Jumat, 13 Januari 2012

Syair Seni Didong sebagai Media Komunikasi


Syair Seni Didong sebagai Media Komunikasi
admin June 19, 2011 No Comments »
Oleh: Salman Yoga S
A. Pendahuluan.
Salah satu unsur kebudayaan yang sangat berperan dalam kehidupan manusia adalah kesenian. Kebudayaan, oleh Koentjaraningrat diartikan sebagai “budi” atau “akal”,1 sehingga tidak heran jika kemudian kebudayaan dan kesenian kerap dijadikan salah satu tolok ukur dan menjadi indikator untuk mengetahui tingkat peradaban suatu komunitas. Aktualisasi dan pengungkapan ekspresi kerap menggunakan media yang berbeda-beda, rasa keindahan diekspresikan melalui bentuk kesenian, baik seni tari, seni pahat, seni suara dan lain-lain sebagainya. Kesenian dalam kosmos peradaban manusia adalah suatu bentuk penyangga kebudayaan, agar kebudayaan tersebut tetap eksis di tengah masyarakat pemiliknya.2
Keberlangsungan komunikasi dalam komunitas masyarakat, tetap terjaga dan lestarinya nilai-nilai kearifan budaya dari satu generasi ke generasi merupakan satu proses panjang yang membutuhkan satu media tranformasi yang tidak saja dekat dengan audiennya juga merupakan bagian terpenting dalam kebudayaannya. Disinilah letak sebuah unsur kebudayaan menjadi penting, baik sebagai media komunikasi antar sesama maupun sebagai media informasi kepada orang lain di luar lingkungannya.
Esensi komunikasi yang hakiki adalah bagaimana sebuah pesan dapat sampai kepada orang lain (komunikan), media yang digunakan untuk tercapainya hal tersebut ada bermacam macam. Dalam dunia modren penggunaan alat dan sarana komunikasi adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan untuk mengkomunikasikan pesan. Tetapi bagaimana sebuah komunikasi dapat berjalan sebagaimana mestinya jika alat dan sarana telekomunikasi tersebut justru tidak ada pada masayarakat tempo dulu. Jawabannya adalah bagaimana peran dan fungsi dari bagian unsur kebudayaannya dapat menjadi saluran komunikasi, meskipun hal tersebut hanya berlaku dalam lingkungan yang terbatas.
Kesenian menjadi media yang paling mudah dan mulus dalam merubah dan menyampaikan pesan kepada masyarakat. Karakter ini menjadi nilai lebih bagi sebuah unsur kebudayaan, karena ia tidak memerlukan banyak alasan atau argumen. Pola perubahan yang diharapkan adalah dari segi apektif dan kognitif individual yang selanjutnya turut pula mempengaruhi kehidupan sosial secara kolektif. Sejarah dan metode para mubaligh dalam mendakwahkan ajaran Islam
serta peran kesenian dalam masuknya Islam di nusantara melalui Kerajaan Pase Aceh,3 kesenian bukan saja dimanfaatkan dan didayagunakan sebagai media penyampaian pesan atau sebagai media komunikasi, tetapi juga menjadi sarana sekaligus metode untuk mempengaruhi komunikan untuk menerima dan mengikuti mesege komunikasi.
Dari sekian banyak kesenian tradisional sebagai bagian dari unsur kebudayaan yang ada di nusantara salah satunya adalah seni Didong, yaitu suatu kesenian yang merupakan perpaduan antara seni suara dengan sastra berupa syair-syair puisi sebagai unsur utamanya. Didong adalah suatu kesenian yang dimiliki oleh masyarakat Gayo yang mendiami Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh.
Secara umum dapat dikatakan bahwa sejak masuknya Islam ke tanah Aceh, baik kebudayaan Aceh maupun kebudayaan Gayo adalah kebudayaan yang bernafaskan Islam. Setelah Islam masuk ke tanah Gayo, maka kesenian Gayo bernafaskan Islam,4 dan kesenian yang paling mendominasi kebudayaan Gayo di antara jenis dan bentuk kesenian lainnya adalah seni Didong.
Sebagaimana ditulis oleh Thantawy R. bahwa seni Didong adalah satu macam kesenian yang sangat populer di kalangan masyarakat Gayo. Seni Didong adalah merupakan suatu social intrest, artinya suatu unsur kebudayaan yang amat digemari oleh sebagian besar masyarakat, sehingga banyak unsur-unsur lain dan lapangan-lapangan lain dalam masyarakat itu tersangkut dan terdorong karenanya.5 Kesenian ini digemari dan disenangi oleh masyarakat, karena berisi syair-syair puisi faktual, aktual dan kontekstual menyangkut berbagai macam masalah kehidupan, baik agama, adat budaya, sosial, politik maupun lingkungan.
Berdasarkan keberadaan dan peran seni Didong dalam membentuk budaya dan kehidupan sosial masyarakat dan keberagamaan, mejadi menarik untuk dibahas, terutama dari unsur pesan-pesan yang terkandung dalam syair-syairnya dan pemanfaatan kesenian tersebut sebagai mediaa komunikasi.
