Selasa, 22 Maret 2011

contoh proposal seni kriya

PROPOSAL KARYA SENI

DAMPAK GEMPA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN
KARYA SENI KAYU










Oleh:

Nama : Doli Elfian
Nim : 04112007
Jurusan : Seni Kriya


Proposal ini diajukan untuk mendapatkan dana Kompetisi Karya Seni sebagai Media Apresiasi Jurusan Seni Kriya Bidang Kemahasiswaan STSI Padangpanjang tahun 2009



DEPARTEMEN PENDIDIKAN INDONESIA
SEKOLAH TINGGI SENI INDONESIA (STSI)
PADANGPANJANG
2009
HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul karya seni : Dampak Gampa Sebagai Ide Penciptaan Kaya Seni Kriya
2. Data pengkarya
a. Nama lengkap, nim : Doli Elfian , 04112007
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Jurusan/Prodi : Seni Kriya/S1
3. Alamat pengkarya :
a. Alamat rumah/hp : Jl Soekarno Hatta Gang Seroja Padangpanjang
4. Jangka waktu kegiatan : 5 minggu, 20 November s/d 27 Desember 2009
5. Biaya yang digunakan :
Padangpanjang, 09 November 2009

Mengetahui Pengkarya
Pembimbing HMJ
Jurusan Seni Kriya


Rahmad Washington, S.Sn, M.Sn Doli Elfian
NIP: 197805252003121002 NIM: 04112007



Menyetujui
Ketua Jurusan Seni Kriya



Purwo Prihatin,S.Sn, M,Hum
Nip: 197412042003121003

Dampak gempa sebagai ide penciptaan karya seni kayu

1. Latar Belakang
Karya seni di derah Sumatra Barat secara keseluruhan pada umumnya berbentuk simetri dan asimetri. Kecendrungan bentuk karya-karya seni derah hany berkhas tradisi bahkah sacral adat. Bentuk-bentuk simetri dan asimetri pada umumnya, desaint menyatu dengan keseluruhan corak yang dipengaruhi dan bersumber pada aliran sufi. Layaknya motof-motif yang terlihat pada rumah adat minang, hamper keseluruhan motif cendrung mengarah pada tatanan adat bahkan beraliran sufi.
Karya panel yang berasal; dari minang kabau cendrung menampilkan kondisi dan romantika minang kabau secara tinggi atas nilai keindahanya. Kebanyakan para seniman memanfaatkan momen tradisi akan keindahan minang kabau yang direalisasdikan menjadikan karya-karya seninya. Namun secara harfiah seniman berperan menyampaikan wacana, wahana, saran atau tanggapan serta pandangan melalui karya-karyanya. Hal tersebut merupakan para seniman yang jarang ditemukan disekitar kita. Tidak dapat dimunafikkan bahwa peran seniman cendrung mencari keindahan yang penyampaian akan sebuah karya hany berupa nilai indah, bukan moral.
Berangkat dari hal tersebut, peristiwa Gempa Sumatera Barat 30 September 2009 merupakan kejadian yang sangat memprihatinkan. Hal tersebut seharusnya menyarankan para seniman untuk menyampaikan pesan moralnya melalui karya-karya garapannya. Dalam hal ini pesan yang disampaikan sepantasnya dapat menjadikan seni juga berpengaruh dalam segala hal termasuk dalam hal musibah.
Berdasarkan uraian singkat tersebut, penulis mencoba menggali dan menyampaikan pesan melalui kompetisi seni dalam mengembalikan nilai seni di kalangan mnasyarakat, sehingga pesan tersebut juga terkesan bernilai. Pelahiran yang demikian adalah dalam upaya mengembalikan ma’wah serta peran seni dalam dunia masyarakat umum yakni melalui pengarapan karya kriya kayu ayang berjudul “ Dampak Gempa sebagai ide penciptaan karya seni kriya”.

2. Tujuan dan manfaat
1. Tujuan
a. Sebagai upaya melestarikan nilai-nilai budaya yang ada
b. Sebagai pembelajaran untuk menginggat kembali pada bencana gempa di ranah minang.
c. Mengembangkan serta menciptakan bentuk-bentuk kebaruan dalam karya seni.
d. Sebagai upaya melestarikan kembali nilai-nilai kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Ranah minang.

2. Manfaat
a. Memperkenalkan serta melestarikan kembali bentuk kebudayaan minang ke tengah-tengah masyarakat.
b. Agar karya seni bernuansa Dampak gempa dapat dengan mudah di terima di tengah-tengah masyarakat khususnya Indonesia.
c. Meningkatkan mutu karya-karya yang telah ada sebelumnya sehingga menjadi lebih baik dan serta menambah masukan bagi pencipta karya seni, khususnya di bidang seni kriya kayu.
d. Agar karya yang mengandung nilai tradisi mudah di terima masyarakat.

3. Ide penciptaan
adapun metode yang dipakai dalam proses penggarapan karya seni ini adalah melalui beberapa metode yaitu:
1. Melakukan pendekatan secara langsung pada objek yang menjadi landasan ide dalam penggarapan karya seni ini terutama pada bentuk-bentuk kehancuran pada Dampak gempa di ranah minang.
2. Studi pustaka, yaitu mencari acuan dan data-data melaui buku dan majalah, baik berupa tulisan maupun gambar yang menyangkut dengan vasualisasi karya.
3. Studi Empirik, merupakan pengumpulan data yang diperoleh dari pengamatan dan proses pembentukan karya yang pernah ada yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga berguna untuk menciptakan karya.
a. Kajian sumber penciptaan
Konsep garapan sebuah karya, berawal dari ide. Kemudian konsep ini beranjak kepada proses penciptaan. Berangkat dari Dampak gempa sebagai suatu musibah yang menimpa ranah minang. penulis merumuskan rencana penciptaan karya seni yang bersifat ekspresi atas pemindahan bentuk yang nyata. Gagasan ini memunculkan konsep penciptaan yang menjadi dasar proses penciptaan dalam menciptakan karya-karya ekspresif melalui media kayu dengan ide dasar Dampak gempa yang dilihat secara subjektif.
Produk-produk seni diciptakan seniman dengan bermacam bentuk bersifat inovatif maupun karya hasil kreasi dan menjadi ciri khas seorang seniman dengan tujuan memperbaharui bentuk dan desain agar dapat menambah serta memperbanyak desain-desain baru dari bentuk yang telah ada dan dapat memperkaya hasil karya seni.
Penyempurnaan rancangan adalah suatu evolusi keterampilan yang terus-menerus. Manusia membutuhkan waktu yang lama sekali sehingga sampai pada betnuk-bentuk yang kita lihat sekarang”.
Berdasarkan uraian di atas, menjadi inspirasi penulis untuk menciptakan bentuk Dampak gempa yang akan diterapkan dalam bentuk kriya kayu. Ide penciptaan karya ini tidak terlepas dari pengamatan terhadap aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut di gunakan sebagai rancangan bentuk karya seni, sehingga karya yang di lakukan dapat dipakai atau difungsikan dalam kehidupan. Karya-karya yang akan digarap ini berfungsi sebagai elemen pendukung interior ruang keluarga atau ruang tamu yang dapat melahirkan nuansa yang tertata. Hal ini karena bentuknya sengaja di desain dengan nuansa tidak jauh berbeda dari bentuk asli bertujuan mendapatkan bentuk karya secara kebaruan jadi kepuasan bagi penikmat seni dengan harapan menambah nilai estetis. Harap penulis karya ini sesuai dengan nilai estetis sehingga lebih ekspresif dengan tidak mengubah substansi bentuk aslinya pada Dampak gempa.

b. Landasan teori
Pada dasarnya karya ini merupakan bentuk karya lukisan yang terbuat dari kanfas. Yang biasanya karya lukisan ini diletakkan pada dinding rumah. Fugsinya untuk memperindah ruangan rumah. Pada biasanya lukisan hanyak menampak kan bentuk semu. Dari pada itu penulis ingin mengangkat karya lukisan ini menjadi karya terstur nyata pada karya seni. Menurut Rastiani Sipayung bahwa seni lukisan itu hanya menimbulkan tekstur semu. Dan pada seni teknik ukir memiliki bentuk tekstur yang nyata.
1. Bentuk
Gustami dalam Riswel mengatakan bahwa form (bentuk) merupakan wujud secara keseluruhan sebuaah benda. Menurut Felmen “bentuk” adalah manifestasi dari sebuah objek yang hidup (2006: 186).
Bentuk karya panel ini mempunyai bentuk yakni garis, yang mengambarkan rumah gadang keseluruhannya sama, sedangkan perbedaan antara yang lainnya.
Pada dasarnya form (bentuk) adalah totalitas pada karya seni. Bentuk itu merupakan organisasi atau satu kesatuan atau komposisi dari unsur-unsur pendukung karya. (Kartika, 2004: 30). Bedasarkan pendapat di atas ada dua macam bentuk: pertama visual form yaitu bentuk fisik dari sebuah karya seni atau satu kesatuan dari unsure-unsurpendukung karya seni tersebut. Kedua special form yaitu bentuk yang tercipta karena adanya hubungan timbal balik antara nilai-nilai yang di pancarkan oleh fenomena bentuk fisiknya terhadap tanggapan emosionalnya.

2. Fungsi
Fungsi berhubungan dengan kegunaan dari suatu seperti halnya seni dengan hasi-hasinya menurut Feldman yang di terjamahkan Gustami dalam Riswel (2006: 62) fungsi karya seni akan terus berlangsung untuk memuaskan dan memenuhi kebutuhan seta mengingat kembali pada bencana yang menimpa Ranah Minang.

4. Penciptaan
a. Metode penciptaan
Adapun metode yang di pakai dalam proses pembuatan proposal karya seni ini adalah melalui beberapa metode yaitu:
1. Melakukan pedekatan secara langsung pada objek yang menjadi landasan ise dalam penggarapan karya ini terutama pada bentuk-bentuk dampak gempa.
2. Studi pustaka, yaitu mencari acuan dan data-data melalui buku dan majalah, baik berupa tulisan maupun gambar yang menyangkut dengan visualisasi karya.
3. Studi Empirik, merupakan pengumpulan datayang di peroleh dari pengamatan dan proses praktek pembentukan karya yang pernah ada yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga berguna untuk menciptakan karya dengan bentuk-bentuk dari kreasi baru.




b. Proses penciptaan
1. Gambar acuan

Dampak Gempa
Gambar ini merupakan kondisi yang terjadi pada saat gempa 30 September 2009


Dampak Gempa 2

2. Disain Alternatif























3. Disain Alternatif
























4. Disain Alternatif






















5. Disain terpilih























6. Gambar kerja























c. Bahan, alat dan tehnik
1. Bahan
Bahan terdiri dari bahan utama, bahan pununjang dan bahan pelengkap. Bahan utama adalah bahan pokok yang menjadi media penciptaan karya, sedangkan bahan penunjang adlah bahan-bahan lain yang menjadi kelengkapan penting yang digunakan untuk menciptakan karya. sedangkan bahan pelengkap adalah bahan-bahan yang di gunakan pada waktu finising untuk mempertajam keindahan karya yang diciptakan
a. Bahan Utama.
Bahan utama dalam karyaini adalah kayu Surian.
b. Bahan Penunjang.
Bahan pencipta karya ini adalah bahan lain untuk mendukung karya, dalam hal ini penulis mengunakan:
1) Amplas
2) Kertas HVS
3) Lem Alteco
c. Bahan Finising
1) Melamine Clear gloss.

2. Alat
Peralatan adalah seluruh benda yang digunakan untuk menunjang proses terciptanya sebuah karya seni. Dalam proses penciptaan karya ii penulis mengunakan alat-alat berikut:
a. Alat Manual
Alat-alat manual yang digunakan adalah:
1) Pahat Coret.
2) Pahat Ukir
3) Palu Kayu
Palu kayu adalah sebuah alat pemukul berbentuk palu untuk memukul pahat. Palu kayu dibuat dengan ukuran dan di buat sesuai dengan kebutuhan.
b. Alat Mesin
1) Mesin jig saw, sebagai alat pemotong kayu
2) Mesin Ketam, alat untuk meratakan permukaan kayu
3) Kompressor dan speed merupakan alat untuk finishing
c. Teknik
Merupakan Suwaji Bustami dalm Edi, teknik ukiran terbagi dalm empat bagian, yaitu teknik ukir tinggi, sedang, rendah dan terawang. Adapun teknik yang dipakai adalah:
1. Teknik Ukir Relief Tinggi
Teknik ukir relief tinggi adalah suatu teknik ukir dimana objek dari karya yang akan dibentuk lebih tinggi dari pemukaan kayu, seperti bentuk yang cembung.
2. Teknik Ukir Relief Sedang
Teknik ukir relief sedang adalah teknik ukir dimana objek dari karya yang akan dibentuk tidak tinggi dan tidak pula rendah.
3. Teknik Ukir Relief Rendah
Teknik ukir relief rendahadalah teknik ukir dimana objek dari karya yang akan dibentuk lebih rendah, seperti teknik ukir cekung.
4. Teknik Finishing, teknik ini mengunakan teknik semprot dengan Speed.

5. Kalkulasi biaya
1. Karya I (satu)
a. Kayu Surian 70 cm x 70 cm x 3 cm Rp 323.000.00,-
b. Lem Kayu Rp 7.000.00,-
c. Amplas (kasar dan halus) @2 Rp 16.000.00,-
d. Lem Alteco Rp 50.000.00,-
e. Clear gloss Rp 50.000.00,-
f. Melamin Rp 50.000.00,-
g. Thinner Rp 50.000.00,-
h. Upah Kerja 3 Minggu@ Rp.45.000.00.- Rp 945.000.00,-
Jumlah Rp 1.491.000.00,-

6. Penyajian karya/pameran
Karya ini nanti di pamerkan bersama peserta yang lainnya dalam hal ini langsung diadakan kompetisi antara karya mahasiswa kriya yang lainnya. Tempat pamerannya dilaksanakan di STSI Padangpanjang tepatrnya di depan kantor Jurusan Kriya dengan menggunakan dana kompetisi karya seni.



7. Sistematika Laporan
Halaman Judul Luar
Halaman Judul Dalam
Halaman Pengesahan
Daftar isi
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Penciptaan
b. Tujuan dan Manfaat
c. Metode penciptaan

BAB II KONSEP PENCIPTAAN
a. Sumber Penciptaan
b. Landasan Teori

BAB III PROSES PENCIPTAAN
A. Data Acuan
B. Sketsa Atau Desain Alternatif
C. Bahan, Alat, dan Teknik
D. Proses Perwujudan
E. Kalkulasi Biaya


BAB IV TINJAUAN KARYA
A. Judul
B. Sketssa
C. Disain/Gambar Kerja
D. Foto Karya dan Diskripsi

BAB V PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

8. Jadwal Pelaksanaan

Kegiatan Minggu ke
0 1 2 3 4 5
Persiapan
Elaborasi
Realisasi
Realisasi
Penyelesaian / finising
Penyajian karya

PUSTAKA
- AAM. Djelantik. 1999.Estetika Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni Pertunjukan Bandung, Indonesia.
- Achdrat K. Mihardja, 1998, Polemik Kebudayaan, Jakarta; Balai Pustaka.
- Dharsono Soni Kartika, 2004, Seni Rupa Modern, Bandung; Kekayasa Sains.
- Ismail Hamid, 1991, Masyarakat dan Budaya Melayu, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia Kuala Lumpur.
- Sumarjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. ITB, Bandung.
- Mursal Esten, 1993, Minangkabau tradisi dan perubahan, Anggota IKAP.
- Soedarso SP, 1991, Perkembangan Kesenian Kita, Yogyakarta; Balai Pustaka ISI Yogyakarta.
- SP Gustami, dampak Modernisasi Terhadap Seni Kriya Di Indonesia, Balai Pustaka ISI Yogyakarta.
- Tsuyoshi Kato, 2005, Adat Minangkabau dan Merantau Dalam Perspektif Sejarah, Jakarta; Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar