan seni, dari ketiga ini digabungkan antara gerak, suara dan bentuk terbentuklah seni teater, penggabungan keempatnya yang dibantu oleh peralatan lain terbentuklah seni perfilman dan perkembangan seni lainya. Sehingga para seniman-seniman membagi seni itu kepada dua kelompok yaitu seni seni rupa dan seni pertunjukan. Seni rupa dibagi kedalam tiga bagian yaitu Seni Kriya, Seni Murni, dan Desain. Sedangkan seni pertunjukan dibagi kedalam tiga kelompok juga yaitu Seni Tari, Seni Teater, dan Seni Musik.
Antara seni rupa dengan seni pertunjukan selalu berhubungan, berkaitan dan saling mendukung antara satu dengan cabang seni lainya. Sehingga setiap seniman harus mengusai setiap cabang seni itu walaupun tidak sepenuhnya. Misalnya seniman lukis harus mengerti tentang teater untuk mengambil ide dalam karyanya begitu juga dengan seniman pertunjukan harus mengetahui tentang seni rupa untuk menata artistiknya. Karena penataan artistik dalam pertunjukan sangat erat hubungannya dengan unsur seni rupa.
Seni rupa adalah salah satu cabang dari seni yang mempunyai bentuk dan rupa baik dua dimensi, tiga dimensi, maupun empat dimensi yang dapat dilihat dan diraba, dan di dalamnya memiliki nilai estetika. Seni rupa sudah lahir sejak adanya manusia dipermukaan bumi ini dan manusia sudah mengenal seni rupa sejak manusia sudah mempunyai kemampuan untuk melihat. Kemampuan manusia untuk melihat adalah bagian dari seni rupa.
Karya seni yang di ciptakan oleh manusia ada yang berbentuk realis dan ada yang berbentuk surealis. Bentuk realis adalah karya seni yang dibuat berdasarkan bentuk aslinya dengan kata lain karya seni yang meniru alam dan hasil karya persis seperti alam. Contohnya seperti karya seni lukisan alam yang sesuai dengan bentuk aslinya. Kemudian bentuk surealis yaitu bentuk karya seni yang dibuat diatas kenyataan atau sebagai simbolis dari suatu banda maupun suatu kejadian. Bahkan hasil dari karyanya membentuk suatu rupa atau benda yang tidak mungkin ataupun yang tidak ada pada kenyataanya. Seperti karya seni lukisan binatang berkepala manusia.
Semua unsur seni rupa diatas sangat berperan dalam seni pertunjukan. Terutama dalam penataaan artistik seperti warna lampu, garis pada peñata rias, tekstur dalam alat pendukung pertunjukan baik itu tekstur semi maupun tekstur bentuk. serta bentuk dan ruang dari pertunjukan. Kemudian penataan panggung dan sudut pandang serta pusat perhatian para penonton terhadap pertunjukan yang ditampilkan.
Teater adalah salah satu cabang seni yang karyanya dipertunjukan dan diperlihatkan kepada kepada orang lain yang didalamya terdapat suatu gerakan, suara, dan bentuk. Teater nilai keindahanya hanya dapat dinikmati waktu pertunjukan saja, setelah selesai pertunjukan kita hanya dapat mengambil pesan dan kesanya saja karena seni teater adalah seni yang dipertunjukan yang tidak mempunyai wujud benda dan cara menikmatinya dengan melihat dan mendengarkan pertujukanya.
Komponen ataupun unsur yang terpenting dalam pertujukan teater adalah Sutradara, Aktor, dan Artistik. Sutradara dalam teater adalah orang yang mengatur prose dalam pertunjukan teater, yang harus dikuasai oleh sutradara adalah naskah pertunjukan, aktor, dan artistik. Aktor adalah orang yang melakukan laku dalam pertujukan dan harus menguasai naskah, naskah, panggung dan artistik. Kemudian Artistik adalah rasa akan keindahan yang mendukung pertunjukan. Penataan artistik adalah penataan atau susunan sesuatu dalam pertujukan agar lebih indah dan menarik.
Antara satu seni dengan seni lainnya saling berkaitan, sehingga para seniman harus menguasai setiap cabang seni tersebut walaupun tidak sepenuhnya. Seni merupakan suatu latihan atau pengolahan didalam diri manusia, yang di latih adalah kepekaan terhadap lingkungan disekeliling kita. Kepekaan yang berhubungan dengan rasa, olah diri terhadap lingkungan sekitar dalam kehidupan kita sehari-hari, ini merupakan bagian dari seni teater. Sedangkan kepekaan yang berhubungan dengan bentuk, rupa, dan sebagainya terhadap lingkungan alam dan sekitarnya di dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari seni rupa.
Antara seni rupa dengan seni teater selalu berhubungan, berkaitan dan saling mendukung antara satu dengan cabang seni lainya. Semua unsur seni rupa sangat berperan dalam dalam seni pertunjukan. Terutama dalam penataaan artistik seperti panataan cahaya atau warna lampu, warna tata busana dan waran pada make up, garis pada peñata rias, tekstur dalam alat pendukung pertunjukan baik itu tekstur semi maupun tekstur bentuk. serta bentuk dan ruang dari pertunjukan. Kemudian penataan panggung dan sudut pandang serta pusat perhatian para penonton terhadap pertunjukan yang ditampilkan.
Seni merupakan suatu latihan atau pengolahan didalam diri manusia, yang di latih adalah kepekaan terhadap lingkungan di sekitar kita. Kepekaan yang berhubungan dengan rasa merupakan bagian dari seni teater. Sedangkan kepekaan yang berhubungan dengan bentuk, dan rupa merupakan bagian dari seni rupa. Disni nampak jelas bahwa antara seni rupa dan seni teater adalah sama-sama melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar di dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis adalah mahasiswa jurusan Seni Kriya Institut Seni Indonesia Padangpanjang dan penggiat seni di Komunitas Seni Kuflet Padangpanajng