B. Syair, Seni Dan Didong.
Secara etimologis syair adalah karangan atau gubahan bersajak, puisi,6 kata syair sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu “syu’ur” yang berpengertian sebagai “perasaan”, dengan ciri terdiri dari empat baris sebait kebanyakan berisi nasehat, petuah, dongeng dan cerita.7 Selanjutnya pengertian syair sama dengan “lirik” pada nyanyian atau lagu.8 Secara umum kata “syair” lebih cenderung dimaknai sebagai “sajak” atau “puisi”,9 pengertian inipun mengarah kepada jenis karya sastra modren maupun tradisional.
Istilah lain yang sangat erat hubungannya dengan kata “syair” adalah kâtib, yang berarti penulis (penyair). Penggunaan kata kâtib merujuk pada banyak arti. Salah satu makna dasar dari kata tersebut adalah “penulis”. Kata itupun sering digunakan dalam arti penulis atau penyalin prosa yang indah, yang maknanya sejajar dengan istilah “nâsikh, atau warrâq’. Istilah lainnya adalah munsyi’ yang berarti seseorang yang menulis dan yang menciptakan sendiri karangannya.10 Karena itu untuk menyebutkan sesuatu kata atau istilah tidak berdasarkan penglihatan tetapi pendengaran, penyebutannya lebih tertakluk kepada sistem bunyi bahasa yang berkenaan, khususnya bahasa penuturan atau lisan. Justru itu syair atau ‘syi’ir disebut juga dengan sa’e’ atau ‘sa’ iyo’ dalam bahasa Melayu, ‘sayer’ dan ‘singir’ atau geguritan dalam bahasa Jawa.11
Syair bagi masyarakat Gayo yang menggunakan sastra lisan menyebutnya menjadi ‘syair’ atau ‘sa’er’, yaitu salah satu bentuk sastra lisan yang merupakan media dakwah agama yang isinya berupa tafsir dari Alquran, hadis Nabi, mengisahkan kehidupan para sahabat Nabi dan nasehat-nasehat lain yang bersumber dari ajaran Islam.12 Sementara itu kata syair dalam konteks ini adalah naskah teks yang bentuk tulisan maupun lisan yang bersumber dari kesenian Didong, yang bermuatan informasi, komunikasi, pesan, ajakan, seruan, penjelasan tentang sesuatu kepada masyarakat dengan maksud membawa kepada perubahan secara afektif maupun kognitif.
Selanjunya prihal seni. Pengertian bidang ini demikian banyak sebagaimana yang dikemukakan oleh para filsuf seni, ahli estetika dan oleh seniman sendiri. Susanne K. Langer memberi batasan bahwa seni adalah istilah umum yang mencakup lukisan, musik, tari, sastra, drama, dan filem. Kesemua itu dapat dibatasi sebagai kegiatan menciptakan bentuk-bentuk yang dapat dimengerti, yang mengungkapkan perasaan manusia.13 Sedangkan menurut The
Liang Gie, seni adalah segenap kegiatan budi pekerti seseorang (seniman) yang secara mahir menciptakan sesuatu karya sebagai pengungkapan perasaan manusia. Hasil dari kegiatan itu ialah suatu kebulatan organis dalam suatu bentuk tertentu dari unsur-unsur yang bersifat ekspresif yang termuat dalam suatu medium indrawi. Seni adalah suatu (proses) dan sekaligus juga sebagai hasil kegiatan (produk), kedua hal ini tidak dapat dipisahkan.14
Terkaitan dengan syair sebagai media penyampaian pesan-pesan keagamaan, Bachrum Bunyamin mengartikan seni sebagai hasil cipta yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan keindahan yang menyenangkan.15 Suatu definisi yang lebih cermat, barang kali ialah bahwa sebuah karya seni adalah suatu bentuk tampak tersendiri yang dibentuk secara mahir dalam suatu pengungkapan atau perwujudan yang serasi mungkin dan dapat berdiri sendiri dari suatu gagasan, khayalan atau keinginan yang mengharukan.16
Namun kemudian secara umum orang berpendapat bahwa kesenian adalah hasil ekspresi manusia akan keindahan, meski tidak semua hasil karya seni dapat dikatakan demikian. Karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengadung unsur-unsur sistem budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa dengan kesenian masyarakat yang bersangkutan bermaksud menjawab atau menginterpretasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mengisi kebutuhan atau mencapai suatu tujuan bersama, seperti kemungkaran, persatuan, kemuliaan, kebahagiaan dan rasa aman berhubungan dengan yang gaib (supranatural) dan lain-lain. Kesenian sebagai hasil ekspresi keindahan yang mengandung pesan budaya terwujud dalam bermacam-macam bentuk, seperti seni lukis, seni patung, seni sastra, seni tari, seni vokal, seni musik dan seni drama.17
Berikutnya pengertian Didong, dalam masyarakat Gayo secara etimologis Didong belum mempunyai pengertian yang jelas.18 Namun salah seorang pelaku kesenian ini Sali Gobal dalam sebuah karyanya yang berjudul “Didong”19 secara implisit dan eksplisit menerangkan pengertian dari kesenian ini sendiri lebih cenderung kepada pengertian “dendang” secara khusus dan berpengertian sebagai “nyanyian” secara umum. Hal tersebut dapat kita simak dalam kutipan syair berikut :
Didong didong didong do didong ni
Didong ko kin seni ni urang Gayo ni
Tikik tikik telas basa, bijak cerdik tutur kata
Roneng tikik makin gaya, osop macik pora-pora
Didong denang didong didong ku denang20
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:
Didong didong duh didong
Didong kau untuk seni orang Gayo
Pelan-pelan tampak bahasa, bijak cerdik tutur kata
Norak sedikit menambah gaya, dengan perlahan hilang resah
Didong denang didong denang kudendang.
Menganalisa kutipan syair Didong tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa Didong mempunyai pengertian sebagai “dendang”. Meski M.Junus Melalatoa menyebutkan bahwa sebenarnya kata “dendang” dari pengertian kata “Didong” mempunyai makna yang lebih luas, artinya bukan sekedar berdendang,21 karena dalam kesenian Didong juga merangkum beberapa jenis kesenian masyarakat Gayo lainnya seperti seni sastra lisan (seni bertutur), seni tari dan seni teater.
Secara umum kesenian Didong adalah merupakan perpaduan antara seni vokal dan seni suara dengan sastra puisi berupa syair-syair sebagai unsur utama. Secara khusus, seni Didong adalah perpaduan yang kompak dan bulat antara seni gerak serta sintak (lagu) serta isi (syair puisi) yang romantis alami, dinamik.22 Atas landasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kesenian Didong adalah merupakan salah satu kesenian tradisional khas masyarakat Gayo yang berupa perpaduan antara seni suara, seni sastra dengan syair-syair sebagai unsur utamanya, seni tari dan seni teater.
Adapun penambahan kata “Gayo” di depan kata “Didong” menjadi “Didong Gayo” adalah merupakan kata keterangan sekaligus kata untuk menegaskan wilayah dan komunitas dimana kesenian tersebut tumbuh, berkembang dan mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Menunjukkan penggunaan bahasa dan ekspresi seni sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Gayo, yaitu salah satu etnik atau suku terbesar yang mendiami daerah Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh.
C. Sistem Pertandingan Seni Didong.
Kesenian Didong dipertandingkan antara dua kelompok kesenian dalam waktu semalam suntuk, sejak usai shalat Isya sampai menjelang shalat Subuh. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 30 sampai 40 orang, dalam penampilan mereka duduk bersila membentuk lingkaran dengan bantal kecil sebagai pengganti alat musik pengiring. Setiap kelompok kesenian dipimpin oleh satu sampai tiga orang yang disebut dengan Ceh (penyair), yang ahli dalam menuturkan dan melantunkan sastra Gayo dalam bentuk syair-syair puisi dan lagu. Di samping itu Ceh (penyair) mempunyai keahlian dan kemampuan dalam menyusun kalimat syair baik melalui persiapan maupun secara spontan.
Dalam setiap penampilan atau pertunjukkan, masing-masing kelompok diberi waktu selama 30 menit secara bergantian sepanjang malam. Kedua kelompok kesenian akan saling beradu syair dan puisi, inilah yang merupakan inti serta daya tarik dari kesenian Didong. Selain dalam bentuk pertandingan, kesenian ini juga kerap dipentaskan dan dipertontonkan dalam acara-acara tertentu.
Sebagai suatu kesenian yang sangat digemari oleh masyarakatnya dengan syair-syair puisi sebagai unsur utamanya, maka pada masa penjajahan Belanda kesenian ini telah dimanfaatkan untuk membangkitkan rasa fanatisme kelompok, kampung dan suku guna mendukung politik pecah belah (defide et empra). Syair-syair dan puisi dalam Didong yang pada awalnya berisi petuah-petuah, nasehat-nasehat, tamsil mengenai masalah kehidupan sosial dirubah menjadi sarana propaganda.23
Karena adanya pengaruh dan kepentingan kolonial, maka dalam perkembangan selanjutnya kesenian ini telah mengalami pembaharuan-pemaharuan. Baik dari segi peran dan fungsi, isi syair puisi serta tema-tema karangan. Pembaharuan itu dapat dilihat dalam beberapa periode perkembangan dari seni Didong.24 Setidaknya ada empat priodeisisasi, kesemuanya pada akhirnya berhenti pada eksistensisnya sebagai sebuah kesenian tradisional dengan syair pusi sebagai unsur utama. Dimana pada priode tarkahir jenis kesenian ini telah menjadi media komunikasi dan saluran silaturahmi antar masyarakat, menjadi mediator antara pemerintah dangan rakyat dan antara umat dengan ulama. Di samping itu seni Didong juga merupakan sumber nilai dalam budaya Gayo.
D. Syair Seni Didong Sebagai Media Komunikasi
Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa berkomunikasi kepada sesama manusia juga kepada Tuhannya. Senada dengan itu para pakar mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat menghindar untuk berkomunikasi. Karena berkomunikasi memang sunnatullah. Komunikasi adalah kodrat bagi manusia. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, bersuku-suku bangsa untuk saling mengenal. Dari proses saling mengenal inilah terjadi komunikasi antar manusia. Ketika surat Al-Alaq diwahyukan kepada Muhammad Saw, maka benih ilmu komunikasi sudah ditebarkan. Ketika manusia memohon do’a, terjadilah komunikasi transenden. Demikianpun ketika dari masjid-masjid dikumandangkan suara azan, maka contoh komunikasi massa islami telah diterapkan.25
Komunikasi Islami bertujuan bukan saja menyampaikan pesan atau informasi kepada pihak lain, tetapi juga mengajak kepada jalan kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar) yaitu jalan dan ajaran agama Islam dengan landasan keimanan. Komunikasi semacam ini bagi seorang muslim menjadi wajib hukumnya. Komunikasi tidak saja menjadi suatu yang dapat menghubungkan antar satu orang atau lebih, tetapi juga menjadi bagian dari perbuatan kebaikan sekaligus amal ibadah bagi komunikatornya.
Syair sebagai bagian dari kesenian adalah merupakan sesuatu yang umum, terdapat dalam setiap nyanyian dan seni sastra tradisonal. Ia bukan saja menjadi bagian dari kesenian tetapi juga telah menjadi media. Syaikh Madun Rasyid dalam bukunya yang berjudul Wadhaya Al-Lahwi wa At-Tarfih mengutip pendapat Doktor Najib Al-Kailani menggambarkan kedudukan, peran dan perjalanan syair dari zaman ke zaman.
Syair karya orang-orang jahiliyah cenderung mengangkat topik tentang kehormatan, keturunan, dan harga diri. Syair mereka juga membanggakan tuhan-tuhan yang palsu dan nilai-nilai lalim yang hanya melahirkan kerusakan, dan kehancuran. Syair mereka tidak mengandung nilai-nilai agung. Padahal untuk menciptakannya mereka harus mempertaruhkan darah nyawa, dan harta. Mereka hanya membangga-banggakan kemuliaan nenek moyang serta idiologi dan gambaran mereka tentang kematian, kehidupan, kekuasaan, dan kekerasan. Ketika Islam datang, syair masih dalam keadaan seperti itu. Kemudian Islam mengakui syair yang sesuai dengan nilai-nilai keutamaan, dan mengingkari yang sebaliknya.26
Pendapat Najib Al-Kailani tersebut membuktikan bahwa penggunaan dan pemanfaatan kesenian terutama syair sebagai media untuk menyampaikan pesan, telah berkembang sejak pra Islam. Selanjutnya ketika Islam hadir hal tersebut terus berkembang dan menjadi bagian dari sarana penyebarluasan ajaran dan pemahaman tentang agama Islam. Hal tersebut dikuat lagi oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang menyatakan bahwa :
“…karena nyanyian biasanya berbentuk syair (lirik). Syair itu tidaklah haram secara mutlak. Karena Nabi Saw. sendiri menyatakan :
ان من الشعر حكمة
Artinya:
“Sesungguhnya di antara syair ada yang mengandung hikmah”.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan disebutkan takhrijnya dalam Ash-Shahihah (No.2851). Rasulullah Saw juga mengungkapkan syair. Disebutkan takhrijnya dalam Ash-Shahihah (2058), lihat pula komentar terhadapnya dalam buku Shahih Al-Adab Al-Mufrad, yang antara lain menyebutkan Rasulullah Saw pernah bersabda ketika beliau ditanya tentang syair, beliau menyatalkan bahwa :
هو كلا م, فحسنه حسن, الشعر وحبيه قبيح
Artinya:
ٍSyair adalah ucapan: yang baik di antaranya adalah ucapan baik, dan yang buruk di antaranya adalah ucapan buruk”.27
Sastra Islam adalah salah satu bentuk -dari sekian bentuk- dakwah Islam, dengan menggunakan ungkapan-ungkapan autentik yang sesuai dengan tujuan-tujuan luhur Islam serta menjauhi berbagai teori dan aliran sastra asing di seluruh penjuru dunia. Sastra Islam adalah seni ekspresi bahasa tingkat tinggi tentang manusia, kehidupan alam semesta. Di samping gambaran tugas di atas, para pekerja seni sastra Islam juga mengemban misi menampilkan keagungan Islam dalam matra kebenaran, kebaikan dan keindahan. Karena kebenaran adalah tujuannya, kebaikan adalah jalannya dan keindahan adalah tempat lahirnya getaran emosional.28
Kesenian dengan syair sebagai bagian terpenting di dalamnya, sebagai media komunikasi Islam yang berisi penyampaian pesan-pesan keagamaan diakui pula oleh Azwar AN, bahwa sebenarnya dakwah atau penyampaian pesan-pesan agama melalui seni adalah hal yang tepat. Alasan tersebut menurut Azwar AN lebih di dasarkan atas; karena seni mempunyai kaedah tersendiri, tidak menggurui tetapi dapat menyentuh hati nurani dan logika, etika seni dalam kaitan ini mencerminkan keimanan yang berdasarkan tauhid, tata aturan hukum Islam dan akhlak yang islami, dan ditambah pula dengan pesan-pesan yang memberikan dorongan kepada umat untuk selalu meningkatkan perwujudan akhlak mulia dalam kehidupan. Namun demikian jika seni digunakan sebagai media dakwah maka seni pun harus mengacu pada prinsip etika seni Islam sebagaimana yang disebutkan di atas, tentu dengan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip seni itu sendiri. Hal tersebut karena Alquran mengajarkan bahwa ketika ia menggunakan sastra manusia itu, kendatipun disana ada rahasia Ilahiyah yang tak mampu tersingkapkan oleh manusia secara tuntas kerana berada di luar jangkaunnya.29
Karena selain seni bertujuan menimbulkan kesenangan yang bersifat estetik dan menurut konsepsi Islam harus dipadukan dengan etika. Tertariknya manusia kepada keindahan, dimanfaatkan oleh seniman agar karyanya mendapat respons oleh masyarakat selaku penikmat sekaligus audiens. Kalau seni mengandung daya tarik mengapa tidak dimanfaatkan dalam dakwah, sehingga dakwah (komunikasi Islam) mendapat respons positif dari khalayak (audience).30
Berbagai unsur dari seni sastra ialah pokok sosial, tema, dalil, alur, makna (termasuk makna ganda), tamsil, kiasan, matrik, dan suatu nilai. Seni puisi misalnya memamfaatkan sepenuhnya makna ganda. Para Filsuf seni umumnya sepakat bahwa seni sastra termasuk seni perlambang atau simbol, kadang-kadang simbolisme yang dipergunakan dalam seni ini demikian abstrak dan sulit sehingga misalnya sebuah sajak tidak dapat dimengerti oleh orang-orang.31
Kesenian dengan unsur syair merupakan salah satu seni yang mediumnya tidak bersifat internasional. Masing-masing bangsa dan suku bangsa memilki bahasanya sendiri, sehingga suatu bangsa tidak dapat mengerti karya sastra bangsa lain kalau tidak menguasai bahasa dari bangsa lain itu, terkecuali bahasa tersebut telah diterjemahkan. Hal itu pun biasanya dari segi estetik verbalitas dan makna sudah terganggu. Tetapi usaha untuk menganalisis isinya ditinjau dari segi komunikasi akan membawa kita kepada suatu pemahaman yang konprehensif kandungan muatan nilainya.
Demikian, proses transfer of felling (pengalihan persaan) dalam hal ini termasuk juga pengalihan pesan dari komunikator kepada komunikan dan mengaitkannya dengan inti dari proses sebuah komunikasi Islam yaitu; pengalihan pesan dari komunikator kapada penerima atau audiens, setiap jenis kesenian dapat menjadi media yang baik untuk mencapai keberhasilan pengalihan pesan. Karena pengalihan perasaan dalam kesenian adalah juga peralihan nilai dan peralihan pesan, baik itu nilai estetika sebuah kesenian maupun pesan yang terangkum di dalamnya, baik berupa norma-norma dari sistem budaya, ajaran agama, pengetahuan dan lain sebagainya.
Kesenian Didong sebagai seni tradisional masyarakat Gayo yang isinya berpedoman pada sistem budayanya, baik mengenai pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma-norma yang hidup dalam budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut yang telah mendapat pengaruh dari unsur sistem budaya yang berasal dari agama Islam.32
Dengan demikian komunikasi dalam syair seni Didong juga berisi ajaran-ajaran dari agama Islam. Adapun kekuatan penyampaian informasi melalui seni secara sederhana dapat dilihat dari peran kesenian tersebut baik sebagai media, ekspresi, hiburan dengan segala pesan-pesan budaya yang di dalamnya, secara langsung telah mempengaruhi para penikmat kesenian tersebut, pemahaman dan proses transper nilai.
Seni Didong melalui untaian syair-syairnya menginformasikan tentang berbagai hal, mulai dari sejarah sampai kepada pensosialisasian Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) berikut dengan jabaran tiap-tiap sila dalam Pancasila, misalnya. Seni Didong dengan gaya bahasanya sendiri mampu mengkomunikasikan kepada rakyat di pedesaan tentang program pelaksaan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) Republik Indonesia pada masa kekuasaan Orde Baru.
Keberadaan teknologi komunikasi seperti televisi, koran dan radio yang belum menyentuh sebagian besar masyarakat, terutama yang berada di pedalaman dan jauh dari Ibu Kota Kecamatan dan Ibu Kota Kabupaten memposisikan Didong melalui syair-syairnya sebagai satu-satunya media yang mampu mengkomunikasikan berbagai hal kepada masyarakat luas. Disaat media komunikasi tersebut belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat, di tengah kenyataan minat baca masyarakat yang sangat rendah, di antara sela itulah Didong tampil mengkomunikasikan dan mewartakan informasi dan kejadian-kejadian aktual dan faktual.
Bencana gempa dan gelombang raya Tsunami pada tanggal 24 Desember 2004 yang menerjang Banda Aceh dan sepanjang pesisir Serambi Mekah itu diinformasikan keberbagai pelosok pedalaman dan dataran tinggi Gayo melalui syair-syair Didong. Tema yang menjadi sorotan syair seni Didong yang dikaitkan langsung dengan komunikasi adalah menyangkut bencana alam gempa dan gelombang Tsunami, perdamaian antara GAM dan TNI serta menyangkut pemilihan kepemimpinan daerah dalam Pemilihan Langsung Kepala Daerah (PILKADA).
Cerminan syair-syair dari ketiga isu tersebut dapat kita simak dalam kutipan di bawah ini:
Peringeten bele asalni musibah
Bobon kin istilah gelumang Tsunami
I balik oya ara rupen hikmah
Renye musyawarah so GAM urum RI
Terjemahannya:
Peringatan bencana melalui musibah
Disebut dengan istilah gelombang Tsunami
Dibalik itu rupanya ada hikmah
Kemudian bermusyawarah GAM dengan RI
Dalam konteks ini, syair seni Didong Gayo seakan kembali mengingatkan kepada masyarakat bahwa pada setiap bencana yang diturunkan Allah SWT di atas bumi sesungguhnya mengandung hikmah atau pelajaran yang sangat berharga. Dalam syair di atas dengan jelas disebutkan bahwa sebagian hikmah dari bencana gempa dan gelombang Tsunami yang menimpa masyarakat, salah satunya adalah timbulnya itikat baik dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) baik yang berada di luar maupun di dalam negeri dengan pihak pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk mengakhiri pertikaian bersenjata selama tiga puluh tahun dengan cara berdamai.
Sementara sebelum terjadinya bencana Tsunami kedua belah pihak seakan tidak pernah menemukan kesepakatan yang berarti dalam setiap negosiasi dan perundingan, meskipun hal tersebut telah dilakukan berulang kali di beberapa tempat, baik di dalam maupun luar negeri. Setelah terjadinya bencana Tsunami yang menyentakkan rasa kemanusiaan dari berbagai negara, perundingan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pihak pemerintah Republik Indonesia (RI)-pun kemudian berjalan dengan mulus seolah tanpa kendala yang berarti.
Keberhasilan proses damai ini oleh syair seni Didong dianggap dan ditafsirkan sebagai bagian dari hikmah sekaligus berkah yang luar biasa dari musibah gempa dan gelombang Tsunami. Kandungan syair juga menyiratkan penting dan bermaknanya sebuah perdamaian antara pihak yang bertikai, terutama bagi rakyat jelata yang justru tidak pernah tau secara pasti sebab-musabab mengapa permusuhan sampai terjadi sedemikian panjang dan menelan korban manusia yang tidak sedikit. Hikmah perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Republik Indonesia (RI) ditambah dengan bencana Tsunami, secara maknawi dicerminkan dari keseluruhan teks syair.
Melalui syair-syair yang berisi pesan keislaman tersebut, seni Didong berusaha mengingatkan manusia yang terkena bencana untuk tetap optimis dalam menjalankan kehidupan, jangan berlarut-larut dalam kesedihan serta seruan untuk tetap tabah dan sabar dalam segala hal. Pesan-pesan ini di tampilkan dalam bait-bait syair dengan susunan kata dan gaya bahasa yang menyentuh.
Pemadatan pesan komunikasi dan makna melalui syair pun demikian kentara, sehingga setiap pendengar yang menyimak lantunan syair seni Didong ini didendangkan dengan sendunya, membutuhkan daya apresiasi dan daya tangkap tersendiri dalam menyimak. Tanpa proses tersebut inti komunikasi yang disampaikan oleh para aktor pendendang (Ceh) tidak akan sampai pada hakekat makna syair. Demikianpun jika proses apresiasi serta kemampuan mencerna, menyimak dan berpikir tidak berjalan seiring dengan lantunan syair, maka para penonton hanya akan dapat menangkap muatan pesan tersebut adalah bagian dari sebuah hiburan.
Komunikasi informasi dan komunikasi islami dalam beberapa syair tampak disatukan secara langsung dan memadai sebagai sebuah proses transfer nilai, hal tersebut dapat disimak dalam kutipan syair berikut :
Engon sareh panang nyata
Kukute Banda sawah ujien
Gempa Tsunami nemah makna
Munarah nijema kati berimen
Gelomang Tsunami ibobun kin data
Munetes jema bidang kejujuren
Fakir miskin mengharap derma
Dabuh si kaya nerime bantuen
Ulak mikite keta ku agama
Si enguk mungoa i ate berimen
Ike gati tungkuk ku musalla
Kite gere ne mera salah jelen
Terjemahannya :
Lihat jelas dipandang nyata
Ke Kota Banda tiba cobaan
Gempa Tsunami membawa makna
Mengarahkan manusia agar beriman
Gelombang Tsunami dijadikan fakta
Menguji orang dibidang kejujuran
Fakir miskin mengharap derma
Mengapa yang kaya menerima bantuan
Kembalilah kita ke agama
Yang dapat melarang di hati yang beriman
Jika sering sujud ke sajadah
Kita tidak lagi salah jalan
Menyimak makna yang terkandung dalam syair di atas, para senimannya berpandangan bahwa bencana adalah sebuah ujian dari Allah SWT, mengingatkan manusia agar beriman kepada sang Khalik, menyerukan agar kembali kepada ajaran agama. Jika melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dengan mendirikan shalat, maka umat tidak akan salah jalan. Dengan demikian kehidupan akan diberi petunjuk ke arah yang benar sejalan dengan tuntunan agama.
Syair tersebut juga menjadi alat tunjuk dalam mengkomunikasikan pesan yang disampaikan dengan kalimat bernuansa seruan, sekaligus sebagai kalimat perintah dan kesaksian; engon jela panang nyata (lihat jelas dipandang nyata). Kemudian juga menyodorkan fakta; ku kute Banda sawah ujien (ke kota Banda tiba ujian), dua bait berikutnya adalah penafsiran dari bait-bait sebelumnya yang menjadi inti dari komunikasi dan pesan keislaman; gempa Tsunami munemah makna munarah ni jema kati berimen (gempa Tsunami membawa makna mengarahkan manusia agar beriman).
Pada syair lainnya, seni Didong juga memberi gambaran bahwa tanda-tanda kekuasaan Allh SWT telah sedemikan nyata di gambarkan ke kehadapan penglihatan mata berupa bencana, pada bait berikutnya juga mengingatkan agar manusia berbenah dan kembali menata kehidupan sendiri tanpa menunggu bantuan dari pihak lain. Manusia disarankan untuk bangkit dari bencana dan kehilangan harta benda, tanpa menempatkan diri sebagai orang yang menerima bantuan, mental pengemis dan ingin dibelaskasihani. Konsep “harga diri” dan konsep untuk merubah ini dijelaskan sebagaimana terkandung dalam makna syair di bawah ini;
So bele nge teridah ku mata
o umet wan donya berubah mikite
Tuhenpe gere murubah nasipte
tekecuali kegere kite kin dirinte munetahie
Terjemahannya :
Itu bencana sudah tampak di depan mata
wahai umat di atas dunia berubahlah kita
Tuhanpun tidak merubah nasip kita
terkecuali kalau tidak diri kita sendiri merubahnya
Isi syair ini berhubungan langsung dengan konsep “merubah nasip” dalam pandangan Alquran. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat Ar Ra’du ayat 11 yang menyatakan bahwa; Allah SWT “tidak akan merubah nasip suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubah nasipnya sendiri”.
Demikianpun muatan syair ketika menyampaikan informasi dan data tentang pendidikan terutama setelah terjadinya bencana Tsunami. Syair seni Didong memberikan informasi tentang banyaknya rumah sekolah yang rusak dan hanyut, hingga anak-anak tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, baik dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Umum. Meskipun demikian masyarakat tetap melaksanakan proses belajar mengajar meski dengan fasilitas seadanya.
Tenaga pendidik dengan ikhlas memberi pelajaran di bawah tenda-tenda pengungsian, meskipun sang guru sendiri adalah korban bencana. Syair seni Didong juga menggambarkan bagaimana dedikasi para relawan dalam membantu proses belajar mengajar. Memberikan pesan dan amanat kepada para orang tua agar anak-anak mereka dapat dituntun belajar sewaktu berada di rumah. Syair seni Didong memberikan perbandingan-perbandingan manusia di sisi Tuhan apabila tidak mau belajar. Menceritakan keperibadian, keikhlasan dan pengorbanan guru, memberi gambaran kualitas anak didik jika yang menjadi tenaga pengajarnya juga adalah mereka yang mempunyai kompetensi dari segi jenjang pendidikan.
Sebagian dari isi syair tersebut sebagaimana terdapat dalam kutipan di bawah ini :
Guru munejer urum perasaen
Sekalipun guru ara muhalangen
Bidik pemerintah mumerah jelen
Anak sekulah rawan urum banan
Besiloni murid nge makin maju
Bidik munerime penerangen guru
Kerna simunejer bewene bermutu
Dele es satu teba es due
Ku rayat sidele laingku mutuju
Anak iumah boh nuke buku
Sebeb pendidiken olok pedi perlu
Urum-urum ibantu lekati semperne
Terjemahannya:
Guru mengajar dengan perasaan
Sekalipun guru punya halangan
Cepat pemerintah mencari jalan
Anak sekolah lelaki dan perempuan
Sekarang murid sudah semakin maju
Cepat menerima penjelasan guru
Karena yang mengajar semua bermutu
Banyak S1 sebagian S2
Kepada rakyat banyak amanatku tertuju
Anak dirumah diarahkan membuka buku
Sebab pendidikan sungguh sangat perlu
Bersama-sama kita bantu agar sempurna
Dari segi komunikasi islami, muatan dan isi syair bukan lagi menjadi sarana hiburan sebagai sebuah kesenian. Tetapi telah menjadi media penyampaian informasi dan pesan yang bersifat memotivasi, mendukung dan mengarahkan orang banyak kepada kebaikan, baik secara individual maupun sebagai bagian dari komunitas masyarakat.
Demikian juga seni Didong sebagai media silaturrahmi, kesenian ini menjadi wahana pertemuan bagi masyarakat dari
·  berbagai kampung dan pelosok yang sengaja datang berduyun-duyun ke tempat pertunjukkan. Di tempat itu mereka bertemu dan saling menyapa antara sesama dan dengan sanak saudara dari kampung lain. Fenomena ini selanjutnya menjadikan seni Didong sebagai media komunikasi massa, yang mampu menghadirkan banyak orang dalam satu tempat.
Menjadi mediator antara pemerintah dangan rakyat dan antara umat dengan tokoh agama adalah berdasarkan eksistensi kesenian ini yang tetap terjaga. Melalui syair-syairnya seni Didong mampu menyampaikan pesan-pesan dengan baik dan menarik. Terlebih pertunjukan kesenian ini selalu menjaga sportivitas, kualitas dan validitas isi syair dengan isu-isu yang tengah menjadi sorotan massa.
Dalam ruang lingkup sosiologi komunikasi, seni Didong dapat digolongkan kepada social inter action, yaitu penyebar luasan informasi, ide-ide, sikap-sikap, atau emosi dari seorang atau kelompok kepada yang lain, terutama melalui simbol-simbol dan pesan-pesan.33 Karena ruang lingkup komunikasi menyangkut persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan subtansi interaksi sosial orang-orang dalam masyarakat; termasuk konteks interaksi komunikasi yang dilakukan secara langsung maupun dengan menggunakan media.34
E. Kesimpulan.
Dari pembahasan yang diuraikan maka ada beberapa kesimpulan yang dapat disarikan sebagaimana tersebut di bawah ini;
Seni Didong adalah salah satu jenis kesenian tradisional masyarakat Gayo yang masih bertahan hingga zaman modren ini, mempunyai social interest yang tinggi dari setiap lapisan masyarakatnya. Kesenian Didong adalah perpaduan antara seni tari dan seni suara dengan unsur sastra berupa syair-syair sebagai unsur utamanya, berkembang dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat yang berada di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh.
Keberadaan seni Didong melalui syair-syairnya bukan saja berperan sebagai media dan sarana kesenian, lebih dari itu kesenian ini mempunyai peran dan fungsi yang luas dalam dinamika kehidupan sosial. Di antaranya adalah (1) Sebagai media menyalurkan nilai-nilai estetika masyarakat. (2) Sebagai media komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat, antara ulama dan umat dan antara masyarakat dengan masyarakat sendiri. (3) Sebagai media informasi dan penerangan untuk menyampaikan berbagai perkembangan dan program pembangunan, sejarah, pelestarian adat dan budaya serta bencana alam. (4) Syair-syair seni Didong dari isi dan kandungan makna mempunyai konsistensi dan kecenderungan yang tinggi dalam mengkomunikasikan, menyampaikan pesa-pesan keislaman.
Daftar Pustaka
A.A Moenthe, “Didong Kesenian Tradisional Rakyat Gayo Bermula dari Resam Berdemu”, Persada (No. 5698, 1983)
A. Muis, Komunikasi Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001)
Azwar AN, “Dakwah Islam Dalam Nuansa Kebudayaan”, Bakti (No. 26, 1993)
Bachrum Bunyamin, “Dakwah Islam Dalam Nuansa Kebudayaan” Majalah Bakti ( No. 26, 1980)
Burhan Bugin, Sosiologi Komunikasi Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat (Jakarta: Kencana, 2006)
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
George A. Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya terhadap Renaisans Barat, terj. A.Syamsu Rizal, et al., (Jakarta: Serambi, 2005 )
Hamd Hasan Raqith, Merengkuh Cahaya Ilahi Tanggungjawab Menegakkan Pilar-Pilar Dakwah Islam, terj. Ach. Maimun Syamsuddin (Yogyakarta: Diva Press, 1997)
Harun Mat Piah, Puisi Melayu Tradisional (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1989)
Husin, “Metode Dakwah Tarekat Sammaniyah pada Masyarakat Gayo” (Program Pascasarjana IAIN Sumatera Utara, 2003)
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi.Cet.8.(Jakarta:Rineka Cipta, 2002)
LK. Ara ” Syaer Gayo Sastra Bernafas Relegius” Horison (Januari, 1998)
Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modren, (Jakarta: Pustaka Amani, tt)
M. Affan Hasan, et al., (ed), Kesenian Gayo Dan Perkembangannya (Jakarta: Balai Pustaka, 1980).
M.J Melalatoa, “Pesan Budaya dalam Kesenian,” dalam Berita Antropologi (No. XII)
—————–, “Kesenian Didong dalam Perubahan Masyarakat di Gayo”,dalam Renggali, Lembaga Kebudayaan Gayo Alas Jakarta (No. 7)
—————–, Didong Pentas Kreativitas Gayo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-Yayasan Sains Estetika Dan Teknologi-Asosiasi Tradisi Lisan, 2001)
Mohammad Hatta, Citra Dakwah Di Abad Informasi (Medan: Pustaka Widyasarana, 1995)
McQuail dan Windahl dalam Burhan Bugin, Sosiologi Komunikasi Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat (Jakarta: Kencana, 2006)
R.S. Subalidinata, Kesusastraan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1973)
Sali Gobal, Didong, “Denang Gayo” Bintang Pitu Group, Produksi Seribu Satu Production (2003)
Soedjarwo, Bunga-bunga Puisi dan Taman Sastra Kita (Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1993)
Susanne K. Langer, Philosophical Sketchers, dalam The Liang Gie, Filsafat Seni ( Yokyakarta: Publik, 1996 )
Syaikh Madun Rasyid, Hiburan Dan Waktu Luang Antara Kebutuhan Jiwa dan Aturan Syari’at, terj. Abdurrasyad Sidik (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 1999)
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Polemik Seputar Hukum Lagu dan Musik, terj. Abu Umar Basyir (Jakarta: Darul Haq, 1999)
Thantawy R, “Perkembangan dan Pembinaan Kesenian Gayo”, dalam M. Affan Hasan, et al., (ed), Kesenian Gayo Dan Perkembangannya (Jakarta: Balai Pustaka, 1980)
The Liang Gie, Filsafat Seni (Yokyakarta: Publik, 1996 )
Umar Kayam, Seni,Tradisi, Masyarakat (Jakarta: Sinar Harapan, 1981)
 dikutif dari
Kuflet.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar